Where there is love, there is life.”

-Mahatma Gandhi

 

“Dulu di sini banyak rumah warga,” ujar sang Bapak Pemandu ketika perahu biru yang saya tumpangi meluncur dari dermaga kecil beralaskan bambu pada suatu sore yang mendung. Saya pun mengamati panorama sekitar; air kecokelatan dan bebatang bakau muda yang baru ditanam beberapa minggu serta kepiting soka yang bergeming di akar-akar bakau yang mencuat.

“Sebagian tanah di sini juga ladang milik warga,” sambung si Bapak.

Mata saya menangkap sesosok dangau yang mengingatkan saya pada kampanye iklan sebuah stasiun televisi bertahun-tahun lalu. Seorang bapak tua beserta istri dan anaknya menonton televisi di dangau di tengah sawah menghijau berlatar pegunungan. Kemudian, mereka kompak mengacungkan jempol. Yang saya heran, bagaimana mereka mendapat listrik di lembah gunung begitu?

“Baru tiga hektar lahan di sini yang dibebaskan, sisanya akan segera diurus juga,” lanjut si Bapak berwajah ramah saat perahu berbelok melewati endapan tanah berlumpur yang ditumbuhi pohon bakau.



Ia pun melanjutkan kisah asal usul tempat ini, yang dikenal sebagai Pekalongan Mangrove Park. Terletak di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan, Kota Pekalongan, Pekalongan Mangrove Park merupakan kawasan konservasi bakau (mangrove) yang juga berfungsi sebagai objek ekowisata.

Taman yang juga merupakan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) ini dibangun pada tahun 2011, sebagai usaha alih fungsi terhadap lahan rumah dan ladang warga yang tenggelam akibat banjir. Saat itu baru dibangun akses jalan dan menara pandang menggunakan dana APBD Pekalongan. Kemudian, pada tahun 2012 dibangun gapura, shelter atau pondok, dan media tanam, hingga akhirnya menjadi seperti saat ini.

Pekalongan Mangrove Park
Welcome!
Pekalongan Mangrove Park
Tiba di Pekalongan Mangrove Park bersama Dinbudpar Jawa Tengah
Pekalongan Mangrove Park
Bakau yang baru ditanam oleh Walikota dan Kapolresta Pekalongan
Pekalongan Mangrove Park
Salah satu jenis bakau yang ada di Pekalongan Mangrove Park
Pekalongan Mangrove Park
Bakau yang baru ditanam
Pekalongan Mangrove Park
Koleksi bakau yang ada
Pekalongan Mangrove Park
Contoh daun bakau yang ada
Pekalongan Mangrove Park
Gedung pengelola dan menara pandang
Pekalongan Mangrove Park
Berbagai burung yang dirawat di Pekalongan Mangrove Park
Pekalongan Mangrove Park
Burung kowak malam kelabu yang hobi tidur siang

Ide membangun konservasi bakau ini sangat brilian. Dengan memanfaatkan lahan yang terbengkalai, taman ini bagaikan menciptakan sebuah ekosistem baru yang kaya. Selain itu, pohon bakau juga sangat berguna untuk mencegah abrasi pantai. Dan yang tak kalah penting, taman ini bisa mengedukasi pengunjung, yang diharapkan akan meningkatkan kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan.




Yang tak diketahui banyak orang–termasuk saya–bakau juga memiliki nilai ekonomis, yaitu dapat menjadi bahan bangunan, kayu bakar, dan bahan pembuat arang serta kertas bermutu tinggi. Tak hanya itu, warga setempat memanfaatkan bakau untuk bahan pangan, seperti tepung (bahan dasar kelepon, onde-onde, putri ayu, dan lain-lain), sirup, kerupuk, dan manisan. Daunnya bahkan dapat dijadikan urap atau sayuran. Jenis yang digunakan adalah api-api (Avicennia marina), pedada (Sonneratia caseolaris), dan bakau (Rhizophora sp).

Bagi pemburu senja, Pekalongan Mangrove Park menawarkan sebuah menara pandang—senja di sini konon sangat indah. Ada pula jalur pejalan kaki , pondok-pondok, dan area pembibitan sebagai tempat praktik menanam bakau. Di dekat pondok terdapat pula dua kandang yang berisi hewan endemik yang ditemukan dari sekitar hutan bakau, antara lain burung Bambangan Kuning (Ixobrychus sinensis), Kokokan Laut (Butorides striatus), Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax), Serak Jawa (Tyto alba), Garangan Jawa (Herpestes javanicus), dan Biawak (Varanus salvator). Namun, tak perlu khawatir, setelah cukup besar, hewan-hewan itu akan dikembalikan ke alam.

***

“Itu namanya Pulau Cinta, Mbak,” ujar Bapak Pemandu saat saya menyipitkan mata melihat sebuah papan petunjuk berwarna hijau.

“Kenapa namanya Pulau Cinta, Pak?” tanya saya polos.

