Ia melangkahkan kaki kanan, dengan sepatu berhak runcingnya, di aspal dan hendak tergelincir ketika sesosok lengan menangkapnya sebelum ia melayang menghadap langit. Ia tak jadi tergelincir. Malam pertamanya bertemu salju takkan menjadi mimpi buruk. Gadis itu, dan pria yang seperempat kali lebih tinggi darinya, kembali menyusuri deraan salju. Pada malam dingin di Insa-dong.

Insa-dong adalah sebuah distrik kultural di Seoul yang dianggap sebagai pusat seni dan kerajinan tangan terpopuler di Korea Selatan. Di gang-gang yang berbaris di sana, terlihat betapa budaya tradisional Korea melebur kuat. Galeri seni tersebar di sudut-sudut, begitu pula toko-toko antik. Ketika pertama kali menginjak Insa-dong pada tahun 2008, gadis itu akan mengenangnya sebagai hari ketika ia hampir menghantam aspal karena salju.

Malam itu ia berjalan bersama temannya yang berkebangsaan Korea, di kala salju pertama di musim dingin turun dengan derasnya. Dalam cuaca begitu pun, temannya seperti memaksa bahwa mereka benar-benar harus mengunjungi Insa-dong saat itu juga. Sepotong syal terpaksa dibeli untuk menambal syal mungil gadis itu. Gadis yang tak mengira salju akan sedingin itu. Tentu saja, mereka tak sempat singgah ke satu toko atau galeri mana pun karena sudah tutup. Di antara gigil dan langkah patah-patah, mereka menyelamatkan diri ke sebuah restoran di gang kecil, yang menyajikan menu lengkap hidangan Korea. Bibimbab, Dubu Jigae, Japchae, Pajeon. Mereka makan kenyang betul malam itu.

Siapa sangka pula, tiga tahun kemudian. Ia kembali ke gang kecil itu. Tak jauh dari restoran yang pernah didatanginya ternyata ada sebuah penginapan mungil. Yang tanpa sengaja ia pesan untuk kunjungan keduanya ke Korea. Maka, ia seperti menyusun kembali kepingan kenangan ketika pertama kali menginjak tempat itu.

Tidak ada yang berubah dari Insa-dong. Ia selalu menerbitkan kenangan manis. Paling tidak begitu, bagi sang gadis. Beberapa hari berikutnya, setelah ia dan temannya menyusuri petak-petak licinnya pada malam bersalju, ia kembali dengan temannya sesama tamu yang diundang oleh badan penerjemahan sastra Korea, KLTI (Korean Literature Translation Institute), Yanislava si Pemudi Bulgaria yang mahir berbahasa Inggris dan Andrés, pemuda Peru yang terlalu dini bercita-cita menjadi pendeta, yang selalu menyebutkan ‘photograph’ ketimbang ‘picture’. Mereka bertiga kegirangan memborong suvenir warna-warni, yang mengingatkan gadis itu pada perayaan Holi. Ia pun sumringah ketika seorang ajumma, pedagang ibu-ibu, menyapanya dengan “selamat siang.”

Bahasa Korea gadis itu belum selancar saat ini, tetapi ia mengerti bahwa ajumma itu bercerita tentang orang-orang Indonesia yang pernah berbelanja di tokonya. Ia lalu mendapat bonus dua dompet kecil.

insa-dong
Suasana di Insa-dong pada akhir pekan
insa-dong
Galeri-galeri di sepanjang Insa-dong
insa-dong
Jajanan kaki lima
insa-dong
Kafe di Insa-dong
insa-dong
Toko-toko suvenir dan kerajinan tangan tradisional

Ketika mengenang-ngenang kembali Insa-dong, samar di antara memori tentang Seoul dan kota-kota lain yang ia sukai, ia melihat koper yang diseret-seret, uap yang berembus dari mulut pemuda yang bercakap-cakap, tangan yang bersarung wol tebal, seringai gadis yang bergandengan dengan kekasihnya, jalan-jalan kecil yang mengarah entah ke mana, dan bapak-bapak yang menumbuk adonan kue tradisional di pinggir jalan. Ia bahagia betul bangun setiap pagi dan menyaksikan gairah seni yang menguar di Insa-dong.



Ada sekitar seratus galeri seni di sana, mulai dari seni lukis hingga seni patung, yang hampir setiap hari ia amat-amati spanduknya. Tiba-tiba gadis itu merasa bodoh. Mengapa tak terpikir olehnya untuk mengunjunginya. Hakgojae Gallery, pusat kesenian daerah, dan Gana Art Gallery adalah salah dua yang mewakili kejayaan Insa-dong sebagai pusat seni semenjak ratusan tahun silam. Ia belum pernah ke sana. Gadis bodoh itu.

Ia tahu, pada masa Dinasti Joseon (1392-1910), sepanjang jalan di Insa-dong didominasi oleh Dohwawon, tempat belajar untuk para pelukis. Budaya itu bertahan hingga kini. Dan orang-orang berdatangan ke Insa-dong untuk melihat penghargaan tertinggi manusia terhadap seni.

Sekembalinya ke rumah, pada hari-hari yang mendung ia lalu murung. Teringat bahwa ia juga belum sempat menyesap teh di Insa-dong. Ia pikir bisa segera kembali ke Korea saat itu—ia ingin berkuliah di sana, sehingga ingin perlahan saja menghirup atmosfir Insa-dong. Yang membuatnya seperti berada di era dinasti-dinasti Korea.




Begitulah, ia malah asyik menikmati atraksi di sepanjang jalan Insa-dong, menonton pertunjukan dadakan yang mengundang gelakak. Ia memandangi hanbok dari balik kaca toko, mengelus-elus cangkir seladon, melipat-lipat hanji yang diberikan pemilik toko padanya.

insa-dong
Atraksi membuat kue tradisional
insa-dong
Pameran seni di Insa-dong
insa-dong
Si gadis bodoh itu

 

Kini, ketika membayangkan jajaran tea house di Insa-dong, ia ingat pada temannya yang sangat menyukai teh—Maesy akan senang betul singgah ke sana. Pula terbayang kafe-kafe cantik di sana, yang menawarkan kehangatan dan harga lebih murah ketimbang sudut lain di Seoul.

Pada pagi terakhirnya di Korea, ia menuruni tangga penginapan dengan santai. Menyapa kakek penjaga di bilik kecilnya di bawah tangga. Di luar ia menengadah menyerap sinar matahari. Hari itu lumayan cerah, ia hanya mengenakan jaket kulit. Beberapa toko antik sudah menggelar dagangan hingga ke jalan dan pemilik toko tersenyum padanya. Ia berjongkok mengamati kepingan-kepingan perak yang tergeletak acak, lalu berbincang dengan sang bapak. Gadis itu, ya gadis bodoh itu, merasa bahwa hari-harinya di Insa-dong tiada akan pernah berakhir.

 

P.S. Hingga kini saya belum kesampaian mengunjungi galeri-galeri di Insa-dong, semoga bisa tercapai suatu hari.