Chiang Mai. Pada akhir abad ketiga belas ia terkenal sebagai ibu kota Kerajaan Lanna, yang berarti kerajaan dari jutaan sawah. Sebagai wilayah yang memiliki tanah subur dan sungai yang membentang, Chiang Mai menjadi rebutan negara tetangga karena merupakan pusat perdagangan antara Tiongkok Selatan dan Burma. Tak heran, kerajaan yang menguasai wilayah Siam (kini Thailand), Burma (kini Myanmar), Laos, dan Tiogkok ini kemudian berpindah-pindah tangan dari Siam dan Burma selama dua ratus tahun.

Barulah pada 1892, Kerajaan Lanna yang dibangun oleh Raja Mengrai pada 1296, dimasukkan dalam wilayah Siam, mungkin semacam balas budi karena mendapat bantuan mengusir Burma pada 1774. Perjalanan Chiang Mai memang panjang. Pada 1932 ia kemudian diresmikan sebagai provinsi negara Siam, yang kemudian berganti nama menjadi Thailand pada 1949.

Saya dan kawan-kawan yang ikut serta dalam Women’s Journey yang disponsori Tourism Authority of Thailand diajak main ke Chiang Mai pada hari ketiga, setelah kami lumayan puas berwisata kuliner di Bangkok. Transportasi utama menuju Chiang Mai adalah melalu udara, dengan lama perjalanan sekitar satu jam.

Tak butuh lama bagi Chiang Mai untuk dinobatkan menjadi destinasi favorit saya di Thailand.



Alam yang indah dan menghijau, kuliner lezat, suasana yang ramai namun menyenangkan, dan kota tua yang kaya sejarah.

Dan bagi yang cuma punya waktu satu hari di Chiang Mai, berikut ini 5 aktivitas yang saya rekomendasikan bisa dicoba, mulai dari yang menantang adrenalin sampai yang menguras kantong. Yuk, disimak.

1. Menengok Gajah di Maesa Elephant Camp & Center

ohelterskelter.com chiang mai
Gajah tua diberi pakan rumput yang dihaluskan

Hujan turun dengan derasnya saat kami tiba di sini, setelah satu jam perjalanan dari pusat Kota Chiang Mai. Ada banyak objek wisata gajah di sepanjang jalan di Mae Rim District ini, Maesa salah satu yang terbesar. Awalnya kami enggan ke sini karena diajak menaiki gajah–saya tak terlalu sepakat dengan industri yang melibatkan hewan, untunglah penolakan kami diterima Khun Lek, pemandu kami yang baik hati dan doyan makan, yang telah susah payah menyusun jadwal perjalanan kami.

Akhirnya kami berkeliling untuk melihat anak gajah yang ada, lalu menyaksikan pertunjukan (seperti biasa, melihat gajah bermain bola dan melukis), dan berfoto dengan gajah. Namun, yang paling menarik adalah saat kami menengok Care Center-nya, yang berjarak sepuluh menit dengan mobil (Maesa punya area yang luas banget!).

ohelterskelter.com chiang mai
Gajah bermain dengan pawangnya
ohelterskelter.com chiang mai
Area Care Center yang asri
ohelterskelter.com chiang mai
Kuburan gajah ada nisannya juga!
ohelterskelter.com chiang mai
Yuk, ketemu Boon Choo!

Care Center adalah pusat perawatan bagi gajah yang sudah pensiun, yang usianya sudah melebihi masa produktif. Di sinilah saya menemukan bahwa Maesa memiliki pawang (mahout) yang melebihi jumlah gajah yang ada, yaitu 79 ekor. Dengan demikian, tiap gajah memiliki lebih dari satu pawang yang menangani kebutuhan mereka. Tak hanya itu, dokter hewan dan ahli gizi turut memantau kesehatan gajah.

