Tahun 2013 ini siapa yang belum pernah ke Bali? Saya yakin sebagian besar sudah pernah. Malah mungkin lebih dari satu kali. Saking sukanya ke Bali, kalian mungkin akan membeli tas kanvas atau kaos bertuliskan I LOVE BALI. Yang laki-laki mungkin malah hobi memakai kaos lengan buntung BALIHAI atau BIR BINTANG. Mungkin rasanya sudah mabrur ke Bali kalau punya suvenir-suvenir itu. Nah, selain Bali, sebenarnya ada pulau yang tak kalah menarik di sampingnya. Lombok.

Lombok adalah sebuah pulau yang termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau yang juga terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid ini berukuran hampir sama dengan Bali, tepatnya 4.725 kilometer persegi. Penduduknya mayoritas beragama Islam, karena itu ada banyak sekali masjid di sini. Dan tradisi Islam ini dipegang teguh oleh penduduk setempat. Saya sempat mengalami kerepotan saat berkunjung ke pulau ini di bulan Ramadan. Ya, saya, adik saya Yuya, dan ibu saya mendarat dengan perut kosong di Bali bulan Agustus tahun lalu. Tepat dua minggu sebelum Idul Fitri.

Kurang hipster rasanya kalau belum foto-foto di bandara!

Trio Kwek-kwek menginjakkan kaki di Ngurah Rai sekitar pukul setengah delapan pagi. Karena harga tiket murah meriah itu, sejak awal kami memutuskan langsung melanjutkan perjalanan ke Lombok karena Bali sudah terlalu sering ke Bali. Lagi pula, mendengar cerita abang saya yang berwisata ke Lombok tahun sebelumnya, saya penasaran ingin melihat langsung keindahannya.

 

Menuju Pelabuhan Padang Bai

Sayangnya, (dulu) saya adalah tipikal orang yang malas berselancar di Internet dan mencari informasi untuk membuat rencana perjalanan. Jadi, trip kali itu pun dilakukan dengan informasi ala kadar: dari bocoran abang saya. Kami akan ke Lombok dengan menumpang kapal feri dari Pelabuhan Padang Bai. Kenapa naik feri? Jawabannya murah dan kami tak dikejar waktu. Untungnya ibu saya juga senang bepergian ala backpacker. Kami sama sekali tidak membawa koper, hanya tas biasa.

Ongkos feri dari Padang Bai ke Pelabuhan Lembar di Lombok adalah tiga puluh lima ribu rupiah (sekarang mungkin sudah naik). Lalu, bagaimana transportasi ke Padang Bai? Ada dua cara, yaitu naik taksi atau carter mobil dan naik angkutan umum.



Kami pilih cara pertama karena lebih mudah. Begitu melangkah keluar dari Terminal Kedatangan di Ngurah Rai, kami disambut bak selebriti oleh orang banyak. Yang semuanya supir taksi. Mereka berebutan menawarkan jasa dan bertanya ke mana tujuan tiga wanita hilang arah ini. Tadinya kami ingin mencari angkutan di luar bandara saja, tetapi pasrah juga ke pangkuan salah satu bapak supir berwajah ramah. Ongkosnya Rp220.000,-, sulit sekali ditawar. Jadi kalau dibagi tiga, satu orang Rp73.333,3333,-. Saya kira ia supir taksi, ternyata mobilnya Suzuki APV. Biaya ini tentunya akan lebih kecil kalau pergi beramai-ramai.

Perjalanan dari bandara ke Padang Bai kurang lebih satu jam setengah, agak tersendat di wilayah menjelang pelabuhan karena jalan kecil dan banyak bus dan truk. Oh ya, untuk cara kedua, yaitu naik angkutan umum, agak repot. Sebab, di Bali fasilitas angkutan umum masih terbatas dan belum menjangkau semua wilayah. Saya cuma pernah naik angkutan umum di wilayah Denpasar. Itu pun rutenya terbatas. Kalau mau ke Padang Bai, harus ke Terminal Ubung, naik bus lalu lanjut angkutan umum.

Di dalam mobil carteran menuju Padang Bai
Pemandangan cerah di jalan menuju Padang Bai

Lima Jam Terombang-ambing di Lautan




Sesampainya di Padang Bai, seperti kata abang saya, saya menghadapi banyak tawaran calo agen pariwisata. Supir mobil kami juga menawarkan kenalannya untuk mencarikan tiket ke Lombok, tetapi saya menolak. Memilih untuk mencari sendiri. Kami menyusuri jalan yang menghadap langsung ke pantai. Harga tiket feri memang tiga puluh lima ribu rupiah, tapi saya masih harus memikirkan angkutan dari Pelabuhan Lembar ke Pantai Senggigi, tujuan kami. Setelah obrol-obrol dengan agen di sana, akhirnya kami membeli tiket terusan seharga enam puluh ribu yang meliputi tiket feri dan angkutan hingga Senggigi. Kami diberi tiket feri dan tiket dari agen sini untuk diberikan kepada agen di Lembar.

