“Happiness often comes when least expected.”

 

Saat diberi tahu bahwa rombongan saya akan melanjutkan perjalanan ke Paris—usai menunaikan tugas negara untuk menghadiri Frankfurt Book Fair 2014, rasanya saya ingin melompat-lompat kegirangan. Sungguh, tak disangka akan tiba saatnya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Eropa.

Hari itu pun tiba. Setelah hampir delapan jam berkutat di bangku Bus Euro Lines dari Frankfurt, kami (saya dan empat teman saya) disambut oleh pagi yang dingin di Paris. Namun, keadaan langsung berubah ketika kami menghampiri taksi yang sedang parkir di dalam terminal. Mendadak seorang pria merebut taksi kami. Saat saya memanggil sang supir, pria berwajah Timur-Tengah itu menyela dalam Bahasa Prancis dan menyerobot masuk ke dalam taksi. Tentu saja kami tidak terima. Ia beralasan sudah melihat taksi itu lebih dulu dan koper-kopernya sangat banyak sehingga butuh taksi bermuatan enam orang.

Kami berlima juga butuh taksi itu. Lagi pula, di depannya juga ada taksi sedan. Saya pun menegur sang supir, bertanya siapa yang lebih dulu berbicara padanya, siapa yang ia pilih. Untungnya, ia memihak kami. Namun, masalah belum selesai. Supir taksi sedan di depan tiba-tiba datang dan ribut dengan supir kami. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan–saya tidak paham Bahasa Prancis. Tampaknya mereka memperebutkan penumpang. Cukup lama mereka berselisih sengit hingga akhirnya mengakhiri pertunjukan dengan tangan tunjuk-menunjuk.

Pria berwajah Timur-Tengah itu lalu menanyakan asal kami dengan sinis. “China?” Bukan, jawab kami. “Indonesia.” Mendadak ekspresinya berubah, “Moslem?” Kami serempak mengiyakan. Ia pun berubah manis, “Assalamualaikum.” Mengingat sikap kasarnya sebelumnya, saya tetap dongkol.

Taksi pun meluncur menembus gelap di jalan yang senyap. Dua puluh menit kemudian kami tiba dengan selamat di Hotel Maison du Pré di Rue de Maubeuge. Tak jauh dari stasiun kereta Gare du Nord.



 

Saya, Hector, dan Menara Eiffel

Saya mengenal Hector berkat seorang teman. Ia begitu menggebu-gebu bercerita tentang seorang psikolog terkenal yang berasal dari Prancis. Hector memang psikolog yang baik. Ia selalu melayani pasien-pasiennya dengan penuh perhatian. Namun, belakangan Hector merasa resah. Pasien-pasiennya selalu berdongeng bahwa hidup mereka hampa, mereka tak pernah merasa bahagia. Kurang ini dan kurang itu.




Hector pun penasaran—atau lelah barangkali—terhadap pertanyaan tentang “kebahagiaan.” Bagaimana seseorang bisa dikatakan atau merasa bahagia? Apa tolak ukurnya? Demi mencari jawaban, Hector memutuskan cuti dari pekerjaan dan melanglang buana. Dalam misi Pencarian Kebahagiaan.

Diam-diam saya pun mengagumi Hector. Diam-diam saya merajut mimpi untuk bertemu Hector.

***

Saya tiba di Menara Eiffel sekitar pukul enam sore. Tadinya saya ragu-ragu untuk ke sana. Alasannya sederhana, langit sedang berkabung seusai hujan. Ditambah kamera saya sudah mati. Membingkai panorama terbenamnya mentari tinggal harapan semata.

Menara Eiffel
Under the Eiffel Tower or Tour Eiffel in France

Menara Eiffel memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku. Singkatnya, menara ini dibangun pada tahun 1889 oleh Gustave Eiffel, seorang arsitek dan insinyur sipil Prancis, dengan tujuan untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis. Selesai dalam waktu 2 tahun 2 bulan 5 hari, menara setinggi 324 meter ini merupakan simbol kemajuan teknologi Prancis pada akhir abad ke-19, memasuki era industri. Sebelum menjadi monumen ikonis Paris, Eiffel juga berperan penting sebagai pemancar telekomunikasi. Pada tahun 1903 Eiffel pernah menjadi pusat radio militer, lalu menyiarkan program radio untuk umum pada tahun 1925, dan menyiarkan program televisi.

Sejak berdirinya, hampir 250 juta pengunjung dari seluruh dunia telah berkunjung ke menara yang menginspirasi Menara Tokyo di Jepang ini. Setiap tahun, diperkirakan 7 juta pengunjung—75% merupakan turis asing—menaiki menara ini. Menara Eiffel pun tercatat sebagai monumen yang paling ramai dikunjungi di dunia.

***

“Happiness is knowing how to celebrate.”

