Ia ditemukan dalam kondisi buruk. Berjalan tegak dengan kedua tangan di udara bagai menyambut penonton. Tatapannya berani namun begitu menyentuh tanah, ia merasa terganggu. Ia tak mau makan selain nasi. Saat itu usianya empat belas tahun. Bujang nama yang diberikan padanya. Ia orangutan.

Enam belas tahun kemudian saya menyapanya di sebuah Pulau; habitat buatan serupa hutan yang berada di area Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Samboja Lestari, Kutai Kartanagara, Kalimantan Timur. Bujang kini berusia tiga puluh tahun, badannya cukup besar dengan rambut panjang menutupi seluruh tubuhnya. Ia dulu bekerja di sirkus.

Ia bersembunyi di bawah reranting ketika saya dan kawan-kawan mengitari pulau untuk menemuinya. Lebih tepatnya, melihatnya dari seberang pulau yang dikelilingi sungai kecil sedalam tiga meter. Sungai ini dibuat agar orangutan tidak keluar dari pulau. Mereka tak bisa berenang, begitu yang saya dengar.

ohelterskelter.com orang utan
Mbak Lisa bercerita tentang program BOSF Samboja Lestari
Selama ini orangutan yang diselamatkan adalah yang dipelihara manusia, dijadikan komoditas pasar gelap, diperbudak sebagai hewan sirkus, dan kehilangan habitat akibat pembalakan hutan. Karena itu kondisi mereka beragam, ada yang terlalu jinak, ada yang sakit, hingga cacat mental. Masalah mental pula yang membuat Bujang mesti menetap selamanya di BOSF Samboja Lestari. Fisik sehat, tapi ia tak memiliki keahlian yang semestinya dimiliki orangutan untuk bertahan hidup di hutan.
Selain orangutan, ada 45 beruang madu yang direhabilitasi di sini
ohelterskelter.com orang utan
Pulau 6

Sebagai salah satu penghuni terlama, nama Bujang bagai maskot bagi BOSF Samboja Lestari. Saat saya dan kawan-kawan melewatkan waktu kunjungan untuk melihat proses pemberian makan, kami dialihkan ke Pulau 6 yang merupakan tempat karantina bagi orangutan yang takkan dirilis. Rilis adalah istilah bagi orangutan yang dilepasliarkan ke habitat aslinya di hutan.

Dari 165 orangutan yang terdapat di BOSF Samboja Lestari, sebuah badan konservasi orangutan yang sudah berdiri sejak 1991 lalu, 44 di antaranya tak bisa dirilis karena mengidap penyakit, seperti TBC atau hepatitis, cacat mental, dan cacat fisik.

Kenapa orangutan yang terkena penyakit tak bisa dirilis? Karena memiliki 97% kemiripan DNA dengan manusia, orangutan pun dapat tertular penyakit manusia dan ditakutkan hal ini dapat menyebar ke orangutan lainnya di hutan.

Lalu apa yang terjadi pada Bujang?



Bujang diselamatkan dari sirkus tempatnya diperbudak selama bertahun-tahun hingga kehilangan sifat hewaninya. Sebagai catatan, BOSF bekerja sama dengan BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia untuk melakukan penyelamatan dan rehabilitasi terhadap orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang sudah terdaftar sebagai hewan yang dilindungi.

Selama ini orangutan yang diselamatkan adalah yang dipelihara manusia, dijadikan komoditas pasar gelap, diperbudak sebagai hewan sirkus, dan kehilangan habitat akibat pembalakan hutan. Karena itu kondisi mereka beragam, ada yang terlalu jinak, sakit, hingga cacat mental.

Masalah mental pula yang membuat Bujang mesti menetap selamanya di BOSF Samboja Lestari. Fisik sehat, tapi ia tak memiliki pemahaman dan keahlian yang semestinya dimiliki orangutan untuk bertahan hidup di hutan.




Selama ini orangutan yang diselamatkan adalah yang dipelihara manusia, dijadikan komoditas pasar gelap, diperbudak sebagai hewan sirkus, dan kehilangan habitat akibat pembalakan hutan. Karena itu kondisi mereka beragam, ada yang terlalu jinak, ada yang sakit, hingga cacat mental. Masalah mental pula yang membuat Bujang mesti menetap selamanya di BOSF Samboja Lestari. Fisik sehat, tapi ia tak memiliki keahlian yang semestinya dimiliki orangutan untuk bertahan hidup di hutan.
Rumah Bujang
ohelterskelter.com orang utan
Bujang berjalan seperti manusia…

Orangutan yang direhabilitasi mesti melalui tahap pendidikan atau sekolah. Ini disesuaikan usianya, misalnya Level 1 adalah sekolah untuk orangutan berusia 3-5 tahun, Level 2 untuk usia di atas 5 tahun. Pada Level 2 ini, orangutan yang sudah memiliki keahlian memadai kemudian diajari untuk menganggap manusia sebagai predator. Istilahnya reintroduksi. Mereka harus kembali jadi hewan liar.

