10 Hal yang perlu Kamu Ketahui tentang Kei

kepulauan kei

Setelah menunggu delapan bulan, perjalanan saya ke Maluku terlaksana awal Mei lalu. Dengan harga tiket pesawat tiga kali lipat lebih murah, saya terbang ke Ambon dengan sumringah. Bersama enam belas orang lainnya, yang salah satunya masih berusia delapan belas bulan.

Begitu mendarat di Bandara Internasional Pattimura dan kehilangan sinyal 3G, belasan muda-mudi dari Jakarta itu heboh mengabadikan momen dengan GoPro Hero 4 Silver sewaan. Salah satu di antara rombongan itu adalah saya. Yang kegirangan karena baru pertama kalinya merasakan zona waktu WIT. Urusan bagasi selesai, kami berbondong-bondong keluar seperti peserta karantina Indonesian Idol.

Team Leader kami, Mameta, sudah memesan mobil untuk menuju Pelabuhan Tulehu—kami akan menyeberang ke Pelabuhan Amahai di Masohi. Ternyata, bukan mobil yang menanti, melainkan bus ¾ abu-abu bertuliskan Damri. Hemat dan praktis karena peserta yang melebihi anggota kesebelasan sepak bola.

Tiga puluh menit kemudian, kami sudah duduk santai di kapal. Namun, bukan itu yang ingin saya ceritakan. Tiga hari kemudian, kami kembali ke Pattimura untuk terbang ke Kepulauan Kei. Masih menumpang maskapai yang sama, perjalanan hampir dua jam terasa begitu singkat. Bahkan, film Before Sunrise yang saya tonton belum tamat. Nah, berikut ini adalah 10 hal penting yang perlu kamu ketahui tentang Kei.

1. Bandara Internasional Karel Satsuitubun

Pagi yang menyilaukan menyambut kami di Kei. Begitu turun dari pesawat ATR 72-600 yang pertama kali saya naiki, kami berfoto ria seperti turis dadakan. Bandara yang terletak di Langgur ini, menggantikan Bandara Dumatubun di Tual yang kini menjadi tempat kegiatan TNI AU, terbilang masih baru dan butuh perbaikan di sana-sini.

Satsuitubun adalah satu-satunya bandara di Kepulauan Kei, yang berada di Pulau Kei Kecil. Mengapa dibangun di Kei Kecil, bukan Kei Besar? Karena kontur Kei Besar yang berupa hutan lebat dan perbukitan tak memungkinkan untuk dijadikan landasan pesawat terbang.

Sayangnya, sarana dan prasarana di sini kurang terawat. Ruang check-in tak dilengkapi pendingin udara, ruang boarding pass pun tak terasa dingin walaupun ada pendingin udara. Dinding-dinding sebagian besar kosong, tak dihiasi promosi wisata ataupun spanduk yang memamerkan pariwisata unggulan di Kei. Toiletnya kotor, tak ada petugas kebersihan dan tisu dan pengharum ruangan, dan kunci pintunya rusak sehingga tak dapat ditutup. Pun begitu, bandara ini merupakan fasilitas yang sangat penting di Kei, yang menghubungkannya dengan dunia luar.

Bandara Internasional Karel Satsuitubun
Bandara Internasional Karel Satsuitubun dengan lukisan perahu tradisional di atapnya
Pesawat ATR 72-600

2. Struktur Wilayah Kepulauan Kei

Kepulauan Kei terdiri atas dua pulau utama, Kei Kecil dan Kei Besar. Keduanya berada di Kabupaten Maluku Tenggara, dengan ibu kota Langgur. Maluku Tenggara memiliki 119 pulau dan 6 kecamatan, yaitu Kei Besar Utara Timur, Kei Besar Selatan, Kei Kecil Barat, Kei Kecil Timur, dan Kei Kecil. Mayoritas penduduknya adalah suku Kei, diikuti oleh Jawa, Bugis, Makassar, dan Buton.

Kepulauan Kei juga disebut Nuhu Evav atau Kepulauan Evav oleh warga setempat. Nama Kei (Kai) merupakan sebutan dari zaman kolonial Hindia Belanda yang bertahan hingga kini. Selain Kei Kecil dan Kei Besar, pulau-pulau besar lainnya adalah Tanimbar Kei, Kei Dulah, Dulah Laut, Kuur, Taam, dan Tayandu. Dalam trip ini kami hanya menjelajahi Kei Kecil (karena di Kei Besar ada John Kei).

