“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Sebermula adalah sabda.

Tentu Simon Petrus, sang pengikut Yesus, menyangkal hal itu pada malam Perjamuan Terakhir. Pun, itu percuma sahaja; ia berkhianat jua.

***

Gereja berwarna kuning gading itu berdiri di persimpangan Jalan H. Samanhudi. Ia memang lebih populer dijuluki Gereja Ayam. Pada puncaknya, bertengger seekor ayam jago. Sebuah simbol atas peristiwa penyangkalan seorang pengikut Yesus.

Gereja ini lahir pula demi penyangkalan, bahwa golongan bawah—yang timbul serta merta karena adanya golongan yang mengaku lebih atas; bangsa Belanda, juga berhak merasakan pengalaman rohani di rumah Tuhan. Terutama, apabila Willemskerk yang berdiri megah di Gambir itu, tak terbuka bagi pribumi serta etnis Tionghoa dan India, yang utamanya juru kaki dan dagang.

Ketika akhirnya Pemerintah Hindia-Belanda menitahkan pembangunan Haantjeskerk, bermakna ‘Gereja Ayam,’ maka ditataklah batu pertamanya pada 24 September 1913. Lebih dari seratus tiga puluh tahun silam. Pun, ia tak serta merta bertransformasi menjadi Gereja Ayam seperti sekilas terpandang dari balik jendela Mikrolet 12 saat ini.

Ia lahir sebagai bayi mungil, sebuah Kapel, pada tahun 1856. Lima puluh tujuh tahun lebih awal lagi. Berdiri sederhana di atas tanah bernomor 340, 342, dan 343—kini beralih nama menjadi Jalan H. Samanhudi No. 14 dan 16. Pada era ini pula, Raja Willem I menyatakan bahwa gereja harus menjadi tanggung jawab Pemerintah Hindia-Belanda. Sebuah reaksi terhadap dominasi VOC terhadap gereja; yang hanya mengakui Gereformeerd atau Gereja Calvinis.

Pada sebuah kapel yang hanya dapat menampung beberapa gelintir jemaat, urusan menyaksikan sabda Tuhan kian terhambat. Pada 1903, di sampingnya dibangun rumah penampungan orang jompo (Het Hofje). Penghuninya kemudian berbondong-bondong beribadah ke kapel sempit yang lapuk ditempa waktu.

Sementara, golongan bawah yang menghuni sebagian besar wilayah di sekitar Passer Baroe—demikian sekarang tertulis pada gapura besinya–tentu tak muat dalam kotak sepatu. Protes kemudian melayang, bahwa Willemskerk—ya, diambil dari nama Raja Willem I, Gereja Protestan yang menjadi induk di pusat Batavia dan kini bernama Gereja Immanuel, tak semestinya menampung golongan atas sahaja, bangsawan Belanda dan pejabat VOC.

Itulah jiwa zaman kolonial; bahwa Belanda adalah ras kelas atas yang secara kodrati mendapat posisi lebih mulia, di atas juru dagang yang bau apak. Apalagi, Belanda mengalami masa keemasan pada abad itu. Pemisahan strata sosial dalam segala bidang bagai lumrah adanya.

gereja ayam
Gereja Ayam dan langit Jakarta
gereja ayam
Halaman depan Alkitab yang berbahasa Belanda
gereja ayam
Pendeta Adriano menunjukkan Alkitab persembarahan Ratu Belanda
gereja ayam
Bejana pembabtisan buatan tahun 1695

Pun, zaman berubah. Menghadapi kenyataan bahwa VOC tak lagi berhak mendikte semau-maunya, Haantjeskerk dewasa dibangun. Tepat bersebelahan dengan kapel, di atas tanah bernomor 341, Jalan H. Samanhudi No. 12. Atas bantuan arsitek dari biro E.D. Cuijpeers en Hulswit, gereja menara kembar ini dibangun dengan gaya Neo Romantik dan Gotik. Mengingatkan pada Notre-Dame de Paris yang bercorak sama, bermenara kembar dengan jendela bundar di muka. Bedanya, Haantjeskerk dihiasi ayam jago, sementara Notre-Dame monster fantastis.

Dan saat melangkah kembali di Gereja Ayam, timbul nostalgia samar masa kecil. Saat saya bersekolah di sebuah yayasan Kristen di Kota Medan. Tiap tahun, dengan semangat menggebu saya mendendangkan lagu perayaan Natal. “Glo….. ria, muliakan Tuhan,” ialah lirik yang mau tak mau bersemayam dalam ingatan bawah sadar. Karena pada larik itu, saya selalu meninggikan suara.

Perjumpaan dengan Pendeta Adriano Wangkay, S. Th. Terjadi pada petang yang cerah, tak semuram Jakarta yang belakangan alpa akan musim. Ia tertawa mendengar cerita saya, lantas menuturkan hal serupa. Bahwa, sebaliknya, ia juga dibesarkan di lingkungan Muslim. Perbedaan itu, ditempa pula dengan pengalaman berpindah-pindah tempat di Indonesia, membentuk mental antisukuisme. Sebagai pendeta, ia tak boleh fanatik.