Antrean sore itu cukup panjang, mungkin para pengunjung langsung berbaris begitu hujan reda. Turis Asia—India, Korea, dan China—mendominasi pandangan saat saya berdiri di antrean yang mengular. Lima belas menit berlalu, saya sampai di depan loket. Harga tiket masuk ke Lantai 2 adalah 9 €, sedangkan ke Lantai 3 atau puncak Eiffel 15,5 €. Saya memutuskan naik ke Lantai 2 karena langit hari itu tidak terlalu bagus.

Setelah tiba giliran, saya masuk ke ruangan yang merupakan lantai dasar salah satu tiang Menara Eiffel yang menghadap Trocadero. Saat melewati mesin pemindai, petugas memeriksa tas dengan teliti. Kemudian, saya menaiki beberapa anak tangga menuju lift. Sebenarnya, kita juga bisa menggunakan tangga untuk menuju Lantai Dua. Tapi, terima kasih. Kaki saya sudah mau patah setelah sebelumnya berkeliling di Istana Versailles.

Menara Eiffel
The queue at the Eiffel Tower
Menara Eiffel
One of the guest access at the Eiffel Tower
Menara Eiffel
Trocadero and le Carrousel de la Tour Eiffel

Lantai 1 saya lewati karena area pandangnya kurang bagus, dibatasi dinding kaca melebihi tinggi badan pengunjung. Lift naik lagi menuju Lantai 2. Saya disambut oleh toko suvenir yang dipenuhi pengunjung, begitu pula teropong-teropong yang terpasang di keempat sisi Menara Eiffel. Saya langsung berjalan ke pinggir, terpesona dengan lanskap Paris yang serba abu sore itu. Kelabu. Ketinggian 115 meter membuat kita bisa melihat struktur kota yang sangat rapi dan teratur, bagaikan sebuah labirin. Saya pun berpindah-pindah posisi agar dapat melihat 360° panorama Kota Paris.

Saya turun setelah senja luruh seluruh. Matahari tak mengintip sedikit pun. Menara Eiffel kini dihiasi gemerlap lampu keemasan yang sangat cantik. Saya pun teringat pada Hector yang sedari tadi berdiam di dalam tas saya. Hector telah mengajari saya cara-cara sederhana untuk menemukan kebahagiaan; menghargai dan memelihara kebahagiaan. Akhirnya saya bisa mengunjungi negeri asal Hector. Kami pun menghirup udara sejuk malam itu sambil menatap langit. Memandang gemintang Menara Eiffel.

Menara Eiffel
Happiness is a certain way of seeing things

Tips

Untuk menghindari antrean panjang, lebih baik pesan tiket masuk Menara Eiffel secara online di sini. Langkah-langkahnya sangat mudah, terbagi dalam 5 tahap.

1. Pilih
Pilih lantai yang dituju, misalnya Lantai 2 (termasuk Lantai 1) atau puncaknya di Lantai 3. Untuk tiket tangga tidak tersedia secara online. Kemudian, pilih tanggal dan jumlah pengunjung. Di bagian ini harga tiket sudah tertera.

2. Pilih jam kunjungan (sesuai ketersediaan)

Di layar akan terlihat jam-jam kunjungan berwarna hijau. Jika sudah penuh, akan muncul tulisan “No tickets available for the date requested.” Ini berarti kuota tiket sudah habis dan apabila tetap ingin berkunjung di tanggal yang sama, bisa langsung membeli tiket di loket Menara Eiffel.

3. Lengkapi informasi kontak pengunjung

4. Bayar dengan kartu kredit

5. Cetak tiket elektronik atau kirim ke ponsel

 

Perhatikan! Hal ini wajib diketahui apabila membeli tiket Menara Eiffel secara online.

  • Pastikan datang di jam yang sesuai dengan tiket yang dibeli. Kalau terlambat, tidak diperbolehkan masuk.
  • Untuk masuk ke Menara Eiffel, tunjukan tiket elektronik yang sudah dicetak di kertas ukuran Letter, dengan nama lengkap dan informasi pembelian serta bar codes dan nomor yang tertera. Kalau memakai ponsel, tunjukkan bar codes yang ada di layar. Pastikan pula ponsel kalian kompatibel dengan sistem bar codes.
Menara Eiffel
Eiffel Tower at the morning as seeing from Champ de Mars

Menara Eiffel (Tour Eiffel)
Champ de Mars, 5 Avenue Anatole France, 75007 Paris, France
Telepon: +33-892-70-1239
Laman: www.toureiffel.paris/en.html
Buka: 09.00-24.45 (pertengahan Juni-awal September), 9.30-23.45 (rest of the year)

 

P.S.: Hector adalah tokoh utama novel Hector and the Search for Happiness (Penguin, 2010), buku pertama dari trilogi Hector’s Journey, karya François Lelord. Sama seperti tokoh dalam novelnya, Lelord juga merupakan psikolog terkenal di Prancis. Buku bisa dibeli di sini.