Saya adalah penggemar scarf, atau yang disebut syal atau selendang dalam bahasa Indonesia. Alasannya simpel, scarf mudah digunakan dan cocok untuk segala suasana. Apalagi untuk traveling. Rasa-rasanya saya tak pernah ketinggalan membawa scarf saat bertualang, entah nantinya dikombinasikan dengan busana atau sekadar penghangat di pesawat.

Jika bermain di pantai, scarf banyak gunanya. Bisa sebagai bandana, sebagai selendang pelindung dari sinar matahari, ataupun pembungkus tubuh setelah berenang. Scarf pun menjadi salah satu fashion item yang terus berkembang, baik dari bentuk (ada yang persegi, persegi panjang, dan segitiga), gaya, dan motif. Berbagai merek fashion selalu menyertakan scarf dalam gaya busana musimannya.

H&M, misalnya, saat ini sedang meluncurkan berbagai scarf bertema Coachella. Sebuah perhelatan musik akbar di California yang identik dengan gaya bohemian dan tribal, yang selalu menjadi inspirasi fashion dunia.

Kemunculan scarf tak terlepas dari peran ratu yang memerintah Mesir ribuan tahun silam. Pada tahun 1350 SM, Ratu Nefertiti terlihat mengenakan sebuah scarf di atas hiasan kepalanya yang berbentuk kerucut. Bertahun-tahun kemudian, prajurit kekaisaran Tiongkok mengenakan scarf sebagai penanda status militer. Kaisar Nero juga selalu mengenakan scarf di leher, yang pada masanya disebut sudarium atau “sweat cloth.”

Dalam dunia fashion, Hermès meluncurkan scarf sutra bermotif pada tahun 1837. Burberry kemudian menyusul dengan scarf bermotif kotak-kotaknya yang khas pada tahun 1856. Pada masa Ratu Victoria, penggunaan scarf bahkan dikaitkan dengan strata sosial masyarakat. Betapa, ketika itu hanya kaum kelas atas yang dapat mengenakan scarf sutra nan mahal.

Ketika era kebudayaan populer muncul, sekitar tahun 1970, penggunaan scarf menjadi semakin kreatif. Digunakan sebagai bandana dan diikat menjadi kemben.

Kini, dengan semakin berkembangnya kreativitas desainer lokal, scarf berbagai bahan dan motif bermunculan. Beberapa waktu lalu, Chitra Subiyakto, seorang penata gaya terkenal di Indonesia yang juga pernah terlibat dalam sejumlah film, meluncurkan merek kain terbarunya, yang terinspirasi dari kain-kain tradisional, dengan nama Sejauh Mata Memandang.



Pertama kali melihat kain-kain rancangannya, batik dengan motif uniknya, saya langsung jatuh hati. Dan, saya terpana pada scarf-nya yang diberi nama “Ayam di Taman”. Saya sempat membahasnya dengan Vira dan Maesy saat kumpul-kumpul di apartemen mereka beberapa bulan lalu, tetapi masih ragu untuk membelinya.

scarf sejauh mata memandang

Dan baru-baru ini, saya melihat Dian Sastro mengenakannya dalam trailer AADC 2. Saya kemudian, entah terpengaruh atau tidak, langsung membelinya secara online. Saya senang mendapat koleksi scarf baru yang bernuansa tradisional, motifnya juga mengingatkan pada ayam di mangkuk bakmi.




Pertama menyentuh scarf ini, saya agak bingung karena warnanya terlihat lebih tua dari yang terpacak di Instagram–ternyata, jawabannya efek filter. Saya kira bahannya juga agak tebal. Bahan Cotton Sari, seperti yang tertulis di lamannya, memiliki tekstur yang halus dan tipis. Tapi, karena itulah scarf ini menjadi lebih fleksibel dan bisa dikenakan dengan berbagai cara.

Nah, berikut ini 6 gaya mengenakan scarf Sejauh Mata Memandang yang bisa diaplikasikan untuk sehari-hari.

1. Dian Sastro Style

Gaya ini sangat simpel. Scarf cukup disampirkan di bahu, dan menimbulkan kesan kasual. Cocok dikenakan sehari-hari dengan kaus ataupun kemeja. Yang perlu diperhatikan adalah, scarf ini memiliki motif yang cukup ramai dan berwarna, jadi sebaiknya dikombinasikan dengan atasan polos.

2. Classic French Girl Style

Gaya ini sangat Parisian. Biasanya dikenakan di balik kemeja ataupun dengan atasan Breton—atasan bergaris-garis ala pelaut. Ini adalah salah satu gaya favorit saya. Supaya lebih terkesan Parisian, segitiga di depannya bisa diperkecil dengan menariknya ke belakang leher.

scarf sejauh mata memandang

3. Classic Rich Girl Style

Ini sering dijadikan gaya andalan wanita zaman dahulu pada saat musim gugur, biasanya dikenakan dengan atasan sweter wol. Fungsinya sebagai penghangat leher sekaligus penambah gaya. Menurut saya, gaya ini mengingatkan pada pramugari beberapa maskapai, Korean Air misalnya.

4. Hijab Style

Hampir serupa dengan gaya pertama, bedanya ujung scarf disampirkan ke belakang bahu, seperti saat memakai hijab atau jilbab. Gaya ini terkesan lebih rapi dan formal daripada gaya pertama.

scarf sejauh mata memandang

5. Side Knot Style

Gaya ini saya temukan secara kebetulan ketika mencoba-coba. Sampirkan scarf seperti biasa ke depan, geser sedikit ke bahu kanan, lalu ikat dan biarkan ujungnya menjuntai. Ini menciptakan kesan yang unik dan bisa menjadi signature style karena beda daripada yang lain.

6. Head Band Style

Sebenarnya, masih ada banyak gaya untuk mengenakan scarf di kepala, misalnya diikatkan ke rambut cepol ataupun dikepang ke rambut untuk gaya bohemian. Tapi, gaya bandana ini paling praktis dan bisa dikenakan kapan saja, apalagi saat traveling. Bisa dikenakan saat bersantai di pantai ataupun jalan-jalan di tengah kota. Tambahkan kacamata hitam dan kita siap menjadi pusat perhatian!

scarf sejauh mata memandang

Foto-foto di atas diambil di sebuah kedai kopi baru favorit saya dan Tama. Kroma namanya. Kedai mungil minimalis dan serba putih ini sangat nyaman untuk santai pagi ataupun sore, bikin betah berlama-lama sambil baca buku dan mendengarkan playlist yang adem, dengan kopi dan camilan lasagna yang nikmat. Apalagi, dari pukul delapan pagi hingga dua sore semua minuman diskon 25%, dan setiap Senin gratis Americano. Kedai idaman banget ini!

scarf sejauh mata memandang

kroma

kroma

scarf sejauh mata memandang

kroma

 

scarf sejauh mata memandang
Happy Sunday!

 

Scarf: Sejauh Mata Memandang – T-shirt: Stradivarius -Skirt: Zara – Sneakers: Adidas

Photos: @tamagraph

Location: Kroma