Tentang Blind Judo Indonesia untuk Asian Para Games 2018

“Ayam! Ayaaammm!!!”

Teriak seorang pria bertubuh liat saat bangkit dari alat yang menyangga barbel puluhan kilogram. Peluh luruh membasahi kaus putihnya yang kecokelatan–menjiplak warna kulitnya.

Ia adalah Muhammad Ilham, satu dari sembilan atlet Blind Judo Indonesia yang sedang mengikuti latihan besi di pusat kebugaran di The Alana Hotel Solo. Latihan besi dilakukan tiap sore, sementara latihan teknik dilakukan pagi harinya.

Judo merupakan seni bela diri asal Jepang yang berakar dari Jujitsu.

Judo pertama kali ditampilkan pada olimpiade 1964 dan diciptakan oleh Kano Jigoro (1860-1938), seorang putra pembuat sake dari Higashinada-ku, Kobe. Ia mendirikan Dojo (tempat latihan Judo) pertama di Tokyo pada 1882, dengan nama Kodokan Dojo dan hanya beranggotakan sembilan orang. Ia kemudian juga berjasa memasukkan Judo, juga Kendo, ke dalam kurikulum pendidikan Jepang pada tahun 1910 karena sempat menjabat sebagai direktur di kementerian pendidikan.

“Efisiensi maksimum dengan usaha minimum,” itulah kira-kira pegangan Kano Jigoro saat menemukan Judo. Yang ia dapatkan setelah bertahun-tahun mendalami Tenjin Shin’yō-ryū, salah satu aliran kuno Jujitsu, dan berganti dari satu guru ke guru lain demi penyempurnaan ilmu. Dengan tinggi badan 157 sentimeter dan berat 41 kilogram, Jigoro menyadari kebutuhannya terhadap bela diri yang mengakomodasi postur mungilnya.

ohelterskelter.com blind judo indonesia
Timnas Judo saat berlatih di tempat latihan milik Mba Endang.

Judo adalah jawabannya. Dengan teknik utama bertahan dan menyerang, melalui berbagai jurus bantingan dan kuncian, Judo memanfaatkan kekuatan dan fisik lawan sebagai bahan bakar serangan. Tak heran, apabila menyaksikan pertandingan Judo, kita dapat melihat seorang pria mungil membanting dan mengalahkan pria yang lebih tinggi dan besar. Karena itu pula, Judo dianggap seni bela diri yang cocok bagi perempuan–yang dianggap bertubuh lebih kecil daripada pria.

Itu pula yang membuat saya sempat tertarik pada bela diri banting-membanting ini, ditambah sedikit romansa bacaan komik tentang Judo semasa SMP.

Puluhan tahun kemudian, saya memutuskan meliput kawan-kawan Timnas Blind Judo Indonesia di Solo. Yang berkumpul sejak Bulan Januari di Pelatnas demi mempersiapkan diri untuk kali pertama maju ke Asian Para Games 2018. Ya, tim Blind Judo Indonesia baru terbentuk satu tahun ke belakang, generasi pertama yang terdiri dari sembilan atlet dengan kondisi berkebutuhan khusus.

Tiga di antaranya mengalami kebutaan total, sementara enam lagi kebutaan sebagian–dengan jarak pandang bervariasi hingga maksimal tiga meter.

“Yang membedakan kami dari atlet disabel lainnya adalah kami berlatih seperti orang normal,” ungkap Endang Sri Lestari, pelatih Blind Judo Indonesia yang merupakan peraih Medali Emas pada Sea Games 2005 di Filipina.

Saya memperhatikan kesembilan atlet melakukan latihan fisik yang begitu berat–dari sit-up hingga angkat besi–dan ini pun sudah diturunkan porsinya karena pertadingan tinggal satu bulan. Bayangkan latihan yang harus mereka jalani pada bulan-bulan sebelumnya.

ohelterskelter.com blind judo indonesia
Sendy Riswandi rehat saat latihan.
ohelterskelter.com blind judo indonesia
Rafli Ahnaf Sidqi, calon juara masa depan.

Bagaimana perasaan kawan-kawan yang baru pertama kali maju ke Asian Para Games 2018? Tentu tegang, tetapi mereka tetap antusias dan akan menunjukkan usaha terbaik selama latihan hampir satu tahun. Mba Endang tak berharap muluk-muluk, “saya sadar ini pengalaman pertama mereka, saya tidak ingin terlalu membebani harus juara. Yang penting tunjukkan penampilan terbaik.”

Dari kesembilan atlet Timnas Blind Judo Indonesia, Mba Endang menaruh harapan besar pula pada seorang kawan muda kita, “Rafli itu masih delapan belas tahun, tapi punya potensi besar dan pernah menjadi juara.”