Kecamatan Kei Kecil memiliki 21 desa, yang semuanya sulit dilafalkan oleh lidah saya, yaitu Ngabub, Ibra, Sathean, Faan, Langgur, Kolser, Kelanit, Letman, Ohoidertavun, Ohoililir, Ngilngof, Namar, Ngayub, Debut, Rumadian, Dian, Letvuan, Evu, Warwut, Wab, dan Tetoat; serta satu kelurahan, Ohoijang Watdek. Desa-desa itu terbagi lagi atas beberapa dusun dan RT/RW.

3. Transportasi Andalan: Sewa Mobil!

Setibanya di bandara, dua mobil sudah menunggu, Avanza dan angkot. Mengapa tidak menyewa dua Avanza yang nyaman? Ya, supaya tas-tas kami bisa ditaruh di angkot yang lebih lowong. Perebutan mobil pun terjadi. Saya tentunya naik Avanza yang adem.

Di sini tersedia angkutan umum, tetapi rute dan armadanya terbatas. Sebaiknya menyewa mobil karena dapat menjangkau semua tujuan. Harga sewa per hari, termasuk supir, sekitar empat ratus ribu rupiah.

4. Pilihan Akomodasi di Ngurbloat: Villa Monica

Memesan penginapan di Indonesia Timur memang cukup sulit. Jangankan berharap email cepat dibalas, telepon pun jarang aktif. Itulah yang terjadi saat kami mencari penginapan di Ngurbloat atau yang lebih populer disebut Pasir Panjang. Tadinya kami mengincar Coaster Cottage, tetapi karena penuh kami memesan penginapan Mama Tita. Tanpa mengetahui tempatnya seperti apa karena tak ada di Google.

Kami takjub saat tiba di Villa Monica. Bayangan deretan kamar-kamar kecil menguap. Sebuah vila luas dengan lima kamar menyambut kami. Makanan buatan Mama Tita pun sangat lezat dan berlimpah. Kamar mandi hanya dua, tetapi sangat luas dan dapat memuat selusin orang sekaligus.

Bonus utamanya, lima menit jalan kaki dari Villa Monica kita dapat menyaksikan matahari terbenam di Ngurbloat yang terkenal sebagai salah satu pantai dengan pasir putih terhalus di dunia.

Villa Monica
Teman saya, Lolik, menanam anggrek untuk Mama Tita sebagai kenang-kenangan

5. Pantai Pasir Putih Sehalus Bedak

Tak perlu mengarungi lautan berjam-jam atau mengendarai mobil naik-turun tebing untuk menemukan pantai cantik di Kei Kecil. Jalan lima menit dari penginapan, ada Pantai Ngurbloat. Naik mobil lima belas menit, ada Pantai Ngursarnadan.

Favorit saya adalah Pantai Madwaer. Lokasinya lumayan jauh, satu jam lebih dari penginapan. Namun, pasir putih dan barisan nyiur di sini sungguh menggoda. Tadinya kami hendak pesta lobster, tetapi batal karena nelayan tak melaut akibat ombak tinggi. Kami pun beralih pada kelapa hasil panjatan di pinggir pantai, saya makan tiga!

Untuk mengelilingi pulau kecil di sekitar, sewalah perahu. Kami makan siang di sebuah pulau yang dihuni burung camar, yaitu Pulau Nukahai. Pasir putihnya sehalus bedak dan airnya bergradasi dari biru hingga toska. Setelah itu, kami snorkeling di Pulau Ohoieu. Sayangnya, kami batal ke Ngurtafur karena ombak besar. Pertanda bahwa saya akan kembali lagi ke Kei.

Lompat-lompat di Pulau Nukahai
Menjelang senja di Pantai Madwaer
Menjelang senja di Pantai Madwaer
Selfie di Pantai Ngurbloat

6. Wisata Gua dan Bukit

Gua Hawang terletak di Desa Letvuan, sekitar dua puluh menit dari penginapan. Bersiaplah untuk terpukau dengan birunya yang berkilau saat diterpa sinar matahari. Oh, konon menurut kepercayaan masyarakat sekitar, di gua ini terdapat roh jahat yang bergentayangan.

Kami juga berkunjung ke Bukit Masbait yang terkenal sebagai tempat ziarah pemeluk agama Katolik. Dari puncak menara, yang dihiasi patung Yesus, kita dapat menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Bukit ini dapat ditempuh dengan trekking ringan lima belas menit saja.