“Soalnya kalau namanya cinta-cintaan pasti laku, Mbak. Semua pasti mau datang,” jawabnya optimis.

Saya pun mengiyakan. Memang, embel-embel “Cinta” entah bagaimana selalu membuat orang tertarik. Sebut saja Jembatan Cinta yang sempat membuat orang berbondong-bondong mengunjungi Pulau Tidung di utara Jakarta.

Perahu pun meninggalkan Pulau Cinta, yang sebenarnya hanya berupa endapan tanah tak terlalu luas yang dipenuhi bakau muda, yang baru ditanam beberapa minggu lalu oleh Walikota dan Kalporesta Pekalongan. Sebelumnya juga ada pihak dari Korea yang ikut dalam kegiatan penanaman di sini.

Sebenarnya dukungan dari berbagai pihak masih sangat diperlukan, untuk mempercepat pengembangan ekowisata ini. Saat ini fasilitas di Pekalongan Mangrove Park belum lengkap, seperti tiadanya toilet dan musala. Walaupun begitu, sore itu saya melihat antusiasme pengunjung yang tinggi, banyak rombongan yang datang untuk piknik dan berfoto-foto. Yang menjadi daya tarik utama adalah menyusuri Pulau Cinta dengan perahu wisata yang menyerupai banana boat. Dengan membayar sepuluh ribu rupiah, pengunjung dapat menikmati pemandangan di hutan bakau dan mengetahui aneka jenis tanaman bakau.

Saya pun baru tahu bahwa bakau terdiri dari banyak jenis–ada belasan yang tercatat di Pekalongan Mangrove Park, di antaranya bakau minyak atau jangkah (Rhizophora apiculata), bakau kecil (Rhizophora stylosa), katang-katang atau ketepeng (Ipomoea pes-caprae), bintaro (Cherbera manghas), lindur (Bruguiera gymnorrhiza), api-api (Avicennia marina), dan pedada (Sonneratia caseolaris). Yang paling sering ditanam di sini adalah jenis api-api karena pertumbuhannya paling cepat.

Pekalongan Mangrove Park
Papan petunjuk Pulau Cinta
Pekalongan Mangrove Park
Memasuki Pulau Cinta
Pekalongan Mangrove Park
Bakau muda di Pulau Cinta
Pekalongan Mangrove Park
Anak-anak bermain di area hutan bakau
Pekalongan Mangrove Park
Rumah-rumah yang sudah ditinggalkan
Pekalongan Mangrove Park
Perahu karet wisata
Pekalongan Mangrove Park
Menyusuri hutan bakau
Pekalongan Mangrove Park
Pak Tenggrono, Kepala Bidang Pemasaran Dinbudpar Jawa Tengah
Pekalongan Mangrove Park
Memasuki Lorong Cinta
Pekalongan Mangrove Park yangPekalongan Mangrove Park
Berbaris rapi

Selain Pulau Cinta, Pekalongan Mangrove Park juga memiliki Lorong Cinta, yang merupakan barisan pohon bakau yang tumbuh subur dan rimbun hingga berbentuk lorong. Sangat cocok disebut Lorong Cinta karena saat menyusurinya, kita harus duduk merapat agar tak tersangkut ranting bakau. Muda-mudi yang datang berpasangan tentu senang. Lorong yang lumayan panjang ini juga memamerkan suburnya bakau-bakau di Pekalongan Mangrove Park, sebuah bukti keberhasilan dari kerja keras pemerintah dan warga setempat.

Pihak pengelola pun berharap agar saat diresmikan nantinya, Pekalongan Mangrove Park sudah memiliki fasilitas lengkap untuk pengunjung, misalnya toilet, musola, area pemancingan, dan area parkir, dan semakin dikenal hingga daerah luar. Saya pun mengacungkan jempol atas pembuatan objek ekowisata terbaru di Pekalongan ini. Kini para pejalan memiliki pilihan lain saat berkunjung ke Kota Batik.

Sambil menyimak penjelasan si Bapak, yang kini bercerita tentang tambak udang dan ikan yang terdapat di area konservasi, saya memimpikan bahwa setiap daerah di Indonesia dapat melakukan hal serupa. Mengembangkan potensi tak terduga ataupun memanfaatkan kemalangan yang mungkin menimpa, untuk dijadikan objek wisata unggulan. Dari desa yang tenggelam menjadi konservasi bakau nan subur. Saya pun bersepakat dengan Gandhi, bahwa di mana ada cinta, di situ ada kehidupan. Taman bakau ini tak ubahnya sebuah penyokong kehidupan.

Saat perahu kembali bersandar di dermaga, saya menghampiri menara pandang yang sebenarnya masih ditutup untuk umum karena belum tuntas pembangunannya. Mendadak gerimis turun, matahari enggan unjuk diri. Saya pun berkhayal akan kembali lagi.

Photos: me & @tamagraph