Buat yang berencana ke Jepang bulan Mei, jangan bersedih karena musim Sakura sudah berlalu. Waktu saya ke Jepang pertengahan Mei, beruntung saya bisa menyaksikan beragam festival atau matsuriPertama, ada Fuji Shibazakura Matsuri. Kedua, Aoi Matsuri di Kyoto. Dan ketiga Sanja Matsuri di Tokyo. Repotnya adalah saya harus menyusun jadwal perjalanan dengan ketat karena ketiga festival itu ada di kota yang berbeda. Tapi, semua keriwehan itu terobati dengan pengalaman menikmati kemeriahan acara tahunan itu. 

Melancong ke Negeri Sakura tentunya akan lebih sempurna kalau menikmati keindahan bunga Sakura yang termahsyur. Untuk itu, kita harus bertandang ke Jepang di musim semi, antara Maret hingga Mei. Pada bulan-bulan itu, kita bisa menikmati berbagai bunga yang bermekaran di seantero Jepang.

Tips bagi Anda yang memang ingin menyaksikan Sakura bermekaran atau piknik di bawah pohon Sakura (hanami), pastikan waktu berlibur yang tepat. Masa Sakura mekar berbeda-beda di setiap daerah dan berbeda pula setiap tahunnya. Untuk memastikannya, buka saja laman Japan Guide. Di situ terdapat laporan jadwal mekar Sakura dari berbagai daerah di Jepang. Disertai pula foto-foto cantik yang mengagumkan.

Sayangnya, ketika saya berlibur ke Jepang Mei lalu, musim Sakura sudah selesai. Hanya ada beberapa kota yang masih dihiasi bebungaan pink itu dan letaknya jauh dari Tokyo, kota yang saya singgahi. Namun, tak perlu kecewa. Ada lokasi lain yang menawarkan keindahan serupa. Letaknya di kawasan kaki Gunung Fuji, gunung yang paling terkenal di Jepang.

Setiap tahun berlangsung Fuji Shibazakura Festival di Fuji Motosuko Resort, mulai dari April hingga Juni, buka pukul 08.00 hingga 17.00. Walaupun tak menawarkan Sakura yang mekar berbonggol-bonggol di dahan tak berdaun, bunga Shibazakura di sini tak kalah cantik. Jika bertolak dari Tokyo, seperti saya, pergilah ke Shinjuku Station dan keluar di West Exit menuju Shinjuku Express Way Bus Terminal tepat di depan Gedung Yodobashi Camera. Ada agen Bus Keio yang menyediakan jasa perjalanan ke beberapa kota. Anda bisa membeli tiket terusan (tiket bus+festival) dan jika tidak, pesan tiket bus menuju Kawaguchiko Station seharga 1.700 yen untuk sekali jalan. Perjalanan sekitar 2 jam.

Saya berangkat pukul 08.40karena ingin lebih awal sampai di Fuji, berharap pengunjung belum ramai. Dugaan saya salah. Pengunjung festival sudah padat dari pagi, baik turis lokal maupun asing. Padahal saya datang di hari Senin.

Sesampainya di Kawaguchiko Station, saya disambut pemandangan Gunung Fuji dengan salju di puncaknya, seperti lelehan cokelat di atas es krim cone, tepat di balik bangunan stasiun. Sungguh mengagumkan! Tidak semua orang bisa beruntung dan melihat langsung puncak Gunung Fuji. Ketika berada di Kyoto dan Toyama, saya bertemu sesama turis Indonesia yang juga ke Fuji. Mereka tidak bisa melihat Gunung Fuji karena tertutup kabut.



Pakai batik pink supaya matching!
Brosur festival dan tiket masuk 400 yen
Brosur festival dan tiket masuk 400 yen
fuji shibazakura matsuri
Gunung Fuji dilihat dari Kawaguchiko Station
Fuji Shibazakura Matsuri
Fujiyama Cafe
Penunjuk arah di depan stasiun
Antrean bus

Dari Kawaguchiko Station, pesan tiket menuju lokasi festival seharga 1.800 yen untuk pergi-pulang. Sekitar satu jam menempuh jalan berkelok-kelok melewati rumah-rumah dan vila-vila khas Jepang serta hutan yang rimbun, kita pun sampai di lokasi.