Selfie di Gua Hawang
Selfie penuh keringat di Gua Hawang
Panorama dari puncak menara di Bukit Masbait
Panorama dari puncak menara di Bukit Masbait

7. Warga Lokal yang Ramah

Salah satu hal penting yang saya sadari saat berkunjung ke Maluku adalah keramahan orang-orangnya. Jujur saja, selama ini saya mengira orang Maluku berwatak keras dan galak, tetapi tidak. Saya selalu bertemu orang-orang yang ramah dan cenderung jenaka. Para orang tua pun tersenyum dan senang saat saya mengajak anak-anak mereka bicara atau bermain.

Devi dari Desa Ngilngof

8. Desa Kristen dan Muslim Terpisah

Seperti wilayah lainnya di Maluku, warga beragama Kristen dan Islam di Kei juga tinggal di desa-desa yang terpisah. Akan tetapi, tidak terlalu mencolok seperti di Ambon. Saya agak terkejut saat melihat deretan tiang salib yang tertancap di pinggir jalan di Ambon, yang menandakan wilayah Kristen. Hiasan salib juga bergantungan di depan rumah.

Di Kei Kecil, saya hanya melihat taman-taman yang dihiasi patung Yesus atau salib di dekat pintu masuk setiap desa. Sementara itu, desa Muslim biasanya hanya ditandai dengan adanya masjid.

9. Listrik Terbatas

Begitu sampai di penginapan, saya langsung minta es batu karena kegerahan. Ternyata, pagi itu listrik mati dan beberapa jam kemudian menyala, lalu mati lagi, hidup lagi. Di sepanjang jalan di Kei Kecil juga tidak terdapat tiang lampu. Gelap gulita. Hanya ada cahaya dari rumah-rumah dan toko.

Malamnya kami ingin nongkrong di Jembatan Watdek, penghubung Kei Kecil dan Pulau Dullah di Tual, tetapi urung karena terlalu gelap dan membuat kami ingin membawa kasur. Begitulah kondisi kota-kota di Indonesia Timur, tak perlu heran dan dinikmati saja. Kapan lagi bisa terbebas dari polusi cahaya seperti di kota besar.

10. Jangan Lupakan Oleh-oleh Enbal dan Kacang Botol

Saat mengunjungi pusat oleh-oleh di Tual pada malam terakhir, ada dua toko yang buka. Di toko pertama saya membeli enbal, kudapan khas Kei yang terbuat dari singkong dan menjadi teman minum kopi atau pengganti nasi jika dimakan dengan masakan kuah ikan. Warnanya putih keruh dan berbentuk persegi panjang. Rasanya unik, agak asam dan hambar. Saya juga membeli enbal yang bertabur kacang, rasanya lebih manis dan bisa langsung dimakan tanpa membuat kopi dahulu.

Di toko seberang terlihat botol-botol hijau, antara botol bir atau kecap, yang bersusun di meja depan. Itu adalah kacang botol, kacang goreng yang dikemas dalam botol bekas, entah bekas bir, kecap, ataupun sirup. Sungguh kreatif, selain ramah lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas, biaya produksi tentu lebih hemat.

Jangan takut kelebihan bagasi, kacang botol juga dijual dalam kemasan plastik, tetapi tak berganti nama menjadi kacang plastik. Jadi, jangan heran apabila melihat orang menenggak bir di pinggir jalan di Tual. Mungkin mereka sedang makan kacang.

Enbal, kudapan khas Kei
Enbal polos dan bertabur kacang

Tiga hari memang terlalu singkat untuk menjelajahi Kei Kecil, masih begitu banyak tempat yang ingin dituju. Namun, tiga hari cukup membuat saya jatuh hati kepada Kei, kepada tanah kering dan barisan nyiur di pinggir pantai, kepada anak-anak yang selalu tersenyum tulus, membuat saya menemukan satu lagi tempat persinggahan yang akan saya datangi di kemudian hari.

Sampai bertemu lagi di Kei!

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog dan meraih Juara Harapan.

70 Comment

  1. Apaaa.. Makan kelapa habis 3? :/

    1. iya, muda banget dan manis, kayak makan jelly. ?

