Ya, sesuai judulnya, bikin visa Jepang itu memang mudah. Asalkan semua persyaratannya bisa terpenuhi.

Saya sendiri awalnya mengira bikin visa Jepang itu sulit. Soalnya, negara Jepang terkenal ketat, taat peraturan, tepat waktu, dan selalu membuang sampah dengan dipilah-pilah dulu yang mana yang organik, nonorganik, plastik, logam, dan lain-lain, lalu masukkan ke kantong plastik yang sudah ditentukan warnanya untuk setiap wilayah. Mereka juga memiliki kebiasaan antre yang sangat baik, tidak pernah serabat-serobot seperti penumpang KRL atau Transjakarta.

Untungnya, di saat-saat saya merasa takut jangan-jangan tidak berhasil mendapat visa Jepang, saya menemukan blog Ariev yang sangat berjasa. Dari tulisannya mengenai cara membuat visa Jepang, saya merasa sangat tertolong. Langkah-langkahnya sangat kronologis dan aplikatif.

Berikut Persyaratan Visa Jepang:



1) Paspor
HARAP DICATAT! Pastikan paspor kamu tidak seumur jagung alias sudah mau habis masa berlakunya. Kalau mau ke luar negeri, sesuai peraturan internasional, masa berlaku paspor tidak boleh kurang dari 6 bulanSaya punya pengalaman menegangkan karena urusan ini. Masa berlaku paspor saya saat ke Jepang tinggal 5 bulan dan saya belum tahu soal peraturan itu (lagian kenapa Kedubes Jepang menyutujui aplikasi visa saya???). Waktu pengecekan di imigrasi bandara, petugas mencegat saya dan minta nomor telepon. Berikut reka ulangnya.

“Mbak, paspornya tinggal 5 bulan, ya?”

“Masa, sih?” Jujur kacang ijo, saya tidak ngeh.

“Peraturannya kalau ke luar negeri minimal harus 6 bulan, Mba.”

“Lalu bagaimana, Mas?” Langsung pucat pasi dan gemetar–karena belum sarapan pagi.

“Saya tidak bisa menjamin Mba boleh masuk Jepang, mungkin akan ditahan di bandara sana dan dipulangkan.”

“Jadi, saya gak bisa berangkat, Mas?” Jangan, Mas, jangan! Saya bukan TKI ilegal!

Gawat! Ini benar-benar gawat, sama sekali tidak lucu kalau saya cuma bisa menginjak Haneda. Bagaimana nasib tiket saya? Saya benar-benar panik.

“Terserah, Mba, mau diteruskan atau tidak. Kalau tetap mau berangkat, kami tidak bisa menjamin bisa masuk Jepang.”

Jegerrr!!! Petir menyambar Terminal 3 Soetta.

“Tapi, saya kan punya visa.” Bersikeras kalau visa adalah segalanya, selain harta dan harkat-martabat, untuk apa punya visa kalau tidak boleh masuk.

“Mba tanggung jawab sendiri, ya.”

“Baiklah.” Pasrah.

Dialog panjang hampir 10 menit itu (yang terasa seperti dua jam) berakhir dengan adegan petugas memberikan sebuah catatan kecil di dekat cap imigrasi Indonesia. “Tanggung Jawab Ybs.”

Dengan langkah gontai dan otak yang bekerja keras, saya berjalan terus menuju Boarding Gate. Masalah sama terulang. Kali ini dengan petugas AirAsia.

“Mbak, ini paspornya tinggal 5 bulan.”

“Iya.” Sudah paham.

“Minimal kalau ke luar negeri harus 6 bulan.”

“Iya.” Sudah paham betul.

“Sebentar, Mba. Saya harus menghubungi atasan dulu boleh atau tidak.”

Yang benar saja, saya tidak boleh masuk pesawat! Saya diminta minggir melipir supaya pengantre berikutnya bisa maju. Hampir 10 menit petugas itu berbicara melalui walkie-talkie.

“Krek… lima bulan.”

“Krek… boleh masuk gak?”

Krak krek krak krek!

“Oke, silakan masuk, Mba.”

Akhirnya, bisa napas juga. Saya sangat tegang membayangkan gagal ke Jepang. Urusan masa berlaku paspor ini benar-benar bikin kepala keriting. Apes banget selama ini saya tidak tahu peraturan itu. Saya bikin paspor tahun 2008 untuk ke Korea (kisahnya ada di sini), lalu tahun 2011 ke Korea lagi. Nah, tahun 2013 ini benar-benar gak ngeh kalau sudah mau habis.

Pengecekan yang sama terulang lagi saat transit di Kuala Lumpur. Mas-mas India berkulit gelap mengatakan semoga saya beruntung bisa masuk Jepang karena paspor tinggal lima bulan. Kalau cuma jalan-jalan satu minggu seharusnya diperbolehkan masuk, hiburnya tulus. Terima kasih, Rahul. Akhirnya ada yang mendukung saya. <

Amanat cerita: perpanjang dulu paspor kamu kalau masa berlakunya sudah mau habis saat bepergian ke luar negeri.

