Melanjutkan kisah Trip Sumbawa sebelumnya (ini dan itu), kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya ber-snorkeling ria di Pulau Moyo (yang masih perawan, baik hutan maupun lautnya), tepatnya di lokasi yang bernama Takat Sagele. Namanya cukup unik, sayang saya lupa menanyakan artinya.

Lokasi Takat Sagele tak jauh dari lepas pantai Dusun Labuhan Aji, kurang-lebih 30 menit via perahu motor. Atau 2 jam via berenang (silakan buktikan sendiri). Dari Labuhan Aji, Takat Sagele dapat dilihat dengan jelas. Mengapa begitu? Ya, karena Takat Sagele adalah sebuah gundukan karang mati yang sudah hancur berkeping-keping menyerupai butiran pasir.

Gundukan ini tercipta karena ulah nelayan yang hobi mengebom karang-karang di dasar laut demi mendapatkan ikan berlimpah dengan waktu singkat. Alhasil, pecahan-pecahan tersebut menumpuk di satu tempat karena terbawa arus. Dari jauh Takat Sagele terlihat seperti sebuah pulau pasir yang menyembul di tengah lautan luas.

Biasanya, gundukan ini akan terlihat saat air laut pasang pada sore hari menjelang senja. Bisa juga lebih siang, tergantung musim di laut. Nah, dari homestay yang saya tempati di pinggir pantai, saya bisa melihat langsung Takat Sagele yang termahsyur dan menjadi tujuan snorkeling berbagai kapal pesiar dan kapal Live on Board dari Flores dan sekitarnya itu.

Dermaga Labuhan Aji
DSC0009
Mami dan senjata perangnya
Monyet endemik Moyo. Kenapa dikandangin? :(
Monyet endemik Moyo. Kenapa dikandangin? 🙁
New friend
New friend

Pada hari kedua berada di Pulau Moyo, saya dan Mami serta guide-friend saya yang baik hati, Ryan namanya, memutuskan untuk mulai snorkeling jam 8 pagi. Berbekal snorkel pinjaman, saya dan Mami berjalan ke pelabuhan yang jaraknya selemparan kolor Saiful Jamil ketika keluar dari penjara dan melakukan ritual konyol di Ancol. Ryan sudah menunggu dan terlihat mengobrol bersama abangnya, si pemilik perahu yang akan kami sewa.

Ternyata, gundukan Takat Sagele sama sekali belum terlihat pagi itu. Rupanya ombak sedang lumayan tinggi. Saya sempat ingin menunda acara snorkeling kami, ke Matajitu Waterfall dulu lalu sorenya snorkeling. Tapi, ada muda-mudi asal Jakarta dan Bali (5 orang) yang akan berangkat ke Matajitu pagi itu. Otomatis kami akan bentrok di Matajitu, berebut spot foto.

Ryan pun memberi usul agar kami tetap berangkat snorkeling pagi itu, lalu pulang siang dan lanjut ke Matajitu, dan sorenya kembali lagi ke Takat Sagele untuk memburu sunset. Usul yang menarik! Apalagi saya dapat potongan harga. Tadinya saya harus membayar dua ratus ribu rupiah untuk sekali trip snorkeling, tapi diskon menjadi tiga ratus ribu rupiah untuk dua kali trip.



Mejeng sama Zul sebelum berangkat snorkeling
Mejeng bersama Zul sebelum berangkat

Gaya dulu sebelum tabrakan

Kami pun segera mencelupkan kaki ke air dan naik perahu (yang kemudian kami namai Perahu Aman-aman Saja, mengikuti gaya penamaan kapal milik Amanwana Resort, yaitu Aman 1, Aman 2, dan seterusnya). Zul, nakhoda andalan kami, menyalakan mesin berkali-kali namun tidak menyala. Sepertinya saya kurang berjodoh dengan mesin perahu. Kejadian sama juga terjadi waktu saya ke Pulau Kenawa. Setelah berulang kali dicoba, mesin pun menyala dan perahu melaju kencang dan Mami berteriak….

“ZUUUUULLLLL!!!!”




Ryan langsung terjun ke air dengan pakaian lengkap.

Saya menengok ke depan dengan gerakan slow motion. Ternyata perahu kami mengarah persis ke perahu lain yang sedang parkir.

Braaaaakkkk!

Tabrakan tak terelakkan. Nyaris saja perahu kami terbelah andaikan Ryan tidak loncat dan mendorong perahu yang sedang parkir itu agar tidak tertabrak di bagian tengahnya. Perahu kami hanya menyenggol bagian kepalanya.

Orang-orang di pinggir pantai terperangah sambil berteriak-teriak. Tentunya dalam bahasa Sumbawa yang tidak saya pahami. Ryan pun naik dan tertawa. Ya, si Ryan ini memang tidak pernah marah atau panik barang sedikit pun. Heran saya.

Dua puluh menit kemudian lokasi Takat Sagele (yang belum menyembul) pun terlihat. Area melingkar di Takat Sagele berwarna hijau toska, pertanda air yang tidak dalam. Kalau biru gelap biasanya bagian air yang dalam. Takat Sagele tampak seperti bundaran yang dikelilingi gradasi warna biru tua, biru muda, biru toska, dan hijau toska. Sangat cantik!