Harga tiket masuk 400 yen. Ketika sampai, sekitar pukul 12.00, saya menyaksikan sudah banyak bus yang parkir, begitu pula mobil pribadi. Kalau ingin lebih puas menjelajahi keindahan kaki Gunung Fuji yang dikelilingi lima danau (Fuji Five Lakes), menginaplah di sekitar Kawaguchiko. Ada penginapan murah seharga 2.200 yen per malam. Kita pun bisa puas menikmati berbagai objek wisata, seperti gua es dan vulkanik di Lake Saiko; kereta gantung dan museum-museum di Lake Kawaguchi; kuil-kuil; dan lain-lain.

Setelah beberapa langkah, saya disambut oleh Ryujin-Ike Ponddan hamparan bebungaan pink dan ungu. Cantik sekali! Saya terkagum-kagum hingga bengong, sibuk memotret ke sana-sini. Ternyata, di samping jalan setapak yang meliuk-liuk, terdapat barisan pohon Sakura yang masih mekar meskipun tak banyak. Lengkap sudah perjalanan saya, melihat Sakura Jepang dengan mata-kepala sendiri.




Saya memutari Ryujin-Ike Pond dan taman bunga yang lebih luas telah menanti. Kali ini ada yang pink tua dan putih. Gradasi warna pink, ungu, dan putih menciptakan palet warna yang sungguh indah. Bebungaan itu ditanam mengikuti sebuah pola melingkar dan menampilkan Gunung Fuji sebagai latar belakang. Jika pengunjung ingin menyaksikan pola taman secara menyeluruh, ada sebuah menara pandang yang bisa dinaiki secara bergantian.

Selamat datang di Festival Fuji Shibazakura!
Selamat datang!
Lansia di Jepang biasanya hobi fotografi
Kakek hobi fotografi
Bunga Sakura yang dijual di Glodok pas Imlek
Sakura merah jambu
Fuji Shibazakura Matsuri
Petugas berseragam pink

Shibazakura atau Moss Phlox (Phlox subulata) adalah bunga dari famili Polemoniaceae yang aslinya berasal dari Amerika Utara. Bunga setinggi 15 cm ini dapat tumbuh dengan cepat dan bertahan sepanjang tahun. Bunga ini disebut Shibazakura karena seperti Sakura yang merambat di halaman (shiba berarti ‘halaman’ dan zakura berarti ‘sakura’). Jenis yang berwarna pink tua disebut McDaniel’s Cushion, pink muda Autumn Rose, dan putih Little Dot.

Karena area festival yang luas dan berkerikil di beberapa tempat, sebaiknya pakai sandal atau sneakers agar lebih nyaman. Jangan lupa juga kacamata hitam atau payung jika tidak tahan dengan sengatan matahari. Walaupun udara cukup dingin di musim semi, sinar matahari tetap menyilaukan.

Jika lelah atau pegal, mampirlah ke booth yang menyediakan jasa footbath dengan pemandangan menghadap Gunung Fuji. Tak jauh dari situ, terdapat barisan penjaja makanan dan minuman khas jepang, mulai dari ramen hingga es krim cone rasa matcha (teh hijau), harganya 300 yen saja. Es krim ini dijamin enak sekali. Di tempat ini juga tersedia WIFI, ayo unggah foto kalian! Wajib pula masuk ke toko yang menjual suvenir khas Fuji, mulai dari gantungan kunci, pajangan, kue berbentuk Gunung Fuji, sampai jus buah persik produksi setempat.

McDaniel's Cushion
McDaniel’s Cushion
Ini apa namanya, ya?
Ini apa namanya, ya?
Fuji Shibazakura Matsuri
Gunung Fuji mulai tertutup kabut

Pengunjung ruamaaaiii!

Pengunjung ruamaaaiii!

Jus buah persik yang enak banget!
Jus buah persik yang enak banget!
Ayo, dibeli dibeli penglaris penglaris!
Ayo, dibeli dibeli!
Fuji Shibazakura Matsuri
Cantiknya!
Cantiknya bunga Shibazakura!
Shibazakura ungu!

Tak terasa sudah dua jam lebih saya tenggelam dalam hamparan pink bunga Phlox. Saatnya menjelajah tempat lain. Saya pun menatap keindahan Shibazakura untuk terakhir kalinya, berharap dapat kembali lagi suatu hari nanti, dan tersenyum. Saya akan ke danau lainnya dari kawasan Fuji Five Lakes, yaitu Lake Saiko. Saya akan ke hutan yang terkenal sebagai tempat bunuh diri itu: Aokigahara.

 

p.s. untuk mengetahui jadwal Fuji Shibazakura Matsuri tiap tahunnya, klik di sini.