2) Formulir Permohonan Visa
Nantinya, formulir ini dan dokumen-dokumen persyaratan lainnya akan diserahkan saat mengajukan visa di Kedubes Jepang.

3) Pasfoto Terbaru Ukuran 4,5 x 4,5 cm
Setiap negara memiliki syarat ukuran pasfoto yang berbeda. Jadi, cetaklah pasfoto sesuai yang diminta. Sebaiknya latarnya putih, bukan pemandangan gunung, dan jelas. Tolong jangan diedit, kalau sudah sipit, ya sipit aja (ngaca). Foto bisa di studio atau numpang foto di studio kantor (seperti saya) dan cetak sendiri.

4) Fotokopi KTP
Atau fotokopi kartu mahasiswa kalau masih kuliah.

5) Surat Keterangan Karyawan dari Kantor
Kalau sudah bekerja, buatlah surat keterangan bahwa kamu memang karyawan di kantormu. Nantinya surat ini akan ditandatangani HRD atau Manajer juga bisa. Isinya adalah tanggal kamu mulai menjadi karyawan, berapa lama liburan, dan bahwa kamu mampu membiayai liburan kamu. Buat dalam bahasa Inggris, ya, jangan Sansekerta.

6) Bukti Pemesanan Tiket Pesawat
Kalau mau bikin visa ke Jepang, syaratnya harus punya tiket PP. Logikanya adalah visa kamu pasti disetujui karena ada tiketnya, kan. Yah, kecuali kalau lagi apes banget. Beda dengan Korea. Kalau mau bikin visa Korea disarankan tidak membeli tiket PP dulu. Kebayang, kan, perbedaannya?

7) Jadwal Perjalanan selama di Jepang
Ini mudah. Formatnya bisa download di sini. Isi jadwal perjalanan kamu dengan simpel, misalnya hari pertama jalan-jalan di Shinjuku dan Shibuya, hari kedua Ginza dan Akihabara, hari ketiga Odaiba, dan seterusnya. Sertakan juga nama dan alamat penginapan selama di kota tersebut. Nah, berhubung alamat penginapan kamu diminta, maka bukti booking penginapan harus dilampirkan. Tipsnya, lebih baik hunting penginapan di booking.com karena bisa booking tanpa DP dan tidak ada biaya pembatalan cancelation fee. Pokoknya, baca baik-baik keterangan hostel yang kamu pesan karena biasanya setiap hostel punya peraturan berbeda.

8) Bukti Keuangan
Ini adalah syarat mutlak kalau mau liburan ke luar negeri. Yah, masa kamu tidak punya uang. Cukup cetak rekening koran tabungan tiga bulan terakhir. Kalau bisa, dana dalam tabungan diamankan dulu. Jangan sampai dicetak berlembar-lembar isinya cuma lima puluh ribu. Gugurlah visa kamu. Nanti kamu dianggap mau ngamen ke Jepang.

Kalau semua persyaratan di atas sudah komplit, masukkan ke dalam map sesuai urutannya agar rapi dan tidak berceceran. Langsung, deh, tancap gas ke Kedubes Jepang. Untuk Jakarta, lokasinya nyempil di depan EX. Tepatnya di Jalan M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350. Kedubes buka dari Senin sampai Jumat. Pendaftaran visa dilayani pukul 08.00-12.00 WIB dan pengambilan pukul 13.30-15.00 WIB.

Tips Pengajuan Visa ala Yuki:

1. Siapkan semua dokumen yang diperlukan, jangan sampai ada yang tertinggal. Cek lagi sebelum berangkat ke Kedubes.
2. Datang sepagi mungkin, kalau bisa tepat jam delapan. Supaya kamu tidak perlu berlama-lama antre dan bisa balik kantor atau lanjut nongkrong di Plaza Indonesia.
3. Pengamanan di Kedubes Jepang sangat ketat, mulai dari pintu masuk saja sangat aman dan terisolasi (beda banget sama Kedubes Korea). Jadi, bawalah KTP untuk ditukar dengan ID pengunjung di pos satpam.
4. Jangan membawa benda tajam atau narkoba karena kamu akan melewati alat pemindai.
5. Pintu menuju ruang pembuatan visa berlapis-lapis, tapi tenang saja, kamu tidak mungkin tersesat. Jangan panik!
6. Begitu sampai ruang pembuatan visa, ambil nomor antrean di mesin yang disediakan. Jangan salah ambil nomor, ada yang untuk WNI dan ada yang khusus orang Jepang.
7. Setelah nomor kamu muncul di loket, serahkan aplikasi kamu dan bayar (cash) biaya pembuatan. April lalu biayanya Rp350.000. Kamu akan mendapat tanda terima untuk pengambilan visa empat hari kemudian. Jangan dibuang tanda terimanya, ya.

Lalu, saya pun bertanya. “Mas, tahunya visa saya disetujui atau tidak bagaimana?”

“Kalau ada dokumen yang kurang akan kami hubungi, kalau tidak dihubungi berarti disetujui.”

HOREEEEEEE!!!

Saya tidak dihubungi dan empat hari kemudian visa saya yang bergambar Sakura dan berhologram pun jadi. Mudah, bukan?

See you on the top!
See you on the top!