Beberapa minggu belakangan ini saya perhatikan beberapa agen wisata asyik mempromosikan paket wisata untuk menyaksikan gerhana matahari total yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret mendatang. Memang, peristiwa langka yang mungkin hanya bisa kita saksikan sekali seumur hidup–kecuali kita bisa hidup hingga ratusan tahun–ini sangat menarik perhatian saya yang ketika SD hobi menggunting kipling segala artikel astronomi, selain artikel tentang Titanic tentunya, dari Bobo.

Paket wisata ke Belitung paling sering saya temukan, mungkin karena terjangkau dari Jakarta dan tak butuh biaya terlalu besar. Jauh berbeda dengan ke Halmahera, misalnya. Waktu itu saya belum tahu kalau kita juga bisa menyaksikan gerhana matahari total di Palembang. Bahkan, kota di selatan Sumatera ini mengadakan perhelatan besar untuk menyambutnya: Festival Gerhana Matahari Total.

Ya, ini adalah salah satu program terbaru Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan yang sedang gencar mempromosikan wisata Bumi Sriwijaya. Festival yang berlangsung pada 8-9 Maret 2016 ini berlokasi di Jembatan Ampera. Selama dua hari, bazar makanan tradisional dan pertunjukan seni, tak ketinggalan barongsai, akan turut meramaikan.

destinasi wisata palembang
Perahu yang mengantar orang yang menyelam untuk mencari emas

Kalau soal kuliner Palembang, mungkin sudah banyak yang tahu. Pempek, pindang, durian–sekarang lagi musimnya!–bisa kamu temukan di sepanjang jalan. Tapi, kalau ingin melihat beragam wajah Palembang, sebenarnya ada banyak destinasi wisata Palembang yang bisa disambangi. Berikut beberapa di antaranya.

1. Kampung Al-Munawar

Kampung Arab yang berada di wilayah 13 Ulu ini terkenal dengan sejarah dan kulinernya yang khas, yang dipengaruhi budaya Timur Tengah. Karena berada tepat di pinggir Sungai Musi, kampung ini dapat dikunjungi melalui jalur air ataupun darat.

Kampung Al-Munawar kini sedang dikembangkan menjadi objek wisata religi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat dan akan menjadi salah satu destinasi andalan Palembang. Cerita selengkapnya ada di sini.

destinasi wisata palembang
Di samping rumah tertua di Kampung Al-Munawar
destinasi wisata palembang
Gadis manis
destinasi wisata palembang
Rumah tua
destinasi wisata palembang
Kawan cilik

2. Pulau Kemaro

Siapa sangka pulau yang populer dengan kisah cintanya yang tragis antara seorang putri raja dan saudagar Tiongkok ini adalah rumah sembahyang bagi umat Tri Dharma. Di Pulau Kemaro terdapat wihara (toa pekong) dan pagoda yang merupakan tempat ibadah umat Buddha, Konghucu, dan Taoisme.



Di dalam ruangan wihara yang dibangun pada tahun 1962 ini juga terdapat makam–yang sebenarnya simbolis semata–Siti Fatimah dan Tan Bun An, sang Romeo dan Juliet dari Palembang. Saat musim sembahyang tiba, misalnya Cap Go Meh dan Cheng Beng, pulau ini akan sangat ramai dan banyak pedagang di sepanjang jalannya.

destinasi wisata palembang
Mas Bolang sedang beraksi
destinasi wisata palembang
Selamat datang di Toa Pekong Pulau Kemaro
destinasi wisata palembang
Persemayaman Tan Bun An dan Siti Fatimah
destinasi wisata palembang
Jalur menuju pagoda
destinasi wisata palembang
Pohon Cinta

Di tengah pulau juga terdapat pagoda bertingkat sembilan yang dikeliling Patung Buddha Tertawa. Tangganya yang megah dihiasi patung naga, hewan kebanggaan bangsa Tiongkok. Menurut Suzan, kawan saya di Palembang, pulau ini juga ramai dikunjungi karena adanya Pohon Cinta. Pengunjung biasanya akan mengukir nama mereka dan pasangan di batang pohon, berharap cintanya abadi.

“Saya dan teman lain yang menulis nama di pohon ini malah putus semuanya,” tambah Suzan.




Untunglah, mencegah perusakan lagi terhadap sang pohon, kini pagar setinggi hampir dua meter terlihat melingkari Pohon Cinta. Tak ada lagi yang bisa mencoret-coret. Pulau Kemaro dapat ditempuh sekitar tiga puluh menit dengan perahu dari dermaga di bawah Jembatan Ampera.

3. Bukit Siguntang

Konon bangsa Melayu dan Kerajaan Sriwijaya berawal dari bukit ini. Sama seperti budaya di penjuru dunia lainnya, tempat tertinggi atau gunung selalu menjadi acuan dan legenda asal suatu bangsa atau tempat. Di Palembang, titik tertingginya adalah Bukit Siguntang, sekitar 26-28 meter dari permukaan laut. Area seluar 12 hektar ini juga berperan sebagai situs arkeologi penting. Tercatat pada tahun 1920 ditemukan patung granit Buddha di sini.

