Saya jarang berbicara tentang perasaan, apalagi mengungkapkannya kepada orang lain. Sayangnya, itu juga berlaku dalam keluarga. Saya mungkin termasuk orang yang enggan berbicara tentang perasaan kepada orang tua atau saudara, utamanya kepada ibu saya. Untuk yang senang-senang, sih, biasanya saya akan membaginya dengan santai. Tapi, untuk masalah atau duka saya sering menyimpannya sendiri. Tak ingin membikin orang lain turut susah atau, yang sering kali terjadi, saya merasa tak ingin terlihat susah. Mungkin itu tidak wajar, malah tidak terlalu baik.

Menjelang pernikahan adik saya, Yuya, bukannya merasa resah akan ditinggal pergi nantinya, saya senang-senang saja menyambutnya. Tak panik sedikit pun. Ayah dan ibu saya jelas panik luar biasa. Mereka seperti tak bisa fokus sepanjang waktu, tak memijak bumi, apalagi ayah saya yang saat menikahkan Yuya pun sampai terbata-bata. Sementara, ibu saya begitu gembira menjalani ijab kabul dan pesta pada malam harinya. Apalagi, abang saya, yang malah seperti orang yang sedang mabuk. Semalaman ia begitu gembira, berfoto di sana-sini sambil merangkul adik saya dan saya–hal yang sangat jarang ia lakukan. Sehari-hari ia seperti alergi pada sentuhan. Ya, semuanya berbahagia hari itu.

Hingga saya menyadari bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk mengatasi lara. Ya, barangkali itu. Lara akan perginya seorang adik perempuan. Yang kini berpindah ke rumah lain.

H+1 Pernikahan Yuya
Saya membuka pagar rumah, dan ibu saya menyapa dari dalam, “Yuki, ya?”



Saya menyahutinya lalu masuk. Ia duduk di meja makan, termenung, “Untung Yuki pulang, mami sendirian udah mau nangis.”

Hati saya mencelus. Ia sedang menahan tangis.

Saya bahkan pergi tak terlalu lama, hanya satu-dua jam. Hari ini pun saya tidak ngantor karena flu berat dan suara saya hilang. Saya tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi, begitulah. Saya memang bebal. Percakapan kami sebatas itu. Saya lantas tidur setelah minum obat.

Saya terbangun karena suara gesekan di lantai. Ibu saya sedang membereskan kamar adik saya. Ia pun bertanya sampai kapan adik saya akan menginap di hotel. Yuya memang langsung menuju hotel setelah pesta usai. Saya mengirim pesan lewat Whatsapp menanyakan hal itu. Yuya pun menelepon Mami. Ia sudah kembali ke rumah orang tua suaminya. Mami lanjut membereskan rumah.

H+2 Pernikahan Yuya
Sekarang dini hari. Saya baru selesai menonton sebuah film. Saya menghampiri kulkas untuk mengambil air. Melewati kamar Yuya, saya melihat ibu saya terlelap di sana. Hati saya kembali mencelus. Bagaimana kami akan menghadapi hari esok, padahal barang-barang Yuya pun masih rapi di tempatnya. Sama sekali belum dikemas. Tapi, saya tahu kali ini berbeda. Ini bukan sekadar anak SMA yang izin menginap di rumah teman sebangkunya lantas pulang esok harinya.

Selama berpuluh-puluh tahun kami berlima tinggal serumah–kami bertiga tak pernah ngekos dan jauh dari orang tua–akhirnya sebuah babak baru mengubah hidup kami.

Melihat tubuh ibu saya yang terkulai di kamar yang kini kosong itu saya sungguh tak sanggup. Besok saya akan ngantor, begitu pula ayah dan abang saya. Lalu, ibu saya sendiri di rumah. Kemudian, saya yakin, ia akan meneteskan air mata. Banyak sekali.

Lalu, bagaimana saya sanggup meninggalkannya?

image2

Jakarta, 19 Januari 2016.

Photos: tamagraph