Dengan berlangsungnya Festival Danau Toba tahun ini di Kabupaten Samosir, saya pun teringat pada perjalanan Maret silam bersama kakak laki-laki dan ibu saya. Itulah kali kedua saya mengunjungi Danau Toba—semenjak sekeluarga pindah dari Medan ke Jakarta.

Dari Medan, cukup mudah untuk menuju Parapat, yang merupakan pintu gerbang Danau Toba. Kami memilih naik angkutan umum Elf bertarif dua puluh lima ribu rupiah (bus lebih murah, tetapi lebih lama karena singgah di beberapa pool) dengan lama perjalanan 4 jam (3 jam kalau supirnya ngebut gila-gilaan) dari Terminal Amplas.

Kami pun menginjakkan kaki kembali di Parapat tepat ketika matahari terbenam, disambut pemandangan Danau Toba di sisi jalan. Sungguh menawan! Kami turun tepat di Masjid Parapat dan tak jauh dari situ, ada sebuah hotel murah yang sudah pernah kami inapi. Tarifnya hanya tujuh puluh sembilan ribu per malam dengan ranjang twin—tanpa AC dan TV. Suhu di Parapat memang dingin, jadi AC tidak dibutuhkan. Malam itu kami langsung beristirahat, bersiap untuk penjelajahan esok.

Paginya kami menyantap Mi Gomak, hidangan mi khas Batak yang disajikan dengan gulai labu siam, yang murah meriah di kedai pinggir jalan, lalu menyusuri jajaran hotel di sepanjang Parapat. Ketika angkot lewat, kami pun naik menuju Pelabuhan Ajibata. Kami memilih naik kapal motor kecil karena lebih praktis dan cepat. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian tibalah kami di Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir. Ya, hari ini kami berniat mengelilingi pulau di tengah danau vulkanik terbesar di dunia ini!

Berlabuh di Tomok, jangan lupa ke Batak Museum dan Makam Tua Raja Sidabutar!

Di Tomok, selain tempat berlabuh, juga menjadi pasar dadakan tiap pagi. Ada yang menjual ikan, sayur-mayur, tapai singkong (ini favorit saya! rasanya luar biasa enak dan lebih berair, berbeda dengan tapai di Jawa), rempah-rempah, dan—yang langsung menarik perhatian kami—DURIAN! Keluarga saya memang pencinta berat buah berduri itu. Langsung saja kami hampiri pedagangnya. Harganya berkisar dari lima ribu hingga sepuluh ribu per buah, tergantung ukuran. Durian Samosir rata-rata kecil namun rasanya sangat nikmat dan khas. Durian Monthong kalah jauh!

Usai menyantap beberapa buah durian dalam sekejap, kami dihampiri seorang pria yang menawari sewa motor seharga tujuh puluh ribu untuk seharian. Niat kami untuk berjelajah Samosir bagai mendapat sambutan. Kami pun setuju. Memang lebih baik menyewa motor agar bisa puas berkeliling ketimbang naik angkot yang terbatas tujuannya. Alhasil, kami semotor bertiga karena hanya kakak saya yang bisa mengendarai motor. Ini sungguh tidak boleh ditiru karena cukup berbahaya, jalan-jalan di Samosir tidak rata, berliku-liku, dan naik-turun. Selagi di Tomok, kami sempat mampir ke Batak Museum dan Makam Tua Raja Sidabutar. Jaraknya 5 menit jalan kaki dari pelabuhan.

pulau samosir
Danau Toba dilihat dari Pelabuhan Ajibata
pulau samosir
Suasana di kapal: ada yang minum tuak, ada yang pakai helm.

Berlabuh di Tomok, Jangan Lupa ke Batak Museum dan Makam Tua Raja Sidabutar!

 



pulau samosir
Batak Museum
Pulau Samosir
Jalan belum mulus

Panorama Memukau dari Onan Runggu

Sudah pukul sebelas siang dan jalan cukup sepi. Dari Tomok kami memilih berbelok ke kiri, ke arah Onan Runggu. Tahun sebelumnya saya sudah mencoba ke kanan, ke arah Simanindo. Jalan berkerikil kami lewati. Puas rasanya menyaksikan keindahan Toba di sepanjang sisi jalan. Di tengah perjalanan, kami singgah di perkebunan kopi warga Samosir yang sudah termahsyur itu. Namanya Kopi Ateng (karena pohonnya pendek seperti Ateng?).

Kopi berjenis Arabika (Coffea arabica) ini memang terkenal berkualitas tinggi dan lebih nikmat daripada Robusta. Bahkan, Kopi Ateng dari daerah Siborongborong sampai diekspor ke Amerika untuk Starbucks. Kopi Ateng yang cepat panen ini mendapat sebutan Kopi Sigarar Utang oleh penduduk lokal. Artinya, kopi untuk membayar utang. Sebab, dengan menanam kopi ini mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa perlu berutang kepada koperasi atau rentenir. Saya pun minta izin memetik sebutir kopi yang sudah merah. Dibelah dan dua biji kopi basah terlihat, rasanya manis. 