Uniknya lagi, di sini terdapat fasilitas pemakaman gajah. Hal yang tak pernah terpikirkan selama ini, ke mana gajah dikubur setelah meninggal. Bagaimana dengan gadingnya, apa ikut dikubur? Tidak, demi alasan keamanan agar tidak memancing pencuri untuk membongkar kuburan. Sambil bersantai di pondok bambu, menunggu hujan reda, saya dan kawan-kawan mendengarkan penjelasan pemilik Maesa. Saya pun terbayang Boon Choo, gajah tertua di Maesa yang berumur 91 tahun yang saya temui tadi.

2. Gelantungan di Pongyang Zipline & Jungle Coaster

ohelterskelter.com chiang mai
Siapa berani?

Dari Maesa, kami melanjutkan perjalanan untuk menantang adrenalin alias main gelantungan di pohon. Pongyang nama tempatnya. Aktivitas yang paling seru di sini adalah main zipline dan kami mencoba paket paling lengkap, yang berisi 34 kali aktivitas meluncur di tali, lompat ke bawah dengan tali, dan berpindah-pindah dari satu ke pohon lainnya sampai lelah. Zipline terpanjang mencapai 800 meter!

Nah, apabila mengambil paket lengkap, kita akan diberi kaos oranye yang bisa dipakai saat bermain. Ya, supaya baju kita tak basah oleh keringat. Perlengkapan keselamatan di sini tak diragukan lagi, sayangnya helm agak bau karena dipakai berulang kali dan mungkin langsung disimpan.

Setelah zipline, jangan lupa juga mencoba Jungle Coaster, semacam wahana halilintar di mana kita meluncur sendiri dengan kereta dorong kecil. Ini seru banget karena kitalah yang mengendalikan lajunya. Untuk lengkapnya bisa cek laman Pongyang dan simak juga video keseruan dari Sharon dan Patty.

ohelterskelter.com chiang mai
Serunya naik coaster sendiri!
ohelterskelter.com chiang mai
Terminal Jungle Coaster
ohelterskelter.com chiang mai
Mau main apa?
ohelterskelter.com chiang mai
Persiapan sebelum gelantungan

3. Minum Teh Sore-sore di Vieng Joom On Teahouse

chiang mai
Seseruan minum teh

Sebagai kota yang banyak dikunjungi oleh orang asing semenjak lama, tak heran apabila terjadi akulturasi di Chiang Mai. Salah satu yang menonjol adalah budaya minum teh ala borjuis. Nah, minum teh sore-sore seperti orang Inggris asyiknya dicoba di Vieng Joom On Teahouse. Kedai teh cantik bernuansa shabby chic ini berada di tepi sungai, kalau cuaca cerah, pilihlah meja di luar.

Lalu, apa yang harus dicoba di sini? Banyak sekali. Untuk Blended Tea, bisa dicoba beragam varian dari Green Tea, White Tea, Black Tea, Natural Tea, Rooibos Tea, Fruit Tea, dan Dried Flower Tea. Untuk teh klasiknya jangan lupa memesan Vieng Joom On Tea yang merupakan paduan teh hitam, teh putih, mahkota mawar, cengkih, jahe, dan lain-lain. Rasanya sungguh menenangkan.

chiang mai
Kudapan manis
chiang mai
Teh hitam pilihan saya
chiang mai
Dandan demi ngeteh cantik…

Pesan pula teh yang disajikan ala frappe–saya pesan Irish Coffee–dan kue-kue di sini, paling enak kue rasa Thai Tea. Sebelum memesan, pramusaji akan membawakan keranjang berisi tiap jenis teh yang tersedia, jadi kita boleh mencium dahulu aromanya. Ah, sore yang sepoi-sepoi dan teh hangat serta camilan manis, rasanya betah berlama-lama sambil berkumpul dengan kawan-kawan.

Jangan lewatkan juga, setelah kembung minum teh, mampirlah ke bagian depan kedai yang memajang berbagai suvenir dan aksesori minum teh, banyak barang yang unik dan cocok dijadikan koleksi atau oleh-oleh.

