Sudah lama saya mendambakan untuk memotret Milky Way atau Galaksi Bima Sakti. Gugusan bintang yang berkilauan di langit yang cerah tentunya mampu membuat semua orang terbuai. Ada yang betah memandanginya menit-menit, ada yang lantas berjuang untuk mengabadikan momen itu. Saya sendiri termasuk yang pertama, karena enggak ngerti-ngerti amat memotret Milky Way.

Entah berapa kali saya takjub menyaksikan samudra bintang di angkasa. Ya, bintang-bintang itu bagaikan mengambang di lautan nan pekat. Gunung Bromo, Dieng, Lombok, Pulau Moyo, Pulau Seram, Pulau Kei Kecil; di sanalah saya menyaksikan Milky Way terindah. Baru-baru ini saya pun kembali lagi ke Gunung Bromo untuk menikmati hujan meteor atau bintang jatuh.

Mas Widhi dari Landscape Indonesia sangat bersemangat malam itu, katanya malam itu akan terjadi hujan meteor Taurids yang dapat dilihat dari tengah malam hingga pagi hari. Karena itu, kami pun berangkat seperti zombie hendak cari mangsa ke Bukit Kingkong.

Ternyata, ahli nujum kami itu memang benar, begitu tiba di titik pandang di Bukit Kingkong, kami disambut oleh tiga bintang Sabuk Orion. Wah, saya betul-betul terpukau dan gembira seperti kanak-kanak. Satya pun buru-buru membuka aplikasi Star Chart untuk melihat keberadaan Milky Way. Dan, kemudian satu demi satu bintang berjatuhan disambut sorak-sorai kami.

bukit kingkong bromo
Foto bintang pertama saya, harap maklum.

Sebenarnya lokasi ini tak terlalu nyaman, ada pagar dan pohon besar di sisi kanan yang menghalangi panorama langit–apalagi angin kencang membuatnya bergoyang-goyang dan agak mengusik proses pemotretan bintang. Ya, awalnya saya tak terlalu ambil pusing karena memang tak berambisi untuk memotret Milky Way–saya masih amatir, tak bawa tripod pula.

Tapi, itulah, melihat ketekunan Mas Widhi dan Satya, saya pun mencoba memotret bintang dengan benar untuk pertama kalinya–sebelumnya saya pernah mencoba memotret Milky Way di Dusun Labuhan Aji di Pulau Moyo dan hasilnya pas-pasan. Pas tidak bagus.

Mas Widhi pun menjelaskan tips dasar memotret Milky Way, yang kemudian saya praktikkan dengan meletakkan kamera saya di atas pagar, bersandar pada sebuah batu bata yang saya alasi dengan syal. Darurat betul!



Berikut ini 7 tips memotret Milky Way.Β 

1. Ganti dahulu format foto menjadi RAW, kita harus rela menghabiskan memori karena foto bintang memang biasanya perlu dilanjutkan dengan pengeditan.

2. Ubah pengaturan kamera menjadi Manual (M).

3. Ubah White Balance menjadi Color Temperature K 4300 (atau disesuaikan dengan kondisi saat memotret).




4. Atur ISO ke angka yang cukup tinggi, nantinya ini dapat disesuaikan dengan kondisi saat memotret. Saya mencoba ISO 2400, lalu 3200. ISO yang tinggi berarti berisiko noise, tapi ini dapat diatasi dengan Long Exposure Noise Reduction dan pengeditan.

5. Gunakan Shutter Speed lambat, yaitu 30 detik, agar dapat menangkap gugusan bintang dengan baik. Jika tidak bawa tripod, pastikan kamera diletakkan di tempat yang tak bergerak.

6. Gunakan Aperture (diafragma) terendah yang ada di kamera, semakin kecil semakin baik, umumnya f/2.8. Makin kecil makin baik karena dapat menangkap cahaya lebih banyak.

7. Ubah fokus menjadi Infinity, lalu arahkan ke gugusan bintang yang hendak difoto. Untuk mengatur komposisi, lihat dari View Finder karena LCD pasti gelap.

Bagaimana pun, memotret Milky Way tidak segampang itu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, kita harus rajin berlatih dan mengulang langkah-langkahnya. Jangan ragu untuk mengutak-ngatik angka demi mendapat hasil yang diinginkan, misalnya dengan mengubah-ubah ISO. Selain itu, menurut Mas Widhi, ada beberapa faktor lain yang menentukan proses memotret Milky Way, antara lain lokasi, waktu, cuaca, body kamera, lensa, dan yang paling penting kondisi tubuh! Biasanya kita memotret bintang tengah malam di pegunungan yang dingin, ini juga membuat saya sulit berkonsentrasi dan gemetar. Jaga kondisi tubuh dengan pakaian tebal atau minuman hangat, jangan sampai dapat foto bintang, tapi besoknya meriang.

Lokasi pemotretan sebaiknya tempat yang luas dan tidak tertutupi banyak bangunan ataupun pepohonan, cuaca juga harus cerah dan tak ada polusi udara ataupun cahaya. Saya waktu itu menggunakan lensa 17-40 f/4 L, jadi bukaannya memang tidak lebar dan butuh waktu lama untuk menangkap cahaya. Dan, Saya masih harus banyak berlatih memotret Milky Way.

memotret milky way
Saya, Sefin, dan Leoni menjadi model (credit: Mas Widhi)

Nah, kalau kalian punya tips yang lebih bagus atau pengalaman seru saat memotret Milky Way, boleh berbagi di kolom komentar.