Semangat pembaharu, pula, saya temukan pada sosok kelahiran Manado, Sulawesi Utara, lima puluh lima tahun silam ini. Sebelas kali pindah tugas ia jalani, berawal dari penyusuran sungai dan hutan di wilayah yang kini termasuk dalam Kalimantan Utara, hingga merasakan hujan dan panas yang hanya berjarak sekian depa di Buleleng.

“Tak kurang tiga bulan saya menjelajahi hutan, bahkan lebih sering tidur di sana tinimbang kasur sendiri, demi mendatangi jemaat,” ujar sang Pendeta yang periang. Garis-garis tegas timbul di ujung matanya. Ia mengingatkan saya pada diri sendiri; kami adalah penyintas. Ia pada kependetaannya, saya pada keakuan.

***

gereja ayam
Mesin antik pengendali jam

Tahun ketiga memimpin Gereja Ayam membuat Pendeta Adriano paham betul tentang peran gerejanya sebagai cagar budaya yang sepatutnya dilestarikan. Sambil menapaki anak tangga di menara lonceng dan jam, ia bertutur bahwa renovasi Gereja Ayam mesti mengikuti Undang-undang No. 11/2010, bahwa tiada ada yang boleh diubah dari Cagar Budaya Tipe A berusia satu abad ini.

Lonceng antik yang ia maksud ternyata memang unik, dengan diameter tujuh puluh sentimeter dan bertuliskan nama pembuatnya, A.H. Van Bergen Azin, ia terhubung dengan jam tak kalah kuno yang memiliki sistem mekanik bagai sumur katrol. Tersimpan dalam lemari jati, mesin jam ini terlihat laksana lokomotif zaman batu bara, hitam mengilap.

Rupa-rupanya, bukan hanya Pendeta Adriano yang fasih akan penyintasan. Jam kuno itu, yang berfungsi sebagai penanda waktu, pun bertahan menyintas waktu itu sendiri. Tak ubah Gereja Ayam, bertualang dalam ruang dan waktu. Dari sebuah bayi mungil hingga dewasa, dari melayani kaum terpinggir hingga masyarakat modern di pusat Jakarta. Kini ia tak hanya memiliki fungsi religi, tetapi juga sosial.

“Gereja bukanlah organisasi eksklusif,” ujar sang Pendeta yang pernah dipanggil Komando Distrik Militer (Kodim) pada 1992 karena perbedaan pandangan politis. Peran sosial ini ditekankan dengan turut membantu masyarakat sekitar; baik melalui program pelayanan secara langsung terhadap orang tak mampu maupun berpartisipasi dalam program yang berkaitan dengan kemanusiaan, keadilan, dan lingkungan hidup.

Gereja yang juga pernah didera banjir hingga sebetis ini sudah semestinya menjadi saksi sejarah yang istimewa. Dari alas rotan pada kursi kayu jatinya, yang melesak di tengah, tersimpan sejarah manusia lintas bangsa lintas zaman. Pula pada kaca patri bundar bergaya Seni Baru (Jugendstil) di atas pintu utama gereja; mewakili semangat harmonisasi dengan alam pada akhir abad sembilas belas. Salah satunya bercorak bunga bakung, melambangkan kuasa terang Yesus Kristus.

gereja ayam
Mimbar sederhana
gereja ayam
Kursi rotan sejak zaman Belanda
gereja ayam
Ayam di puncak gereja
gereja ayam pasar baru
Terima kasih, Azhar, kawan dari Natgeo yang memotret sore itu
gereja ayam
Hari yang menyenangkan 🙂

Kini, ia tak hanya menjadi persinggahan religi, tetapi juga destinasi historis yang dapat menjadi sumber penelitian lintas bidang. Ia adalah aset sejarah, bayangkan saja, gereja ini menyimpan sebuah alkitab pemberian Ratu Belanda, Sophia Frederika Mathilda, Al de Boeken Van Het Oede en Nieuwen Testament yang dicetak pada 1855. Alkitab berbahasa Belanda ini ada dua di dunia; kembarannya disimpan di perpustakaan negeri Belanda.

Keluar dari gereja, saya melihat noda cat putih yang menempel pada tali kamera saya. Dinding menara tak sepenuhnya kering rupanya. Seekor ayam jago terlihat berputar-putar di langit biru. Ia bertakhta di puncak; sebagai penunjuk arah mata angin dan, utamanya, pengingat iman yang mujarab.

***

Sebermula adalah sabda.

Dan, Gereja Ayam pun lahir sebagai sabda Tuhan. Memandang ayam jago yang menyilaukan ditingkah sinar matahari, saya merasa hari-hari di Jakarta akan cerah pula pada akhirnya.

gereja ayam

P.S. Ini adalah tulisan sebelum diedit menjadi “Sang Jago dari Pasar Baru” yang tayang di National Geographic Traveler edisi Desember 2016.