Perahu pun lempar sauh dan Ryan lempar diri ke air. Saya sibuk memotret dan bersorak-sorak norak.

“Keren bangeeet! Mami, Mami, lihat keren bangeeet!”

Look at the water!
Look at the water!
Tiba di Takat Sagele
Tiba di Takat Sagele
Area berwarna putih adalah gundukan karang yang masih tenggelam
Area berwarna putih adalah gundukan karang yang masih tenggelam
Foto-foto dulu mumpung masih kering
Foto-foto dulu mumpung masih kering

Mami pun membuka kostumnya dan langsung loncat indah, berenang seperti anak kecil. Dia hanya memakai mask tanpa snorkel, katanya ribet. Zul pun sudah tawaf memutari perahu. Lalu saya? Saya bagaimana?

Mari kembali ke adegan di pinggir pantai sebelum berangkat.

***

“Ryan, snorkel-nya ada gak?”

“Ada kok, tapi di sini cuma ada 5 set.”

Di Pulau Moyo memang belum ada tempat penyewaan snorkel. Lima set itu milik si empunya perahu, abangnya si Ryan.

“Oh, oke, saya bawa alat sendiri. Kalau jaket pelampung ada, kan?”

“Gak ada.”

Jreng-jreng! Mati gue!

“Kenapa?” tanya Ryan dengan lugu.

“Si Yuki gak bisa berenang,” jawab Mami sambil cekikikan.

Huh, mentang-mentang bisa berenang!

Astagfirullah, Yuki gak bisa berenang. Saya pikir dia pandai berenang, Bu.” Balas Ryan terkaget-kaget sambil melirik tas snorkel saya. Pasti pikirnya, menang gaya doang nih cewek!

“Kenapa gak ada pelampung, di sini kan banyak perahu?” Bukankah setiap perahu paling tidak wajib memiliki life vest untuk standar keselamatan, Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air?

“Iya, saya baru rencana mau beli, Mba, karena di sini memang belum ada,” sela abangnya si Ryan.

Ya, wajar saja kalau tidak ada life vest dan hanya ada 5 set snorkel di Pulau Moyo. Turis yang datang ke pulau ini bisa dihitung jari, kecuali turis dari kapal pesiar yang singgah atau tamu Amanwana Resort—yang tentunya mendapatkan fasilitas lengkap tanpa perlu mencari tempat penyewaan snorkel.

***

Kembali ke perahu yang sudah berlabuh di Takat Sagele. Setelah bengong sejenak, saya pun turun ke air. Untuk foto-foto narsis. Mask, snorkel, dan fin sudah ditenteng, tapi saya bingung bagaimana siasat berenang tanpa life vest. Jujur saja, saya sangat payah berurusan dengan air. Zul, si tukang perahu nan baik hati pun angkat bicara.

“Mbak Yuki langsung snorkeling aja, pasti bisa jalan kalau pakai fin.”

Gue juga tahu, tapi masalahnya gimana cara gue bisa ngambang kalau kecapean.

Snorkeling aja, Ki, dekat-dekat perahu. Nanti saya bantuin.” Ryan berusaha menghibur saya.

Saya berdiri di tengah lautan lepas
Berdiri di tengah laut lepas

Saya pun nekat snorkeling tanpa life vest untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Pertama-tama Ryan menemani (sesungguhnya menyeret) saya ke dekat perahu, lalu saya berpegangan di sisi perahu.

Baiklah, nekat saja!

Saya berenang dan woooow…. Walaupun terumbu karang di sekitar agak hancur, ikannya sangat banyak dan berwarna-warni. Indah sekali. Ada yang bernama Angel Batman, Napoleon, dan kawan-kawan—hanya Zul seorang yang hapal nama-namanya. Saya pun keenakan dan semakin menjauh dari perahu, mengarah ke palung yang lebih dalam. Sebenarnya bukan karena keinginan sendiri, melainkan terbawa arus. Wajar saja, Takat Sagele berada di tengah lautan lepas sehingga arusnya sangat kencang.

Untuk kamu yang jago berenang dan menyelam, turun saja ke bagian dalam karena di situ ikannya lebih banyak dan besar-besar. Ryan yang sudah sering berenang saja sampai kegirangan karena melihat ikan-ikan di sana.

Saya pun ngaso dan minum air (baca: tenggelam dan gelagapan menelan air laut). Ryan the Massive Savior pun langsung berenang menarik saya untuk berpegangan di perahu.

“Jangan jauh-jauh, Ki. Di situ dalam.”

“Hahaha, iya keenakan.” Padahal terbawa arus.

Begitulah adegan snorkeling dan diseret Ryan dan Zul itu terjadi silih berganti. Saya tidak kapok-kapok berenang lalu minum air laut. Snorkeling yang sungguh mengenyangkan!

Lanjut snorkeling ke mana lagi, ya?
Lanjut snorkeling ke mana lagi, ya?