Pantai Kuta, entah kenapa, selalu mengisyaratkan romantisisme. Mungkin karena ia memiliki senja yang dramatis. Mungkin karena matahari luruh bagai begitu perlahan di pantai berpasir halus ini. Mungkin karena ia mengingatkan saya pada kenangan silam. Mungkin karena lautnya selalu terlihat lebih hangat daripada yang terbingkai pada sebuah kartu pos.

Malam itu pantai sama sekali tak terlihat. Saya baru pertama kali menginjak Bali, dan meskipun tiba sekitar pukul sepuluh malam, saya langsung berjalan ke Pantai Kuta. Tentu saja saya tak bisa melihat apa pun. Langit menyatu dengan pantai. Namun, saya dapat merasakan pasir yang menggelitik, dan hangat ketika menjorokkan kaki ke dalamnya.

Saya kemudian sadar, saya tidak sendiri. Banyak orang melakukan hal yang sama di Pantai Kuta malam itu. Sekadar duduk memandang langit yang tak jelas batasnya dengan laut. Bintang satu-dua berkelip. Itu terjadi tujuh tahun silam.

Bulan November tahun lalu saya kembali ke Kuta untuk kesekian kali, dan masih menginap di sekitar Jalan Legian. Area yang tak pernah sepi, malah semakin ramai, dengan musik meraung sepanjang malam. Tengah malam saya dan Mas Yudhie, kawan baru dari trip selama enam belas hari, sengaja menyusuri Legian hingga Pantai Kuta. Ya, saya senang saja berjalan-jalan dan melihat hiruk pikuk di sana.

Kuta memang semakin gemerlap, begitu pula pantai-pantai yang sejajar dengannya–dari Legian, Seminyak, hingga Petitenget. Ia, sesungguhnya, telah menjadi objek wisata andalan Bali sejak awal tahun 1970-an. Ketika itu, pantai yang mendapat julukan Sunset Beach ini ramai disinggahi orang Eropa. Sebelum menjadi objek wisata, Kuta dikenal sebagai pelabuhan dagang ternama. Tercatat pada abad ke-19, seorang pedagang asal Denmark, Mad Johansen Lange, datang ke Bali dan mendirikan perusahaan dagang.

Ia terkenal di kalangan raja Bali dan Belanda karena merupakan negosiator ulung. Ia lalu menikahi perempuan Tionghoa bernama Ong Siang Nio dan putri ketiga mereka, Cecilia Catharina Lange, menempuh pendidikan di Singapura dan menikah dengan Abu Bakar, Sultan Johor yang pertama. Ia adalah nenek buyut Iskandar Muda, yang menjadi Sultan Yang Dipertuan Agung ke-8. Sungguh sejarah yang panjang.

Pada tahun 1987, Hugh Mabbett meluncurkan bukunya yang berjudul In Praise of Kuta, yang bercerita tentang riwayat Kuta sebagai pelabuhan dan kampung nelayan hingga berkembang menjadi objek wisata dengan deretan resort mewah. Akomodasi untuk menampung ledakan wisatawan gencar dibangun ketika itu, dan rasanya hingga kini pun masih. Hotel bintang 1 hingga bintang 5 berjejal di sepanjang Kuta. Kita tinggal pilih sesuai kebutuhan dan tujuan traveling, kalau saya tentu memilih yang dekat pantai. Untuk rekomendasi berbagai hotel di Kuta, bisa dipesan di sini.



Saya berulang kali ke Bali, dan entah kenapa selalu menyempatkan menginap satu-dua hari di Kuta. Lalu menenangkan diri ke Ubud dan sekitarnya. Keriuhan area Kuta, Legian, bahkan Seminyak seakan-akan terus mengundang saya. Pun begitu, saya juga bisa menemukan ketenangan di sudut kafe-kafe di Kuta–kita harus jeli mencarinya. Saya masih bisa menikmati salad dengan tenang, membaca buku, atau sekadar berbincang tentang betapa terik cuaca siang itu dan rencana untuk membeli gelato di Beachwalk.

Saya lihat di sekitar Kuta juga berdiri mal baru, Discovery Shopping Mall. Dalam perjalanan pulang ke bandara, saya melihatnya sekilas. Pusat perbelanjaan ini konon selalu ramai, apalagi dari sana pengunjung dapat menikmati tenggelamnya matahari di Pantai Kuta. Tak jauh dari situ, berdiri pula Kuta Theater, tempat beragam pertunjukan seni dihelat. Sepertinya Kuta berusaha melengkapi diri dengan segala elemen, alam hingga budaya.

pantai kuta




pantai kuta

Bicara Kuta yang sekarang mungkin membuat Lange ingin reinkarnasi. Betapa Kuta di masa ini, dengan segala macam orang yang datang dan pergi, tetaplah menjadi pelabuhan dagang yang hiruk pikuk. Dipenuhi manusia segala bangsa. Dan melihat perkembangan Kuta yang begitu pesat entah ke mana arahnya, gedung-gedung tinggi berebut ruang, saya bertanya-tanya akan masa depan Kuta.

Mungkin bagi banyak orang, romantisisme, apalagi di Kuta, semu belaka. Namun, pada saatnya kaki-kaki melangkah meninggalkan pasir basah, pada saatnya punggung-punggung berbalik, dan tinggal kita seorang di ambang langit, mungkin ia tak terasa usang-usang amat.

Dan, pada akhirnya kutipan Mabbet ini yang menenangkan saya.

“If by some weird mischance the tourists should vanish, the beach lose its surfers and bathers, the hotels and bars and restaurants crumble, the old Kuta would emerge from the ruins and carry on. There is a persistence here, and energy and pride and dignity, that the casual visitor may not perceive.”