Pukul sebelas lewat tiga puluh akhirnya feri angkat sauh dari Padang Bai. Pemandangan di pelabuhan ini pun sangat indah, banyak pula hotel di tepi pantainya. Kami mengarungi Selat Lombok selama kurang lebih lima jam. Ombak yang besar membuat feri ini terombang-ambing. Jalan saja repot, apalagi buang air kecil, harus berpegangan erat dengan bak air. Kalau kamu gampang mabuk laut, dijamin muntah. Untungnya saya tidak mabuk laut dan bisa santai berkeliling. Di dalam kapal juga ada pemandangan indah. Bule-bule bertebaran seperti ikan asin. Belum sampai pantai saja mereka sudah berbikini dan berjemur ria.

Di kapal saja sudah asyik berjemur
Turis asing sedang menikmati angin laut
Awas terbang!

Berlabuh di Lombok

Kami tiba di Lembar pukul 15.30 WITA. Suasana di pelabuhan cukup sepi. Hanya ada mobil dan bus yang diparkir. Juga supir-supir truk yang lagi nongkrong. Ada segerombol bapak-bapak yang menghampiri sambil menyebut nama agen pariwisata mereka, mencari calon penumpang mereka. Kami mendatangi agen pariwisata yang akan mengantar ke Senggigi. Setelah memberikan tiket, kami disuruh menunggu bersama beberapa grup turis lain yang semuanya bule. Kami seperti sedang liburan ke Ibiza. Kurang lebih lima belas menit kemudian, kami disuruh naik elf butut. Huh!

Sebenarnya, dari Lembar kita bisa mencari angkot ke Terminal Mandalika di Mataram (lalu lanjut naik angkot ke Senggigi), ongkosnya sekitar sepuluh ribu. Tapi, setelah bertanya-tanya, jalannya cukup jauh untuk mendapatkan angkot. Untung kami sudah beli tiket sampai Senggigi.

Kalau kalian malas berlama-lama naik feri atau banyak duit, lebih praktis naik fast boat dari Kuta langsung ke Senggigi atau Gili Trawangan. Ongkosnya sekitar lima ratus ribu sekali jalan. Perjalanan hanya dua jam. Tapi, kalau punya banyak waktu, tidak ada salahnya naik feri, kan!

 

Kesimpulannya, ada tiga cara menuju Lombok dari Bali:

1) Cara Proletar

Naik mobil travel dari Kuta, ongkosnya sekitar Rp75.000-100.000,- sampai Padang Bai. Di Padang Bai, kamu bisa beli tiket feri saja, atau sekalian beli tiket terusan di agen travel untuk langsung ke tempat tujuan, misalnya Senggigi atau Gili Trawangan. Kalau hanya ingin membeli tiket feri sampai Lembar, kamu harus lanjut naik angkutan umum ke Terminal Mandalika (Mataram). Ongkos sekitar sepuluh ribu. Di terminal, kamu bisa cari angkutan lain untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.

Kelebihan: pemandangan indah, bisa berjemur.

Kekurangan: boros waktu, pusing, muntah-muntah, wajah kusut.

2) Cara Borjuis

Pesan tiket fast boat di agen travel untuk tujuan Senggigi atau Gili Trawangan. Ongkos sekali jalan sekitar lima ratus ribu. Kamu akan dijemput mobil atau mini bus oleh agen dan diantar hingga Padang Bai. Dari Padang Bai, fast boat berkecepatan tinggi (dua jam sampai tujuan!) siap mengantar kamu ke tujuan. Di dalam kapal ekspres ini kamu bisa bergaya dengan kacamata Ray Ban sambil menikmati makanan ringan yang disediakan. Bisa juga foto-foto sepuasnya.

Kelebihan: pemandangan indah, hemat waktu, wajah segar.

Kekurangan: nihil.

3) Cara Aristokrat

Pesan tiket pesawat dari Bali menuju Lombok. Singkat dan tak berkeringat!

Kelebihan: sangat hemat waktu, wajah sumringah.

Kekurangan: tidak bisa foto-foto dan berjemur.

 

Nah, pilihan tergantung dompet kamu!