Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikanya tiada.

 



Untaian bait itu mengawali peluncuran novel terbaru Sapardi Djoko Damono yang berjudul Trilogi Soekram di sebuah toko buku di Central Park beberapa minggu silam. Ditembangkan oleh seorang wanita dengan iringan petikan gitar. Saya pun terbuai seketika, kembali pada masa ketika menghabiskan hari-hari di Fakultas Sastra*. Duduk-duduk bersama teman dan bercerita tentang puisi dan penyair kesukaan. Tentang kisah-kisah cinta sederhana yang sering kali berlalu begitu saja. Dan apabila hujan turun, kami memandangi jendela dan merajut puisi dalam hati. Sentimental betul, memang.

Saya mengenal sosok Sapardi Djoko Damono lebih akrab saat kuliah. Ketika harus mempelajari tentang puisi ataupun cerita rekaan (fiksi). Saya meminjam semua bukunya dari perpustakaan–hanya mampu membeli beberapa saat itu–lalu mencatat bagian-bagian favorit di halaman binder. Beberapa kali pula beliau terlihat berjalan menyusuri fakultas, tetapi saya hanya mampu mengagumi dari jauh. Sayang, beliau hanya mengajar mata kuliah sastra untuk pascasarjana ketika itu.

Hingga suatu hari, saya mendapat informasi tentang acara peluncuran novel terbarunya dari grup Bengkel Penulisan Novel DKJ 2009. Saya dan teman-teman—yang menyebut diri sebagai montir—pun memastikan diri untuk hadir.




trilogi soekram
SDD meresmikan peluncuran novel terbarunya

Kelas Hujan Bulan Juni

Saat tiba di tempat acara berlangsung, kursi sudah dipenuhi oleh para pemuja Sapardi Djoko Damono. Saya melirik ke samping, beberapa orang terlihat sedang meminta tanda tangannya. Raut wajah SDD sungguh menarik, antara ramah dan malu-malu. Kemudian, pembawa acara meminta beliau maju dan memulai acara yang bertajuk “Kelas Hujan Bulan Juni” itu.

“Saya berdiri saja, ya, karena saya selalu berdiri kalau mengajar.”

Para peserta yang memadati kursi pun tertawa kecil menyambut sang maestro. Beliau sudah menyiapkan presentasi berupa slide Powerpoint. Benar-benar seperti kembali kuliah! Beliau pun mulai berdongeng. Banyak hal menarik yang baru saya ketahui hari itu. Bahwa SDD lebih dulu menulis cerita dalam bahasa Jawa karena tidak bisa berbahasa Indonesia hingga SMA.

Sejak SMP pun sebenarnya beliau telah mengarang cerita anak-anak, tetapi selalu ditolak oleh media cetak. Tulisannya dianggap tidak masuk akal. Itulah menariknya, menurut SDD, hidup itu tidak masuk akal. Cerita yang ia tulis diangkat dari kejadian-kejadian dalam hidupnya, yang sering kali memang tidak masuk akal.

“Menulis cerita harus ada bohong. Ya, fiksi itu.”

Pertama kali karyanya dimuat di Kompas pun beliau bingung. Ada yang menyebut karyanya adalah puisi, padahal baginya cerita pendek. Ia tak mempermasalahkannya. Ia hanya ingin menulis apa adanya.

trilogi soekram
SDD membacakan beberapa paragraf dari novelnya
trilogi soekram
Kelas Hujan Bulan Juni pun dimulai
trilogi soekram
SDD bercerita tentang pengertian puisi
trilogi soekram
Merekam momen bersama SDD

Puisi untuk Dihayati, bukan Dipahami

Menyoal dunia kepenyairan di Indonesia, beliau punya pendapat sendiri. Beliau merasa bahagia saat menulis, tak mengharapkan apa pun. Sebab, menjadi penyair di Tanah Air tak bisa mendapatkan materi berlimpah, beda dengan luar negeri. Menjawab pertanyaan yang sering kali diutarakan pembaca, tentang arti atau makna di balik puisi yang ditulisnya, SDD menjawab tidak tahu.

“Puisi itu sesuatu yang dibikin tidak untuk dipahami, tapi dihayati.”

