Kepulauan Rempah. Begitu menyebutnya, kita semua mungkin akan teringat pada Kepulauan Maluku di timur Indonesia. Tapi, pada perjumpaan pertama dengan Pulau Ternate di Maluku Utara, saya terserang penyakit lupa yang sering mengintai ketika saya terlalu kasmaran terhadap sesuatu.

Saya alpa terhadap rempah-rempah.

Mungkin karena ini kali pertama menginjak Ternate. Saya terlalu kegirangan. Pula karena keesokan harinya akan terjadi fenomena ajaib di negeri ini. Gerhana Matahari Total. Saya lantas datang dengan kepala terlalu bercahaya, penuh dengan sinar matahari, tapi kosong adanya.

Begitu mendarat di Bandara Sultan Babullah yang dihadang patahan tebing vulkanik di halaman depannya, saya dan rombongan langsung menuju sebuah kedai untuk sarapan. Rumah Makan Kamis namanya. Sarapan khas berupa nasi kuning dan lontong sayur pun tandas pagi itu, akibat penerbangan dini hari yang hampir saya lewatkan karena salah melihat jadwal.

Dengan iring-iringan mobil, saya pindah haluan ke Benteng Kalamata–diambil dari nama Pangeran Kalamata, adik Sultan Ternate Madarsyah. Dahulu benteng yang terletak di Kelurahan Bastiong, Kecamatan Ternate Selatan ini bernama Santa Lucia. Ia dibangun pada tahun 1540 oleh seorang penjelajah asal Portugis, Fransisco Serrão. Ia menjadi orang Eropa pertama yang melewati Malaka dan berlabuh di Maluku pada tahun 1512. Tapi, berdasarkan palang informasi yang dipacak di depan, Benteng Kalamata dibangun oleh Antonio Pigaveta.

Misinya waktu itu jelas tercatat dalam sejarah. Ia berburu rempah-rempah, utamanya pala dan cengkih yang memang tumbuh subur di pulau-pulau kecil di Maluku Utara. Sebut saja Ternate, Tidore, Bacan, Makian, Moti, Banda, Naira, Run, Ai, Rozengain. Saudara sepupu Ferdinand Magellan ini–namanya mungkin sudah sering kalian dengar dalam pelajaran Sejarah–pun lantas menguasai perdagangan rempah-rempah di Malaka. Sebuah titik awal kolonialisasi terhadap Negeri Rempah, dan seluruh Nusantara pada kemudian hari.

Benteng Kalamata dibangun demi mempertahankan dominasi Portugis terhadap komoditas Maluku, dari gempuran Spanyol yang bercokol di Tidore. Ketika itu, negara-negara Eropa asyik mahsyuk mencari celah menguasai Maluku. Di benteng ini pun dibangun empat bastion, kubu pertahanan berbentuk siku-siku, yang mengarah ke empat penjuru mata angin. Di bilik runcing ini dibuat lubang bidik untuk melancarkan serangan ke arah laut. Bagai menantang Gunung Tidore dan Maitara yang berdiri megah di hadapan. Berbeda dengan benteng rancangan Belanda, benteng Portugis cenderung lebih ringkih, temboknya hanya memiliki ketebalan sekitar 60 cm dengan tinggi 3 meter saja.



benteng kalamata
Pintu benteng yang sederhana
benteng kalamata
Tangga menuju bastion
benteng kalamata
Turis asing mengamati sekitar
benteng kalamata
Menyusuri benteng di tepi laut

Siang itu Benteng Kalamata dipadati turis asing, yang tampaknya sedang meneliti seluk beluk lokasi pengamatan Gerhana Matahari Total. Sementara itu, saya menyisiri sisi demi sisi benteng, mengintip dari celah benteng yang mungkin dahulu pernah menjadi tempat bersandar moncong meriam. Benteng ini kecil saja, tanpa ruangan beratap, dan ada sebuah sumur di sudut bawah. Mungkin digunakan untuk memenuhi kebutuhan air penghuni benteng ketika itu.