  2. Rullah says: Reply

    Listrik terbatas, wah sama kayak di kampungku :-)

    1. wah, emang kampungnya di mana? :)

  3. Fahmi says: Reply

    aku lemah sama kata – kata pasir pantai sehalus tepung~ mau kesitu juga dong 😀

    1. sehalus bedak aja, biar bisa dipake di muka. *eh* 😛

  4. baca nama tempat2 di sana, ga ngerasa kyk nama tempat2 di Indonesia :D… Dan baru kali ini aku dgr nama daerah Kei 😀 *Malu…

    seru bgt bisa prgi bareng2 gitu Ki… ama temen kantor ya? sekainya prgi ama kantor, nth kenapa tempat2 yg slalu mau mrk dtgin pasti yg udh mainstream bgt-bgt -_-.. Ga ada yg kepengin ke tempat kayak Maluku gini… Emg hrs berdua/bertiga bareng suami dan anak 😀

    1. Kepulauan Kei ini memang jauh ke timur banget, deketan sama Papua. tapi wajib dikunjungi, indah banget dan orangnya baik-baik.
      ini pergi sama temen jalan dan banyak yg ikutan belum kenal sebelumnya karena diajak sama temen yg lain, tapi seru-seru orangnya! :)

  5. Menyenangkan sekali melihat pemandangannya yang indah Mbak, semoga saya bisa ke sana juga. Salam kenal ya :-)

    1. salam kenal juga. :)

      senang rasanya kalau bisa membuat orang lain terinspirasi, memang gak rugi deh ke Kei. :)

  6. Aaahhhh keren sekali foto-fotonya. Jadi pengen ke sana. Nyobain menghirup udara di sana sedalam-dalamnya.

    1. iya, semoga bisa menyusul ke Kei, ya. indah dan damai banget di sana. :)

  7. Mumun says: Reply

    Hrr… kepulauan ini ga ada habisnya kalo dijelajahi. Lu di sana 3 hari aja ga cukup, apalagi gue yang cuman 2 hari ya?

    1. iya, ini aja baru Kei Keil, belum ke Kei Besar. kudu wajib mesti balik lagi. :)

  8. CAKEP BEB!

    tapi kamuna combong, hih!

    1. makasih, beb.

      oleh-oleh dulu, dong! 😛

  9. Setelah mbaca ini saya jadi semangat lagi buat nabung untuk bisa singgah ke Maluku. Tulisan yang menarik dan menggugah rasa penasaran. 😀

    1. terima kasih, semoga bisa segera menyusul ke Maluku, ya. :)

  10. Oppie says: Reply

    Salam kenal,
    Sebagai orang Kei(Kei Besar) sangat bangga dan terima kasih sekali sudah mau datang di Kei dan dipajang di bloknya. Kunjungi juga Kei Besar ya? Kami menunggu. Sekali lagi…terima kasih ya?

    1. salam kenal juga!

      saya juga senang bisa berkunjung ke Kei, sayangnya cuma sebentar, berikutnya pasti akan datang ke Kei Besar. :)

  11. Wihhh cakep sangat kakkk

    1. iyaaaa, itu foto-foto baru teaser-nya aja, hahaha.

  12. Surya Labetubun says: Reply

    Itu kampung saya belom disebut itu.. Kampung Elaar di Kei Kecil..?? kampung tempat pencetusannya hukum adat di Kepulauan Kei.. Its named Larvul Ngabal..

    1. wah, terima kasih informasinya. waktu itu lewat kampung elaar sepertinya cuma gak keliling. semoga bisa ke sana lagi. ?

  13. Hale says: Reply

    Keren kak tulisannya, jadi pengen kesana..

    Btw, penginapan monica ini ada nomor telponnya kah?

    Kalau penginapan yang lain selain penginapan monica ada apa aja ya kak?

    Thank youu

    1. halo,
      makasih, ya, udah baca. untuk Penginapan Monica bisa hubungi Mama Tita di 0823-9825-7759.penginapan lain bisa cek Coaster Cottages, tapi saya gak punya kontaknya. semoga cukup membantu. :)

  14. Mawar says: Reply

    Tulisan Yuki lumayan membantu untuk berlibur ke Langgur. sangat sulit menemukan info wisata di kepualauan Kei ini.
    Saya berencana ke Langgur bulan Oktober 2015, jika boleh saya mau tanya lebih banyak soal langgur tetapi langsung via email Yuki.

    Terima kasih atas balasannya.

    1. boleh, senang kalau bisa membantu.
      email aja ke myhelterskelter@gmail.com, ya. ?

