Sebagaimana dongeng, Alkitab lahir pula dari tradisi lisan. Yang kemudian oleh manusia-manusia yang diberi hikmat Tuhan, ditimbang-timbang dan melewati kanonisasi, hingga dituliskan pada dedaun papirus. Jauh sebelum istilah biblichor diciptakan. Alkitab seyogianya tidak turun dari surga.

***

Pagi itu saya terburu-buru memasuki halaman Gereja Immanuel, tanpa sempat menyapa petugas keamanan yang berjaga di pos. Pun, langkah terhenti jua saat seorang tukang kebun yang berusia hampir setua sepeda berkarat yang bersandar di pagar tak jauh darinya, memanggil saya.

“Sudah mulai, Mba,” ujarnya tersenyum.

Rupa-rupanya ia masih mengingat saya. Seorang penulis mengaku jurnalis yang seminggu sebelumnya membuntutinya saat menyapu dedaunan rontok di taman gereja. Sebuah pekerjaan yang agaknya sia-sia. Sebab daun itu tiada henti gugur saat disapu, bagai sedikit mengejek.

Pekerjaan itu barangkali cocok untuk orang yang biasa bersabar, seperti yang ia lakukan tiap hari dari Kemayoran dengan sepedanya. Melaju di antara deru kendaraan yang berpacu dengan waktu. Saya yakin, Pak WB pandai mengatur waktu. Pula memotong rumput. Seperti yang ia kerjakan selama tiga tahun ini di Gereja Immanuel.

WB adalah singkatan dari World Bank, julukan saya untuk si tukang kebun. Ia bercerita dengan bangga, pernah bekerja di lembaga keuangan internasional asing itu. Dan kebetulan sekali, hari itu seorang kawan memberi tahu bahwa ia punya kenalan petinggi di World Bank. Saya juga, jawab saya tak kalah pamer. Kawan saya mantan tukang kebun di World Bank.

Saya senang bertemu orang baru di tempat yang baru. Ini kali pertama saya benar-benar memasuki Gereja Immanuel. Alunan orgel yang khas menggema hingga koridor, saya berjalan ke sisi kiri dan terpana pada sosok putih berselendang hijau di mimbar. Pendeta Michiko P. Saren, S. Th. sedang meriwayatkan penggalan Yohanes.

Suaranya tiada berbeda dari yang saya dengar melalui telepon. Ketika kami merencanakan pertemuan untuk bincang-bincang tentang gereja yang baru ia pimpin tiga bulan ini. Pun, wibawa terpancar tegas saat ia menyatakan, bahwasanya Alkitab adalah kabar gembira yang mesti dibaca, lantas diamalkan.

Tak sekadar menjadi tameng kepala saat hujan.

gereja immanuel
Pendeta Michiko dan jamaatnya

Jemaat ibadah minggu paling pagi itu, dimulai pukul enam, tak sampai lima puluh. Tapi, sorak tawa membahana pula. Ya, terbahak-bahaklah jemat yang mayoritas orang tua itu, yang benar-benar tua—dengan uban tak sekadar menyembul dan bikin gemas orang yang tanpa sengaja memandang, tetapi menghiasi kepala mereka bak awan mendung.

Ekspresi mereka sebaliknya, bagai tabula rasa yang hanya berisi kabar gembira. Mereka melantunkan puji-pujian, diiringi orgel yang mengalun syahdu hingga puncak kubah gereja. Saya menengadah dan merasa kecil.

Tiang-tiang besi yang menghiasi dinding gereja yang melingkar, bagai julur tanaman di pagar-pagar rumah tua. Ornamen flora ini mengingatkan saya pada aliran Jugendstill, Seni Baru, yang ditemukan di Gereja Ayam. Ketika unsur natural diterapkan pada arsitektur adiluhung abad sembilan belas.

Gereja Immanuel, yang lahir dengan nama Willems Kerk, diambil dari nama Raja Willem I yang mencetuskan pendirian Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB). Willemskerk kemudian dibangun di daerah Pejambon, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Timur No.10, Jakarta Pusat. Di atas wilayah yang dahulu disebut Weltevreden. Sebuah daerah bergengsi yang dihuni pejabat Hindia-Belanda, yang berada di luar tembok Batavia.

Pada masa kepemimpinan Herman Willem Daendels (1080-1811), pusat pemerintahan di Kota Tua dialihkan ke Weltevreden demi membangun pertahanan di Jawa untuk menghadapi Inggris. Demikianlah, sebuah daerah kelas atas tercipta, dan gereja yang ditujukan untuk mempersatukan jemaat Lutheran dan Hervormd dibangun.