Taman ini juga menjadi daya tarik bagi peziarah. Di sini terdapat 7 makam pahlawan dan leluhur yang dianggap penting bagi bangsa Melayu, yaitu Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Ketika saya singgah di bukit ini suatu petang, terlihat beberapa pengunjung sedang sowan. Tiap makam dijaga oleh juru kunci (kuncen) yang biasanya akan menerima pengunjung yang ingin bertukar pikiran atau butuh wejangan.

destinasi wisata palembang
Bukit Siguntang yang asri
destinasi wisata palembang
Makam Raja Sigentar Alam
destinasi wisata palembang
Makam Putri Kembang Dadar

Menurut Pak Latief, sang pemandu, baru-baru ini juga ditemukan tiga situs purbakala di Bukit Siguntang, yang dipercaya merupakan peninggalan kerajaan lampau. Ketiga situs itu kini ditutup untuk penelitian arkeologis. Menurut saya, Bukit Siguntang seharusnya bisa dikelola dengan lebih menarik dan informatif. Apalagi ini adalah tempat yang menyimpan sejarah penting bagi Sriwijaya, salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Kalau datang tanpa pemandu, pengunjung tidak akan mendapat wawasan apa pun, paling-paling hanya mengitari makam lalu duduk-duduk dan pulang. Inilah tugas yang perlu diperhatikan pemerintah setempat.

4. Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Di pusat kota Palembang, tak jauh dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, di Jalan Merdeka, terdapat sebuah monumen berbentuk segilima, melambangkan Pancasila, yang menyimpan sejarah perjuangan rakyat Sumatera yang bertempur melawan Belanda selama lima hari lima malam. Monumen ini terdiri dari delapan lantai, yang juga berfungsi sebagai museum. Di lantai pertama terdapat kantor museum dan loket penjualan tiket.

Begitu naik ke lantai dua, terlihat lemari kaca yang memajang uang-uang Indonesia semenjak masa penjajahan Belanda. Naik ke atas lagi, kita akan disambut lukisan dan foto dari masa revolusi. Pada setiap lukisan dan foto terdapat sedikit informasi singkat mengenai sejarahnya. Jujur saja, menurut saya museum ini masih bisa dikembangkan lebih jauh agar lebih atraktif. Apalagi, saya perhatikan banyak pelajar yang datang. Mungkin bisa diadakan program kunjungan museum berkala yang interaktif dan kreatif untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap isi museum.

Asyiknya, kita bisa naik hingga atap monumen dan menyaksikan pemandangan kota Palembang dari segala arah. Jembatan Ampera juga terlihat jelas dan dapat dipotret dengan bagus dari sini. Tapi, pagar yang membatasi atap mesti diperhatikan lagi untuk menjaga keselamatan pengunjung.

destinasi wisata palembang
Bapak penjaga pintu
destinasi wisata palembang
Sisi samping Monpera
destinasi wisata palembang
Interior museum yang sederhana
destinasi wisata palembang
Sebelum menuju atap

5. Al-Quran Al-Akbar

Takkan ada yang menduga bahwa di dalam sebuah bangunan seperti rumah pada umumnya ini, terdapat karya seni yang mendunia. Al-Quran Al-Akbar adalah Alquran raksasa yang berbentuk lembaran kayu yang dipasang seperti jendela di bangunan bertingkat lima. Total 30 juz Alquran diukir pada kayu tembesu yang berukuran 1,77×1,4 meter. Lembaran kayu itu juga dihiasi ornamen bunga khas Palembang. Kabarnya, butuh waktu tujuh tahun dan dana hingga dua miliar rupiah untuk membuatnya.

Al-Quran Al-Akbar yang diresmikan pada 30 Januari 2012 oleh SBY dan seluruh delegasi Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini sebelumnya dipajang di ruang pamer Masjid Agung Palembang selama tiga tahun untuk mendapat koreksi dari seluruh umat muslim. Setelah itu, barulah dipindahkan ke tempatnya sekarang.

destinasi wisata palembang
Alquran raksasa
destinasi wisata palembang
Di antara ayat-ayat

6. Masjid Cheng Ho

Masjid Muhammad Cheng Ho adalah masjid bernuansa Tionghoa yang berlokasi di Perumahan Amin Mulia, tak jauh dari Jakabaring Sport City. Masjid yang diresmikan pada tahun 2006 ini dibangun atas inisiatif para pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan dan tokoh masyarakat tionghoa yang mengumpulkan uang secara sukarela. Nuansa merah memang terlihat tidak biasa pada masjid dua lantai ini, tapi itulah keunikannya. Ini menunjukkan bahwa Palembang adalah negeri yang kaya akan budaya, dari Melayu, Tionghoa, hingga Arab.

Nama Cheng Ho, seorang laksamana asal Tiongkok, tak sembarang dicomot. Cheng Ho, seorang kasim muslim yang menjadi kepercayaan Kaisar Yongle (1403-1424) dari Dinasti Ming, pernah mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali. Ia juga pernah singgah di Aceh, Cirebon, dan Semarang.

Saat tiba di masjid, langit kelabu menghantarkan hujan. Saya pun berlari ke dalam, berwudu dan salat. Di dalam ruangan sepi, hanya ada beberapa orang. Saya menuju area perempuan yang diberi hijab. Suasana di dalam bias dibilang sederhana, sangat berbeda dengan warnanya yang heboh di luar. Sambil meluruskan kaki yang pegal, saya membayangkan Palembang sebagai sebuah negeri yang begitu kaya. Di sini beragam budaya dapat menyatu dengan harmonis. Siapa sangka, ada masjid berwarna merah yang menyerupai klenteng! Inilah akulturasi dalam bentuk senyata-nyatanya.

destinasi wisata palembang
Mendung di Masjid Cheng Ho
destinasi wisata palembang
Menara yang menyerupai pagoda
destinasi wisata palembang
Mas Bolang dan kawan-kawan
destinasi wisata palembang
Firsta berbincang dengan Kak Eka
destinasi wisata palembang
Sampai jumpa di Palembang!