Singkatnya, dibuat benci kepada manusia. Caranya pun unik, warrior sengaja mengasari orangutan dan membuat mereka marah. Yang mungkin saja berujung pada gigitan di betis, seperti yang dialami Lisa, petugas BOSF Samboja Lestari yang memandu kami waktu itu.

Bagaimana dengan kurikulum sekolahnya? Simpel. Mulai dari keahlian dasar seperti memanjat pohon, mencari makanan, dan mengenali musuh. Setelah lulus sekolah dan memiliki semua keahlian yang diharapkan dapat membuat orangutan bertahan hidup dan berkembang biak di hutan, mereka harus melewati tahapan pemeriksaan. Tak heran proses pendidikan bisa mencapai sepuluh tahun, tergantung kecerdasan sang orangutan.

Sebelum rilis, mereka diobservasi selama beberapa waktu untuk melihat ketahanan dan keahlian mereka sebagai hewan yang 75% hidupnya dihabiskan di atas pohon. Setelah itu mereka dipisahkan dan menjalani pemeriksaan kesehatan dan psikologis. Barulah dirilis ke beberapa lokasi di Kalimantan Timur, misalnya Muara Wahau di Kutai Timur. Yang hutannya mesti ditempuh selama dua belas jam jalan kaki.

Dan Bujang gagal melewati semua itu. Ia terlalu menyerupai manusia.

Bahkan, ia tak menyukai sesama orangutan. Usianya sudah jauh melewati usia kawin (orangutan mulai kawin usia 13 tahun), tapi ia tak tertarik untuk kawin. Saat dipasangkan dengan Ani, sesama penghuni Pulau 6, ia malah kabur. Konon Bujang lebih menyukai manusia, perempuan berambut panjang dan pirang. Yang mungkin sering dilihatnya saat masih bekerja di sirkus.

ohelterskelter.com orang utan
Ani, kawan serumah Bujang
ohelterskelter.com orang utan
Bujang melempar batu

Mbak Lisa berkelakar agar saya dan Kak Griska berdiri di depan Bujang untuk melihat reaksinya. Biasanya Bujang akan memandangi dan terangsang.

Yang betul saja. Saya pun mundur dari barisan dan menjauh. Bujang resah karena sore itu banyak yang menontoninya, hampir semua laki-laki. Ia muncul dan menghilang di balik pohon, lalu berjalan di pinggir sungai sambil menarik-narik dahan.

β€œIa marah,” ujar Mba Lisa.

Bujang sempat melempar batu ke sungai di hadapannya. Rasanya ingin berkata padanya, “Iya, kami tahu kau bukan bahan tertawaan. Kau tidak berada di sirkus lagi.”

Saya makin minggir, mencuri-curi gambar dari jauh, dari balik pohon. Bujang terus berjalan di pinggir hingga bagian depan pulau, di tempat Ani sedang menikmati pisang. Mereka berpapasan, Ani lantas pergi menuju pondok beratap tinggal separuh. Bujang duduk sendiri seperti menanti penonton di depan panggung.

Saya berpamitan kepada Bujang. Pertemuan singkat ini mesti disudahi. Harap saya tak banyak, semoga Bujang menikmati masa-masa terakhirnya di BOSF Samboja Lestari. Semoga Bujang tak marah melulu.

ohelterskelter.com orang utan
Sampai jumpa lagi, Bujang!

P.S. Kalau ingin berkunjung ke BOSF harus reservasi minimal 3 hari sebelumnya karena ada kuota 50 pengunjung per hari. Biaya sekitar 50 USD termasuk donasi. Tertarik untuk menjadi orang tua asuh bagi orangutan? Cek informasinya di sini.

BOSF Samboja Lestari – Jalan Balikpapan-Handil Km. 44, Kecamatan Margomulyo Samboja, Kalimantan Timur 75273. Telp: 082149418353 (Mba Lisa). Email: bos_kaltim@orangutan.or.id