Rafli Ahnaf Sidqi, pemuda asal Bandung yang mewakili Jawa Barat di kelas 60 kilogram sudah berlatih judo sejak 2014. Ketika duduk di kelas III SMP itulah ia tertarik ajakan temannya untuk berlatih Judo–sebelumnya ia mengikuti Klub Atletik. Dua tahun kemudian, ia meraih prestasi gemilang. Medali Emas berhasil disabet pada Pekan Paralimpiade Nasional XV yang berlangsung di Bandung. Pada kesempatan itu pula, Rafli diajak bergabung menjadi Timnas Blind Judo Indonesia untuk Asian Para Games III yang berlangsung tahun ini di Jakarta.

Rafli, sulung dari dua bersaudara, tidak mengalami kebutaan sejak lahir. Gangguan penglihatan terjadi saat ia berusia 10 tahun. Ketika itu ia menderita sakit mata hingga memerah terus-menerus. Didampingi orang tua, ia berobat dan diberi obat tetes mata. Menduga alergi debu, Rafli secara rutin menggunakan obat tetes mata tiap matanya memerah.

Tak disangka, saat dirujuk ke RS Cicendo, ia divonis kelebihan obat tetes mata dan harus menjalani operasi. Dua kali operasi, penyakit mata yang dialami Rafli tak membaik. Ia kemudian menerima kondisi buta sebagian dengan jarak pandang maksimal satu meter.

ohelterskelter.com blind judo indonesia
10 Pedoman Judo.
ohelterskelter.com blind judo indonesia
Bersama Rafli dan Mba Endang Mas Latief sekalu pelatih.

Tidak menyerah pada kekurangan fisik, Rafli yang ramah dan mudah akrab dengan kawan-kawan satu timnya ini, mengaku antusias dan bersemangat untuk berjuang di Asian Para Games 2018. Selama berlatih, ia selalu dipasangkan dengan kawan sebayanya yang juga berasal dari Bandung, Sendy Ruswandi, yang mengalami kebutaan serupa. Rafli dan Sendy memiliki bakat menonjol dalam Judo, terlihat dari ketangkasan dan teknik mereka saat adu banting dan piting.

Dengan visi utama mengembangkan karakter dan kepribadian sebagai manusia yang berbudi pekerti luhur, Mba Endang konsisten menanamkan hal tersebut kepada timnya selama pelatihan. Melirik 10 pedoman Judo yang dipasang di dinding tempat latihan, saya melihat filosofi yang berbeda pada seni bela diri ini. Mengutamakan kekuatan karakter ketimbang fisik, hal itu tercermin pada jurus-jurus Judo yang tidak agresif.

Dan melihat keramahan dan kekompakan kawan-kawan Blind Judo Indonesia selama pelatihan ini, paling tidak saya sepakat bahwa Mba Endang telah berhasil membentuk tim yang berkarakter kuat. Selamat bertanding di Asian Para Games 2018, kawan-kawan!

ohelterskelter.com blind judo indonesia
Seluruh Tim Blind Judo Indonesia.

P.S. Bagi yang ingin menyaksikan pertandingan Judo, silakan kunjungi JIExpo Grand Ballroom pada 8-11 Oktober 2018 dan tiket tersedia gratis. Jangan lupa juga dukung dan ikuti keseruan tim Blind Judo Indonesia pada akun Instagramnya.

P.P.S. Belakangan saya pun tahu sebutan “Ayam” merupakan plesetan umpatan hewaniah akibat kelelahan amat sangat saat berlatih.

Total
8
Shares

6 comments

    1. halo mas,
      iya betul senang rasanya bisa mengikuti kegiatan mereka sehari-hari dan berinteraksi, melihat semangat dan antusiasmenya.
      semoga menginspirasi kawan-kawan untuk tetap positif, ya. 🙂

  1. Dulu aku sempet pengeeen punya cowo yg jago judo, gara2 terlalu menghayati bacaan novel pas Smp, STOP yg mana tokoh utamanya jago judo hahahaha. Apa daya, di Aceh dulu beladiri yg lbh terkenal cuma karate dan taekwondo.

    Kagum sih bayangin yg bener2 buta total tapi tetep bisa menguasai beladiri ini. Berarti dia benar2 mengandalkan insting dan pendengarannya ya untuk mendeteksi posisi lawan. :O

    1. halo Fanny…
      iya aku juga dari komik kenal Judo, hahaha, dan pas cari tahu ekskul di SMA dulu emang cuma Taekwondo.
      Judo enggak populer, jarang ketemu pelatihannya.

      kalau kata Rafli bertarungnya pakai feeling, ya insting dan pendengaran juga kan.
      besok Kamis ayo nonton Judo di JIExpo Kemayoran. 🙂

  2. Kalo nonton pertandingan mereka di Asian Para Games, rasanya jadi bikin semangat sendiri dan juga ada rasa syukur dengan sikap optimis mereka. Mereka adalah inspirasi bagi semua orang. 🙂

    1. betul banget, Heri,
      salut buat mereka yang selalu semangat dan optimis walaupun punya keterbatasan fisik!
      harus ditiru, sih, semangat pantang menyerahnya! 🙂

Feel free to ask or to leave a comment...

%d bloggers like this: