Seorang gadis tercenung memandangi benang aneka warna di pangkuannya. Sorot matanya menyiratkan semesta. Penuh misteri. Ia duduk di tikar, memangku sebuah alat yang tersusun dari beberapa bilah kayu. Ia masih muda, tetapi pundaknya kokoh. Seolah-olah terlalu banyak menempa hidup. Wajahnya manis, sungguh. Dengan kulit senada tanah liat dan rambut hitam tersampir di bahu. Konon, gadis sepertinya sudah sah menjadi wanita. Ia sudah boleh menikah.

Setiap gadis yang sudah mahir menenun dipersilakan untuk menikah, begitu tradisi di Sade. Sebuah desa, lebih tepatnya dusun*, ganjil yang berada di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Mungkin kata ganjil menimbulkan pertanyaan, bahkan cercaan. Bukan, saya tak bermaksud mengalienasikan desa mungil ini. Toh, ukuran ganjil tidaknya suatu hal tergantung pada sudut pandang. Begitulah, manusia, saat sulit memaknai sesuatu, seringkali mencari jalan pintas. Dan, membandingkan rasa-rasanya dapat menjadi tolok ukur dalam hal ini. Desa Sade terlihat ganjil dibandingkan desa-desa di sekitarnya.

Ganjil. Karena desa ini bagaikan dicomot dari sebuah halaman buku kebudayaan masa lampau di perpustakaan lalu diletakkan di antara desa-desa lain yang sudah modern. Yang mungkin menimbulkan pertanyaan lagi, apa batasan untuk “modern”? Untuk yang ini rasanya tak perlu diperpanjang. Kalian dipersilakan memiliki versi sendiri. Kasarnya adalah seperti rumah-rumah yang berjajar di Mataram.

Suku Sasak, yang merupakan suku asli Pulau Lombok, adalah penghuni Desa Sade. Mereka memilih mempertahankan tradisi dan budaya. Dengan rumah-rumah beratap melengkung, terbuat dari alang-alang yang bisa bertahan hingga lima belas tahun, dan dinding bilik serta lantai tanah yang diurapi kotoran kerbau dua kali seminggu. Begitulah rumah adat Sasak, berbentuk lumbung, simbol mata pencaharian utama mereka.



Rumah adat di Desa Sade terbagi menjadi beberapa jenis. Bale Tani yang berfungsi sebagai tempat tinggal; Bale Barugak yang merupakan tempat pertemuan, untuk musyawarah, pernikahan, dan acara lainnya; Bale Kodong yang merupakan rumah sementara bagi pasangan muda, dan Bale Lumbung. Tundukkan pula kepala saat memasuki rumah Sasak, pintu yang rendah menuntut tamu untuk menghormati sang pemilik rumah. Betapa tradisi seringkali menerapkan ajaran moral secara lahiriah. Tiga buah anak tangga di pintu rumah Sasak pun memiliki makna. Wetu Telu, yaitu lahir, berkembang, dan mati.

desa sade
Selamat datang di Desa Sade
desa sade
Pemandu wisata di Desa Sade berseragam oranye
desa sade
Masjid di Desa Sade
desa sade
Ilalang yang siap dipakai sebagai atap
desa sade
Kayu bakar disimpan di samping rumah
desa sade
Gadis kecil baru menjajakan dagangannya
desa sade
Turis asing mengunjungi Desa Sade

Yang lebih menarik lagi adalah tradisi Kawin Culik. Bagi para pemuda Sasak yang ingin meminang kekasihnya, patutlah ia menculik sang gadis untuk menginap di rumahnya. Setelah satu malam, ia akan ke rumah orang tua sang gadis dan mengutarakan lamarannya. Pernikahan pun dapat dilangsungkan.

Sang gadis berkulit tanah liat itu kembali menenun, sesekali terdengar bunyi kayu beradu. Benang-benang yang ia pakai dipintal sendiri dari kapas, lalu diwarnai dengan bahan-bahan alami—kunyit dan kapur sirih menghasilkan warna oranye cerah. Menenun pun menjadi mata pencaharian sampingan—atau mungkin utama?—bagi warga Sade. Hampir setiap rumah memiliki bangunan terpisah untuk menjajakan kerajinan tangan. Gelang aneka warna juga bergantungan, mencolok di antara dominasi warna cokelat di Desa Sade.

Semenjak menyandang status Desa Wisata, apakah Desa Sade serta-merta menjadi sejahtera dan berdikari? Bagaimana pendidikan anak-anak Sade? Banyak pertanyaan yang mungkin butuh jawaban panjang. Haruskah pariwisata dijadikan mata pencaharian? Mungkin jawabnya iya, bagi Desa Sade. Bagaimanapun, jelas terlihat betapa ibu-ibu yang menyambut pengunjung berharap satu dua carik kainnya terjual. Karena sawah mereka, yang menanti hujan satu tahun sekali, tentu terbata-bata menyumbang pemasukan.

Akankah Desa Sade bertahan? Bisa jadi.

Semenjak pemerintah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata untuk Desa Sade beberapa tahun silam, desa mungil ini diajak belajar menjalankan perannya dengan baik. Sebagai pelaku pariwisata yang mandiri. Tentunya, saya berharap alasan utama mereka senantiasa mempertahankan budaya adalah demi warisan itu sendiri. Bukan semata untuk memuaskan dahaga turis bertopi lebar. Urusan mengentaskan kemiskinan ataupun memajukan pendidikan biarlah menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Desa Sade hanya perlu selalu menjadi dirinya sendiri.

***

desa sade
Seorang gadis sedang merapikan tenunannya
desa sade
Kain tenun khas Sade
desa sade
Di antara rumah-rumah Sasak

Sepasang turis asing melintas di depan gadis itu. Ia menengadah. Senyum tersulam di bibirnya yang merah ceri. Seorang ibu menawarkan kainnya. Gadis itu, kembali tercenung menatap benang-benang bak kepompong di pangkuannya. Saya memutuskan pergi. Suatu hari nanti mungkin akan tersiar kabar tentangnya, tentang kain tenunnya yang memukau pengunjung. Tentang desanya yang masih menjunjung tradisi. Untuk saat ini, mungkin ia masih menanti pemuda yang akan menculiknya.

*) Agar tidak membingungkan dengan istilah yang umum beredar, istilah yang dipakai tetap Desa Sade, bukan Dusun Sade.

Lombok adalah kota ketiga yang dituju dalam acara Social Media Trip & Gathering 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (www.indonesia.travel). Temukan foto-foto dan video perjalanan ini di Twitter dan Instagram melalui tagar #PesonaIndonesia dan #SaptaNusantara.