Saat puisi-puisinya diadaptasi menjadi lagu pun beliau ikhlas. Ketika selesai menulis puisi dan dibaca orang lain, puisi tak pelak menjadi milik umum.

“Lagi pula saya mencari nafkah dari mengajar, jadi guru,” ujar SDD lebih lanjut.

Beliau pun menyatakan bahwa puisi dan lagu itu memang berjalan seiringan, “Orang Jawa nulis puisi untuk ditembangkan, jadi puisi itu lagu.”

Para peserta tampak tersihir oleh setiap perkataan Sapardi Djoko Damono. Saya pun begitu. Ketika sesi tanya-jawab dibuka, serentak peserta mengacungkan tangan. Beliau menjawab semua pertanyaan dengan jujur dan memukau. Bahkan, teman saya, Andina, berkesempatan untuk maju ke depan untuk membacakan puisi favoritnya, “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari.” Ternyata, puisi ini juga merupakan puisi kesukaan SDD. Ia pun bercerita tentang proses kreatifnya yang sederhana.

Peluncuran novel Trilogi Soekram dan Kelas Hujan Bulan Juni ditutup dengan sesi pemberian tanda tangan, dan tak ketinggalan foto-foto. Sebelum acara berakhir, SDD mendapat kejutan ulang tahun, yang jatuh pada tanggal 20 Maret, dari editornya. Beliau mendadak menjadi seperti anak kecil, duduk dan menunduk. Dengan sungkan ia meniup lilin dan menerima nyanyian selamat ulang tahun. Yah, tak semua orang suka dengan perayaan ulang tahun, bukan?

trilogi soekram
Andina membacakan puisi SDD
trilogi soekram
SDD menunduk di belakang
trilogi soekram
SDD dengan topi pet dan tongkatnya
trilogi soekram
Antrean penggemar yang ingin mendapatkan tanda tangan
trilogi soekram
“Wah, kamu bandar, ya?” ledek SDD.
trilogi soekram
Buku titipan dari teman-teman untuk ditandatangani
trilogi soekram
Mengambil kesempatan untuk bertanya siapa penyair favorit SDD, ada yang bisa menebak jawabannya?
trilogi soekram
Berfoto bersama penyair idaman
trilogi soekram
Para montir Bengkel Penulisan Novel DKJ yang riang gembira

Kuis Novel Trilogi Soekram

Untuk memperingati World Book Day 2015 pada 23 April kemarin, saya ingin membagikan sebuah novel Trilogi Soekram yang bertanda tangan Sapardi Djoko Damono. Novel ini bercerita tentang tokoh Soekram yang menggugat sang pengarang yang telah menciptakannya, yang sayangnya telah meninggal dunia. Ia pun keluar dari buku dan menemui orang-orang untuk mempertanyakan nasibnya. Kisah ini berlatar pada peristiwa kerusuhan 1998. Penasaran dengan kisahnya, kan?

Ada kabar baik pula untuk penggemar Sapardi Djoko Damono, novel berikutnya yang terilhami oleh puisi “Hujan Bulan Juni” kabarnya akan terbit bulan Juni mendatang!

 

Berikut ini syarat dan ketentuan untuk mengikuti kuis ini.

  1. Follow Twitter @yukianggia dan Instagram @yukianggia.
  2. Tinggalkan komentar di bawah tulisan ini. Ceritakan mengapa kamu ingin mendapatkan novel Trilogi Soekram? Di bawahnya, tuliskan nama serta akun Twitter dan Instagram kamu.
  3. Tweet ini: Soekram dan World Book Day 2015 | http://ohelterskelter.com/soekram-dan-world-book-day-2015/ | Ikuti #KuisTrilogiSoekram dari @yukianggia.
  4. Kuis akan ditutup pada 8 Mei 2015 pukul 23.59 WIB dan diumumkan pada 9 Mei 2015.
  5. Selamat mengikuti dan semoga beruntung! 🙂

 

*) Fakultas Sastra UI, semenjak 27 Juni 2002, berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, tetapi saya lebih senang menyebut Sastra.

P.S.: Selamat Hari Buku Sedunia! Ayo, baca buku!

 

Photos: @tamagraph