Tepat pada ulang tahun sang Raja, 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan di atas tanah seluas 9.180 meter persegi. Dengan menghabiskan biaya hingga 192.000 florin, sumbangan jemaat dan Jean Chrétien Baud, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, J.H. Horst yang ditunjuk sebagai arsitek menyelesaikan pembangunan empat tahun kemudian.

gereja immanuel
Paduan suara remaja

Entah karena kedambaan pada kebudayaan Yunani, ataukah memang pengaruh Indische Empire Style, gaya bangunan Hindia-Belanda yang terinspirasi dari Prancis, yang berakar dari gaya Neo-klasik yang mengacu pada bangunan megah masa Yunani dan Romawi, tengah mewabah di Eropa, Horst menciptakan gereja yang begitu agung pada masanya.

Tiada ditemukan catatan mengenai alasannya menerapkan gaya Kuil Parthenon. Yang pasti, enam pilar dorik sederhana yang menopang tympanum, struktur dinding klasik berbentuk segitiga yang menjadi fasad ikonis di Willemskerk, adalah corak khas Yunani.

Bagian kepala gereja yang berbentuk kubah bisa jadi terilhami oleh Kuil Pantheon di Roma, yang cirinya saya temukan juga pada Sacré-Cœur Basillica di Paris. Keduanya sama pula, dicat putih seluruh sehingga tampak berkilau terang disirami sinar matahari dari kejauhan.

Berbeda dengan Haantjeskerk yang dibangun sama rata dengan tanah, Willemskerk memiliki fondasi sekitar satu meter. Konon sebagai penanda bahwa ia adalah tempat yang suci, pertemuan antara yang profan dan yang sakral.

Saya sekejap terjaga mendengar Pendeta Michiko mengisahkan asal usul Alkitab. Menoleh ke belakang, jam dinding menunjuk angka tujuh lewat. Semestinya tiga puluh menit lagi ibadah usai. Bapak tua yang berjarak dua kursi kosong dari saya tersenyum sambil memegang warta jemaat bersampul biru. Baru satu jam duduk saya malah terlena, entah karena alunan orgel yang membuai-buai hingga langit-langit kubah tepat di atas saya, ataukah saya memang pemalas yang mudah terbius oleh tutur lisan yang lugas.

gereja immanuel
Orgel yang megah

Giliran paduan suara, yang beranggotakan bapak dan ibu bertampang penuh pengabdian, kembali menggelorakan ruangan. Saya mengalihkan pandangan ke atas, ada empat pilar kecil, ada kursi panjang melingkar di sisi kanan dan kiri, ada ornamen berbentuk persegi di atasnya. Ruangan lantai dua beralas kayu itu dipagari besi bercat putih dengan lambang salib Yunani di tengahnya, salib yang sama panjang. Ia terlihat usang, tapi begitu antik dan konsisten.

Majelis menghampiri para jemaat seraya menyodorkan kantung beledu berwarna terung dan zamrud, satu untuk kolekte dan satu lagi peremajaan gereja. Saya merogoh saku tas, memilah lembaran yang ada, lantas menyodorkannya ke dalam kantung berkait logam.

Entah satu atau dua kali amin diserukan—saat itu saya asyik mengagumi pintu dan jendela samping gereja yang sangat tinggi, tetiba anggota majelis berjalan meninggalkan altar dengan Alkitab diusung di depan dada, di belakangnya Pendeta Michiko berjalan turun mimbar. Ibadah usai, serentak bapak tua di samping menyalami saya. Saya mengangguk tersenyum.

Pada akhirnya Pendeta Michiko kembali ke ruangan, saya menghampirinya.

“Pendeta Michiko, saya Yuki yang kemarin menghubungi.” Kami bagai keluarga yang baru bertemu dalam sebuah film klasik bikinan Jepang.

“Oh, Yuki, datang dari jam berapa?” tanyanya sumringah, “dari awal,” jawab saya bangga.

Kami berjalan menuju konsistori, kemudian saya menunggunya dan anggota majelis menutup ibadah Minggu dengan doa bersama. Kami lalu kembali berhadap-hadapan di antara prasasti berbahasa Belanda, bertukar cerita singkat tentang Gereja Immanuel. Saya, utamanya, tentang ketertarikan dan riset mengenai Gereja Immanuel. Ia pun mohon diri, mesti memimpin ibadah berikutnya di daerah Taman Mini.

Namun, kami berjanji akan bertemu lagi hari Rabu untuk membahas tentang konservasi Gereja Immanuel, dan sepertinya, urusan lisan kami masih akan terus berlanjut.

gereja immanuel
Monumen Nasional dilihat dari teras gereja

gereja immanuel

P.S. Ini adalah tulisan yang belum diedit menjadi “Si Pemikat Pejambon” yang tayang di National Geographic Traveler edisi Desember 2016.

Photos: Rahmad Azhar Hutomo