  15. baciru says: Reply

    Ulasannya bagus, dan inspiratif…. minggu ini juga kami lgsung siap2 rencanakan ke Kei

    1. terima kasih, semoga tripnya lancar dan seruuu! :)

  16. Dessy says: Reply

    Hai, boleh minta itenary kamu dan harga2 penginapan, sewa mobil maupun sewa kapal?

    Thankss!

    1. hai dessy,
      boleh email aja dulu ke myhelterskelter@gmail.com, ya. ?

      1. vey says: Reply

        Klu sewa perahunya ke siapakah? Ada kontaknya?
        Thanks

        1. waktu itu saya sewa perahu minta kontaknya dari penginapan. :)

  17. […] hanya Ngurbloat yang ketenarannya melejit hingga ke luar negeri, masih ada pantai-pantai lain di Kei Kecil yang akan membuat mata […]

  18. widi says: Reply

    Hii Yukii…rencana saya akan ke Kei bulan November.
    Boleh nanya2 semuanya ke Yuki via email di atas kah? tq yaa :)

    1. halo widi, boleh boleh silakan aja email ke myhelterskelter@gmail.com, ya. ditunggu. ?

  19. ainun says: Reply

    Nice info kaka :)
    semoga bisa segera kesana

    1. amiiin, ditunggu cerita serunya di sanaaaa. ?

  20. Arifin says: Reply

    Haiii kaak yuki

    Salam kenal ya…Kereeeen ulasan tentang kepulauan kei nya ka..indaah bangeet ya pemandangannya…saya ada rencana thn depan kesana..boleh tanya2 ttg penginapan, sewa perahu dll nya kak yuki? Lewat email kakak?

    Terima kasih ya

    1. boleh, silakan email aja, ya. ?

  21. […] semakin menuju Timur dengan terbang ke Maluku, tepatnya ke Ambon, Desa Sawai di Pulau Seram, dan Pulau Kei Kecil. Sungguh, perjalanan berdelapan belas yang menghebohkan, kami sangat terpesona dengan keindahan […]

  22. tita Ohoitimur says: Reply

    Kak Yuki no HP mama Tita dah gnti baru. Jdi hub mama Tita d 081248814023. Mksi bnyk tuk promonya.

  23. tita Ohoitimur says: Reply

    Kk Yuki no HP-nya 4 digit d blkg tuh kbalik. Seharus 081248812043. Mhon maaf utk kekeliruan ini. Kpan balik k Kei ? Villa Monica menanti.

    1. oke, makasih Mama Tita, nanti saya ganti nomornya.
      iya, mau sekali balik ke Kei, semoga tahun ini bisa ke sana lagi, ya. ?

    2. Yoga says: Reply

      sewa mobil di kei berapa? minta contact nya ya

      1. halo Yoga,
        waktu itu kalau enggak salah sekitar 400 ribu, dengan Mas Ari di 085344700300. :)

  24. Noted mba, tulisannya informatif sekali. Sangat bermanfaat buat traveler yg ingin ke sana..Indah banget ya Kei, semoga bisa kesampaian kesana..thanks mba dan salam kenal :)

    1. halo, salam kenal juga.
      amin amin, semoga bisa segera menyusul ke Kei, ya. dijamin bakal terpukau. :)

  25. emil sirken says: Reply

    Kreen…
    Terima kasih sudah memperkenalkan kei.
    Salam hormat

    1. halo,
      terima kasih juga sudah mampir ke sini. salam kenal. :)

  26. Silfester Rettob says: Reply

    hello! saya sangat tertarik dengan blognya, cara penyampaiannya lugas dan cukup lengkap. kebetulan ini kampung halaman saya dan sedikir rekomendasi, jangan lupa juga kalau ke Kei bisa mampir ke pantai Ngur sardaan, (ohoililir) persis sebelum desa ngilngof dan juga ke Pulau Bair (raja ampatnya kei) untuk gambar lebihnya bisa dicek di IG saya @yongkirettob. wiil see you there :))

    1. halo mas, terima kasih sudah mampir ke blog ini dan memberikan komentar.
      kalau ke Ngursarnadan saya juga sudah pernah, artikelnya di sini: http://ohelterskelter.com/4-pantai-terindah-di-pulau-kei-kecil/
      nah, ke Pulau Bair sayangnya belum sempat, semoga bisa segera kembali ke Kei lagi. :)

  27. Hari harhar says: Reply

    Nanya dooong.. Berapa kali naik pesawat kalo dari Jkt Sist?.

