“Takid Kortið!Takid Kortið apa, sih!”

Teriak saya mengutuk mesin pembayaran parkir di depan Toko Krambúð di seberang Hallgrimskirkja. Angin menderu, air bercampur salju menghujani aspal yang menurun ke arah pelabuhan.

Sebuah petang yang ganas di Reykjavík, ibu kota Islandia yang mendadak porak-poranda.

“If you don’t like the weather, just wait 5 minutes.”

Begitu petuah Om Sigurgeir suatu malam usai santap lezat di rumahnya. Cuaca Islandia sulit ditebak, walaupun ramalan cuaca cukup akurat dan mesti dipercaya; nyatanya tiap lima menit hal tak terduga bisa terjadi. Mulai dari hujan es sebesar peluru plastik, puting beliung, hingga badai salju.

Kami sedang mampir di Olís, Tama mengisi bensin sementara saya membayar dan menagih dua gelas kopi gratis, ketika televisi di dekat kasir memberitakan cuaca esok hari. Badai akan menyerang pukul sepuluh pagi, beberapa jalan utama ditutup.

Dua jam kemudian kami tiba di rumah, badai salju dan angin kencang dari Pantai Tenggara Islandia tampaknya menyusul hingga Álftanes–tempat tinggal kami. Saya buru-buru mengeluarkan barang dari jok belakang dan menutup pintu yang rasanya berbobot ratusan kilogram.

Tak lama kemudian saya dan Tama terlelap di kamar yang hangat, tak peduli gemeretak di balik jendela.



ohelterskelter.com reykjavík roasters
Jalan putih total.

Mungkin kami pingsan kelelahan, hari sudah terang saat tirai jendela disibak. Ya, tidak terang betul karena salju masih turun dan halaman belakang putih seluruh. Atap rumah tetangga terlihat seperti krim tebal di atas kue. Tigri, kucing anggora kecokelatan kesayangan kami, bersembunyi di balik tirai. Ia langsung kabur saat ingin dipeluk. Tigri memang angkuh.

Rumah sepi, Om Sigurgeir berangkat kerja pukul lima; Tante Nana beberes di dapur yang merangkap ruang makan kecil. Saya menyapa, memohon maaf karena kami pulang lewat tengah malam dan langsung ketiduran. Tante Nana selalu mencemaskan kenekatan kami menempuh perjalanan ratusan kilometer tiap harinya.

“Hari ini jalan banyak ditutup, kalian tidak bisa keliling. Badai baru reda siang nanti,” ujarnya sambil menunjuk dua pak mi instan di meja. “Itu Indomie baru Tante beli, masak aja buat sarapan.”




Satu pak berisi sepuluh bungkus Indomie rasa soto, dan satunya lagi mi goreng. Sebuah kenikmatan dunia.

Tante Nana lantas pamit ke rumah adiknya yang berulang tahun, meninggalkan kami di rumahnya yang kosong. Saya menjerang mi soto dan mi goreng sambil memandangi salju yang turun di balik jendela besar di samping meja makan. Dengan perut berbunyi, saya melahap sesendok mi. Hambar. Indomie buatan Belanda tak ada rasanya, bahkan mi gorengnya tanpa saus cabai. Ah, lelah hati.

Saya menyalurkan emosi pada cuaca, “Tama, ini sudah jam sebelas. Kita mau diam begini terus?”

Tama beranjak dari mangkuk kosongnya. Membuka pintu depan, mengintip keadaan. Mobil kami terlihat seperti cetakan es yang dijual Ikea. Tama menuju garasi dan mengambil sekop plastik berwarna kuning kemudian membersihkan atap mobil dan salju yang menimbun halaman.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Bayar parkir penuh derita.

Rencana menuju Vatnajökull National Park pun batal, butuh lima jam ke sana dan hari sudah terlalu siang. Kami berbelok ke Reykjavík. Pusat kota berantakan, lelehan salju membanjiri jalan, angin menerbangkan segala dan orang-orang berjalan kaki dengan susah payah. Saat melihat lahan kosong di depan Toko Krambúð tempat kami biasa parkir, Tama buru-buru mengisinya. Beruntung, mencari parkir di sini sesulit mengurus visa Amerika Serikat.

“Aku bayar parkir dulu,” ujar saya, Tama masih di kursinya. Curang memang, ia tidak punya kartu kredit.

Saat membuka pintu, kaki hampir terjepit karena pintu terbanting oleh angin. Saya berlari ke mesin pembayaran parkir yang melebihi tinggi saya, memasukkan kartu kredit dan memilih waktu parkir. Tiap kali menekan tanda oke selalu muncul tulisan “Takid Kortið” di layar. Walaupun ada petunjuk berbahasa Inggris di mesin, bahasa di layar tetap Islandia. Setelah tiga kali gagal dan angin mengempas kencang, saya menyelamatkan diri ke toko.

Tama menyusul, kami membeli dua potong Berlinerboller, donat khas Jerman, diskonan seharga 99 krona tanpa pikir panjang. Sembari menghangatkan tubuh, hati sedikit tenang karena angin kencang begini seharunya polisi tidak kerajinan mengecek mobil yang belum memiliki tiket parkir.

Saya kemudian merapikan mantel dan topi, membuka pintu kaca dan menghampiri mesin sialan itu. Muncul lagi Takid Kortið, saya menarik kartu kredit. Tiket parkir keluar. Untung saya membuka Google Translator saat berada di toko.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Welcome to Reykjavík Roasters.