Matahari yang semakin terik menggoda saya untuk bersembunyi di balik bayangan tembok tinggi, sambil mengamati tenda yang sedang dipasang untuk perhelatan besok. Melihat kapal-kapal besar di samping benteng, saya pun tergoda menghampiri. Terlihat beberapa pria sedang bertukang, batang-batang kayu raksasa sedang dihaluskan. Tampak pula semacam rel di lantai yang mengarah ke laut, kapal akan dilungsurkan dari situ.

Nelayan di Ternate sudah berkurang, ujar pemandu saya. Hanya beberapa orang saja yang masih melaut. Orang-orang ini bukan nelayan, mereka hanyalah pembuat kapal. Itu pun dari fiber, bukan kayu besi. Sambil memandangi laut, saya menikmati angin yang berembus dan gunung yang menghijau. Seakan-akan alpa bahwa di tempat saya berpijak, dahulu, adalah tempat yang penuh hiruk pikuk. Kapal-kapal berseliweran dan pemuda berotot liat memanggul karung ke sana kemari.




benteng kalamata
Berdiri di salah satu bastion yang menghadap Tidore
benteng kalamata
Memasang tenda
benteng kalamata
Gunung Tidore di kejauhan
benteng kalamata
Para pembuat kapal
benteng kalamata
Kapal setengah jadi dan rel menuju laut

Dari Kalamata, saya menuju benteng lain di wilayah utara Ternate yang dirancang pula oleh Serrão. Dari depan, benteng ini terlihat lebih megah, tentu karena lokasinya yang tinggi, dan memiliki taman yang tertata rapi. Benteng ini dibangun pada tahun yang sama seperti Benteng Kalamata, dengan tujuan serupa pula. Dilihat dari atas, ada yang menyebut benteng ini berbentuk seperti buah zakar, walaupun saya beranggapan meriam lebih tepat.

Benteng Tolukko sempat berganti nama menjadi Benteng Hollandia, mungkin karena pernah direbut oleh Belanda pada tahun 1610. Benteng ini ternyata lebih kecil daripada Kalamata, hanya punya tiga bastion. Dari depan kita akan memasuki lorong sempit menuju tangga ke atas, ruangan utama benteng yang berbentuk persegi. Di sebelah kanan terdapat tangga terbuka menuju ruang bawah tanah, yang berfungsi sebagai tempat amunisi. Jalan menuju ruang bawah tanah ini cukup berbahaya saat gelap karena tanpa penanda sama sekali, kita mungkin saja terjatuh tanpa sadar dan mematahkan leher sendiri.

Uniknya benteng ini terbuat dari campuran batu kali dan batu karang yang diambil dari sekitar. Jika kita berdiri di tamannya dan memperhatikan sekeliling, akan terlihat betapa benteng ini berdiri di atas tebing bebatuan dari masa lampau. Ketika Gunung Gamalama menyemburkan lavanya dengan jemawa.

benteng kalamata
Memasuki benteng (credit: @yusni_mustafa)
benteng kalamata
Lorong di Benteng Tolukko; Mas Yoan memotret di atas
benteng kalamata
Ruang bawah tanah
benteng kalamata
Struktur lantai Benteng Tolukko
benteng kalamata
Panorama dari atas benteng
benteng kalamata
Kayu manis, cengkih, dan pala
benteng kalamata
🙂 (credit: @yusni_mustafa)

Di dekat gerbang benteng terdapat kios penjual oleh-oleh. Kaus-kaus bertuliskan Ternate bergantungan, di sampingnya ada sebuah meja yang dipenuhi kotak-kotak plastik. Ternyata ia menjual pala dan cengkih, juga kayu manis. Saya bagai ditampar, ini adalah Negeri Rempah. Betapa dari tadi saya alpa dan asyik berkeliling tanpa mengingat riwayatnya sedikit pun. Saya mestinya tak begitu, bukan?

 

Referensi: Melodrama Pionir Penjelajah Samudra di Maluku oleh Mahandis Yoanata Thamrin