Setelah itu, kami lanjut ke Menara Onan Runggu (kecamatan paling timur di Samosir). Dari pondok ini, terpampang keindahan Danau Toba dari ujung ke ujung. Sungguh pemandangan yang tak dapat dilupakan. Barisan pohon pinus dan langit nan biru berpadu menyerupai lukisan. Kami duduk-duduk menikmati keindahan sekitar dan kesejukan udara Samosir. Tak lupa juga memotret sana-sini! Warga di daerah ini rata-rata berternak babi dan menanam padi. Sawah-sawah yang bersengkedan menciptakan pemandangan yang tak kalah indah. Berat rasanya beranjak, tapi kami harus melanjutkan penjelajahan. 

Ada cukup banyak kedai yang menjual bensin di Samosir, tidak perlu khawatir kehabisan bahan bakar. Harganya pun sama pasaran. Tadinya kami berniat lanjut ke Nainggolan dan Palipi, memutari pulau hingga Pangururan. Tapi, tukang tempel (tambal) ban (ya, akhirnya ban motor kami pecah) menasihati agar kami mundur saja karena jalan ke sana rusak dan berbahaya. Kami pun memutuskan mundur kembali untuk menuju Simanindo dan Pangururan. Walaupun mengulangi rute sebelumnya, keindahan Toba akan menghapus rasa lelah.  

Pulau Samosir
Pohon Kopi Arabika yang berbuah lebat
Pulau Samosir
Biji kopi Arabika
Pulau Samosir
Horas!
Pulau Samosir
Sawah membentang
Pulau Samosir
Di ujung Pulau Samosir!

Menghangatkan Diri di Pangururan

Setelah 40 km berkendara menyusuri rumah adat Batak dan sawah menguning, kami tiba di Simanindo dan mampir ke kedai untuk makan siang (yang sangat terlambat karena sudah pukul setengah tiga). Kalau berkunjung ke Simanindo, jangan lupa mampir ke Museum Huta Bolon Simanindo untuk menyaksikan pertunjukan Tari Tor-tor dan Patung Sigale-gale. Kebanyakan pengunjung museum ini adalah turis asing. Asyiknya, penonton boleh turut serta menari Tor Tor bersama penari. Ini wajib dicoba! 

Sebelum ke Simanindo, kita juga bisa melewati Desa Wisata Tuk-tuk yang berada di sebuah tanjung kecil di Samosir. Di sini banyak terdapat resort dan kafe, tempat favorit turis asing. Kami tidak ke sana karena sudah pernah. Saat melihat turis-turis asing yang berseliweran menaiki motor, semangat kami pun membara lagi. Lanjut ke Pangururan!

Keseruan perjalanan ini adalah kami bisa berhenti kapan pun kami mau. Melihat-lihat anak-anak SD yang berjalan kaki sambil sesekali melambaikan tangan memohon tumpangan jika ada mobil yang lewat (tidak semua wilayah di Samosir dilewati oleh mobil angkutan Elf). Melihat-lihat para ibu yang menumbuk padi atau mengangon babi. Menikmati indahnya ladang jagung di sepanjang sisi danau dan uniknya rumah-rumah serta makam khas suku Batak. 

pulau samosir
Mata air belerang yang menghadap ke Danau Toba
pulau samosir
Menahan air panas
pulau samosir
Ada kedai kopi di bawah

Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai di objek wisata Aek Rangat Pangururan. Sumber mata air belerang ini memiliki fasilitas pemandian untuk umum dan gratis. Sayangnya, cuma ada satu kolam dan kurang dikelola. Di samping pemandian, terdapat kedai kopi yang harus dicicipi kopinya. Kopi hitam panas khas Samosir akan menghapus kelelahan.

Sumber mata air yang berlokasi di Pusuk Buhit ini sangat indah, saya mencoba mendaki bebatuan dan sampai di puncaknya. Pusuk Buhit (pusat bukit) adalah gunung sisa letusan Gunung Toba di masa silam dan memiliki ketinggian kira-kira 1.900 mdpl. Gunung ini dianggap keramat oleh penduduk setempat. Bahkan, di puncaknya terdapat tempat persembahan yang disebut Batu Sawan. Dari sinilah diyakini bahwa Sang Pencipta Alam Semesta menurunkan orang Batak. Sebutannya adalah Mula Jadi Nabolon.

Sayangnya, kami tidak sempat melanjutkan penjelajahan ke Danau Sidihoni (danau di atas danau) dan Desa Adat Huta Siallagan di Ambarita karena hari sudah sore. Kami harus mengejar kapal terakhir menuju Ajibata jam tujuh malam. Penjelajahan delapan jam dengan jarak seratus lima puluh kilometer antara Tomok-Onan-Runggu-Simanindo-Pangururan-Tomok pun harus berakhir. Tapi, saya pasti akan kembali menjelajahi keindahan Samosir yang berlimpah. Saya berharap jika saat itu tiba, Pulau Samosir sudah semakin dikelola dengan baik.