    1. halo Hari,
      dari Jakarta terbang ke Ambon, nah dari Ambon tinggal terbang ke Kei Kecil. :)

  28. putiarsa says: Reply

    Halo slaam kenal..
    menarik sekali mambaca artikelnya.. kebetulan tahun depan saya ada rencana mo liburan kesana.. btw mau nanya.. kalo disana banyak nyamuk ga? kemudian hasil fotonya bagus bagus bangett.. boleh share pake kamera apa?

    Terima kasih

    1. halo Putiarsa,
      makasiiih, udah mampir ke blog ini.
      kebetulan aku tinggalnya di homestay rumahan gitu yang nyaman banget, dan jendelanya banyak terbuka tapi seingatku enggak ada nyamuk, sih.

      kalau kamera waktu itu aku pakai Canon 5D Mark ii. :)

  29. […] 10 Hal yang perlu Kamu Ketahui tentang Kei […]

  30. herry resubun says: Reply

    Kereen..ayah saya asli dari ngilngof tapi saya ke ngilngof baru 1 kali waktu SD kelas 1..thanks buat tulisan dan foto2nya yak..jadi makin tahu ttg tanah leluhur..semoga ada kesempatan utk ke sana nanti.

    1. iya, sama-sama. semoga bisa segera kesampaian pulang ke kampung orang tuanya, ya.
      saya senang banget bisa tinggal dan keliling Ngilngof. :)

  31. Inne says: Reply

    Wow .. Terima kasih infonya.. Sy dan beberapa teman rencana ke Kei akhir Juni 2017.
    Udh gak sabarrrr untuk konsumsi vitamin sea.
    Dari photo2nya CetaRrrr bgt pantai2nya ❤❤❤

    1. halo, Inne.
      wah, serunya bisa ke Kei, saya aja pengin balik lagi dan eksplor semuanya. semoga jadi perjalanan berkesan yang menyenangkan, ya. :)

  32. […] terakhir di Kei Kecil. Kami pun mengunjungi pusat oleh-oleh di Tual. Di toko pertama saya membeli enbal, kudapan khas Kei yang terbuat dari singkong dan menjadi teman minum kopi atau pengganti nasi jika […]

  33. wah terimakasih untuk infonya,pantainya bagusss

    1. iya, sama-sama, Irma. semoga bisa menyusul ke Kei, ya. :)

  34. Ray says: Reply

    Wow, good article, seru bacanya plus diisi dengan photo yang bagus focus dan subjectnya cantik :P, oiya pakai kamera / lens apa? mau nanya sewa perahu disana mahal ga sih? search di google banyak yang bilang mahal dan itu bikin urung niat kesana… Salam kenal Ray…kalo mau trip ajak2 biar ada temen. :)

    1. halo Ray, terima kasih udah mampir ke blog ini.
      kebetulan waktu itu pakai Canon 5D Mark II lensa wide 17-40 mm.
      waktu pergi ke sana tahun 2015, sih, sewa perahu sehari sekitar 1 juta untuk hopping island, tapi bisa muat sampai 12 orang satu perahunya. jadi bisa murahlah kalau patungan ramai-ramai. :)

  35. ANDREW says: Reply

    WOW.. Pasir putih seja=halus tepung bikin mupeng,,hhe.. Halo, blog’nya sangat informatif sekali. Oh ya, kebetulan ada mau ke Kei minggu depan, mau naya,, kalau mau ke Kei Besar aksesnya bagaimana ya? Apakah harus sewa speed? Dan perjalanannya berapa jam? Terimakasih & Salam Mnaise dari Ambon :)

    1. halo Andre,
      kebetulan saya cuma ke Kei Kecil, enggak sampai main ke Kei Besar. cuma setahu saya harus naik kapal sih untuk ke sana. :)

  36. ANDRE says: Reply

    WOW.. Pasir putih sehalus tepung bikin mupeng,,hhe.. Halo, blog’nya sangat informatif sekali. Oh ya, kebetulan ada mau ke Kei minggu depan, mau naya,, kalau mau ke Kei Besar aksesnya bagaimana ya? Apakah harus sewa speed? Dan perjalanannya berapa jam? Terimakasih & Salam Maise dari Ambon :)

Leave a Reply

3 × three =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>