4. Berziarah ke Wat Phra That Doi Suthep

ohelterskelter.com chiang mai
Pagoda emas

Berada di Gunung Doi Suthep, ada cerita di balik pembangunan kuil di titik tertinggi Chiang Mai ini. Menurut penuturan Khun Lek, pemandu kami yang sudah seperti kawan sendiri, seorang biksu bernama Sumanathera mendapat mimpi untuk mencari sebuah relik, yang berupa tulang bahu dan dipercaya merupakan tulang Siddharta Gautama. Raja Lanna saat itu, Nu Naone, meminta Sumanathera membawa relik itu ke Lamphun di Thailand Utara.

Setibanya di tujuan, relik itu terbelah dua; satunya ditempatkan di kuil di Suandok, satunya ditaruh di punggung seekor gajah putih oleh sang Raja. Gajah putih itu kemudian berjalan menembus hutan dan mendaki hingga Gunung Doi Suthep (dulu bernama Doi Aoy Chang). Sang gajah berputar tiga kali, berlutut, lantas mati. Raja pun memerintahkan dibangun kuil di sana untuk memperingatinya. Kini patung gajah putih dapat dilihat di area samping kuil.

ohelterskelter.com chiang mai
Kuil tersaput kabut
ohelterskelter.com chiang mai
Umat sedang berdoa
ohelterskelter.com chiang mai
Biksu di Doi Suthep

Ada 309 anak tangga yang harus dinaiki mencapi pagoda. Namun saat tiba pukul tujuh malam lebih, demi mengejar rencana berikutnya, Khun Lek mengajak naik kereta gantung agar bisa langsung meluncur ke atas. Begitu melangkah dan hampir terpeleset di lantai keramik yang basah akibat hujan, saya terpukau dengan cahaya keemasan di langit–bahkan sudah terlihat saat masih di kaki gunung.

Cahaya keemasan itu berpendar di antara saputan kabut dan gelapnya malam. Sungguh magis! Cahaya itu tercipta dari pantulan lampu yang menyorot pagoda yang kuning emas, ciri khas kuil di Thailand. Sambil mengamati biksu berjubah kuning, saya mengitari pagoda penuh kagum. Walaupun gagal melihat panorama Chiang Mai dari ketinggian karena kabut tebal, puas rasanya menemukan nuansa yang berbeda di sini. Jadi, cobalah datang pada malam hari!

5. Belanja dan Jajan di Saturday Night Market

ohelterskelter chiang mai
Sepatu bordiran, kreatif!

Thailand memang terkenal dengan pasar malamnya yang murah meriah dan penuh jajanan nikmat. Itu pula yang kami incar saat singgah di pasar malam di Wualai Walking Street. Sebenarnya ada dua lagi pasar malam yang mesti dikunjungi, Chiang Mai Night Bazaar dan Sunday Market di Ratchadamonoen Road.

Wualai Walking Street terkenal dengan kerajinan peraknya, tapi karena kemalaman dan gerimis, aksi belanja jadi kurang maksimal. Kami mengisi perut dahulu ke area jajanan, memesan Khao Soi Gai, mi kari khas Chiang Mai, dan tentunya Pad Thai. Entah kenapa, makanan kaki lima di Thailand enak semua. Jam sepuluh barulah kami sadar harus cepat-cepat belanja karena beberapa pedagang sudah membereskan barangnya.

ohelterskelter chiang mai
Penjual aksesori yang beredar di pasar malam
ohelterskelter chiang mai
Patty dan Sharon yang hobi jajan
ohelterskelter.com chiang mai
Mi kari dengan taburan mi garing dan ayam
ohelterskelter.com chiang mai
Pad Thai dengan potongan tahu putih, ayam, dan udang

Jadilah kami lima perempuan ngebut jalan sambil lirik kanan-kiri, beli ini dan itu dengan impulsif dan seragam. Kami membeli terusan khas Chiang Mai, juga rantang warna-warni, dan sebagainya. Plastik belanjaan pun kemudian berpindah ke kepala untuk menghalau hujan. Di saat mendesak begini, kami malah makim obsesif. Untunglah saya tidak kalap.

Harga di pasar ini termasuk murah meriah dan banyak sekali yang menggoda mata, jadi waspadalah jangan sampai kantong jebol juga ujung-ujungnya!

ohelterskelter.com chiang mai
Rombongan rusuh!