Selalu ada kata pertama untuk sebuah hal. Hal di sini berarti mencicipi sebuah makanan. Dan pada kunjungan kedua kalinya ke Makassar, akhirnya saya memberanikan diri mencicipi Coto Makassar. Yang seperti kita semua tahu, menggunakan bahan utama daging sapi.

Saya tidak makan daging sapi. Bukan karena vegetarian, tapi memang tidak suka sejak kecil. Berawal dari kelas empat SD, saya mencicipi bakso sapi untuk pertama kalinya. Waktu itu saya baru pindah dari Medan, dan di kota asal saya bakso belum sepopuler saat ini.

Saya langsung mengeluarkan bakso itu dari mulut. Rasanya sangat tidak enak, saya langsung mual karena aromanya. Hingga saat ini saya tak pernah makan bakso lagi. Mungkin karena bakso menggunakan daging sapi, yang tak pernah saya rasa enak di mulut. Aroma khas daging sapi membuat saya mual, dan dagingnya yang berserat tak bisa saya telan. Daging kambing dan kuda dan kawan-kawannya pun tak pernah saya makan.

Saya juga tak pernah tergoda oleh steik yang katanya aduhai rasanya.

Lalu, tibalah saya di Coto Makassar Nusantara yang terletak di Jalan Nusantara, tepat di depan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Sudah lewat waktu makan siang, saya memang lapar. Dan saya tak bisa menolak ajakan kawan-kawan untuk makan coto begitu kami mendarat di bandara.

Saya pun memesan coto daging, bukan campur (berisi jeroan dan lain-lain yang juga tidak saya sukai) dengan gundah. Semangkuk kecil coto tiba di meja. “Untung porsinya kecil,” pikir saya lega.

Dugaan saya salah, coto ini isinya cukup banyak, dengan potongan daging yang lumayan besar. Matilah saya!



jajan di makassar
Dagingnya banyak

Pertama saya seruput kuah hitamnya, rempahnya lumayan menutupi aroma dagingnya. Saya mengambil buras dan menyendoknya, memilih daging paling kecil. Buras saya gigit lebih dulu, lalu daging. Perasaan ganjil menerpa. Duh, saya berkeringat dingin.

Ternyata, rasanya tak seburuk itu. Dagingnya sangat lembut dan tak bau, memang agak berserat, tapi masih bisa saya telan. Saya pun memberanikan diri menyendok potongan-potongan lainnya, menyumpalnya dengan buras. Empat potong berhasil saya telan, menyisakan potongan berlemak di dasar mangkuk.

Sungguh pengalaman yang dramatis. Saya langsung mengirim pesan kepada Tama, menceritakan pencapaian ini. Ia memang selalu memaksa saya makan daging sapi. Sekarang pun masih demikian, tapi saya belum berniat mencoba hidangan sapi jenis lainnya.




Rasa daging di mulut saya langsung hilang, berganti dengan kelezatan pisang epe dengan lumuran keju. Menikmati pisang epe di kawasan Pantai Losari saat malam hari memang menyenangkan. Angin sepoi-sepoi, ditemani hangatnya saraba, bandrek khas Makassar.

Pisang Epe Bank Mandiri adalah salah satu yang terkenal di Losari. Pelanggannya tak pernah sepi, memadati kursi yang disusun di pinggir jalan. Pisang yang tak terlalu matang, itu yang saya suka dari pisang epe di sini. Sayangnya, sarabanya terlalu manis, mungkin berikutnya akan saya minta kurangi gulanya.

jajan di makassar
Kejunya berlimpah

Bicara kuliner Makassar tak bisa jauh-jauh dari hidangan laut, misalnya sup kepala ikan kakap yang disebut Palumara Mappanyukki. Rasanya asam-asam segar karena menggunakan belimbing wuluh. Selama tiga malam di Makassar, saya puas mencoba ikan kuah kuning di beberapa tempat.

Tapi, makanan lain yang baru pertama saya coba adalah jagung pulut. Disebut juga jagung ketan karena bulirnya yang berwarna hampir putih dan teksturnya yang pulen. Jajanan ini tidak berada persis di Makassar, tetapi di Kabupaten Takalar. Saya mencobanya dalam perjalanan menuju Pulau Sanrobengi.

Memasuki Takalar, di sepanjang jalan terlihat warung-warung tenda dengan jajaran ember besar berwarna-warni. Isinya adalah jagung pulut rebus siap santap. Begitu duduk di salah satu warung, sang penjual gesit membersihkan jagung-jagung dan menaruhnya di piring. Ditambah mangkuk kecil berisi garam cabe dan jeruk nipis.

jajan di makassar
Sepiring jagung sepuluh ribu saja!
jajan di makassar
Dagingnya mirip ketan
jajan di makassar
Jagung rebusnya disimpan di ember

Ternyata, rasanya memang lebih enak dicocol dengan garam. Sebab, jagung ini cenderung hambar, walaupun dagingnya padat dan mengenyangkan. Sepiring berisi delapan buah jagung harganya hanya sepuluh ribu rupiah, sangat murah. Jagung ini memang merupakan varietas jagung khas Takalar.

Siang itu, lumayanlah, saya melahap empat jagung. Kalau ke Makassar lagi, makanan apa lagi yang harus saya cicipi, ya?