Menertawakan kebodohan, kami menyusuri trotoar menuju Jalan Kárastígur 1 yang terletak satu belokan saja. Tak sabar rasanya ingin menenggak kopi panas di Reykjavík Roasters, kedai kopi hits di Reykjavík.

Dari luar kedai kopi ini terlihat simpel; dengan dinding putih dan pintu biru Santorini dan jendela kaca bertuliskan Reykjavík Roasters samar. Hujan dan angin masih menghajar, saya buru-buru masuk walaupun kedai penuh. Kursi-kursi di kanan dan kiri ruangan terisi, jaket kuyup bergantungan, payung bersandar di dinding. Saya memasuki ruang di belakang kasir, nyaman seperti di rumah dengan beberapa sofa dan lampu temaram dan orang membaca buku dan majalah.

Tidak ada kursi, saya putuskan memesan kopi dahulu. Berdiri di belakang antrean pria-pria berjaket tebal dengan tubuh menjulang. Saya merasa seperti kurcaci. Reykjavík Roasters tidak berusaha tampil dekoratif dan kekinian dengan interior minimalis dan nyeni. Ia tampil apa adanya, dengan kursi dan meja kayu yang tak selalu sepasang. Dengan gramofon dan koleksi piringan hitam dan sofa di sudut yang mengingatkan pada sudut ruang keluarga di Paris.

ohelterskelter.com reykjavík roasters
Betah lama-lama.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Bisa diintip di @blrlxndr, ehem.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Di luar masih kelabu.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Sudut favorit.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Siapa yang tidak menyelesaikan rajutannya?
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Kafe yang jadi becek.

Tentu ada beberapa pot kaktus, juga tumpukan buku. Di depan kasir terdapat rak teko air putih dan mesin kopi serta botol gula dan susu. Di Reykjavík Roasters sepertinya pembeli kopi hitam bisa mengisi ulang cangkirnya. Di sisi kiri terdapat rak berisi kopi kemasan racikan Reykjavík Roasters, juga peralatan kopi manual, yang dijual. Di rak bawah keranjang berisi wol warna-warni dan rajutan setengah jadi mencuri perhatian saya.

Sambil menunggu, saya bermain tebak-tebakan terhadap orang-orang di sekitar. Di dekat gramofon dua orang Asia sibuk dengan laptop–mungkin urusan kerja dadakan saat liburan. Di ruang kiri sekelompok turis berbincang semangat, mereka pasti kawan satu geng. Di ruang keluarga berisi campuran turis dan orang lokal–karena mengenakan jas seperti pulang kantor dan berbincang akrab dengan barista. Di kanan satu meja di samping jendela baru saja ditinggalkan, Tama buru-buru mencantelkan jaket di kursi dan menempatinya.

Saya memesan Hot Cappuccino dan Kældur LatteIce Latte untuk Tama, masing-masing 550 dan 600 krona (setara tujuh puluhan ribu rupiah). Tak berapa lama pesanan tiba, dan jendela masih berkabut akibat hujan. Saya menyesap Cappuccino yang buihnya masih membumbung, sedap. Lantas mencoba Kældur Latte dan terkejut, rasanya jauh lebih enak. Jadilah saya hampir menghabiskan dua gelas karena Tama bukan pencinta berat kopi–tidak lupa juga mencicipi kopi hitam gratis di rak yang tak kalah enak. Rupa-rupanya kopi racikan di Reykjavík Roasters hari itu dari Brasil.

ohelterskelter.com reykjavík roasters
Kopi pesanan kami.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Kældur Latte idaman saya.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Senangnya bisa minum kopi di hari dingin.

Saya peminum kopi yang lambat. Sambil mengulur waktu, Saya dan Tama membahas berbagai hal–cuaca tak pernah luput, juga rencana mampir ke Gedung Harpa usai minum kopi. Lalu membahas tur gua kristal es yang akan kami ikuti esok hari. Berharap cuaca aman sentosa.

Tiba-tiba seorang pria jangkung bersweter krem menghampiri, meminta izin duduk di kursi yang kosong. Disusul sepasang tamu lainnya yang tak saling kenal. Meja kami berubah jadi meja imigran. Hal yang jarang terjadi di kedai kopi di Jakarta.

Pria berkulit pucat berambut cokelat itu duduk di samping Tama. Kaffi Latte pesanannya sudah bertengger di meja, ia mengeluarkan buku catatan dan selembar kartu pos dan selembar prangko dan sebuah pensil dan tiga pulpen. Mula-mula ia menulisi kartu pos–saya intip berbahasa Inggris, lalu menjilat prangko dan menempelnya. Kartu pos dibalik, ia membuka buku catatan bersampul kulit yang halamannya bertuliskan huruf sambung amat rapi. Ia mulai menulis dengan telaten, sementara Tama sibuk dengan teleponnya. Sebuah paradoks.

Tak sekalipun Pria Berbuku Harian itu mengangkat kepala, saya tak bisa mengajaknya bercakap-cakap. Begitulah hingga kopi tandas dan langit masih bergemuruh. Sepasang tamu yang datang belakangan sudah pindah ke meja yang lain. Tamu silih berganti, kami bertiga bagai kawan yang sedang bermusuhan, sibuk dengan dunia masing-masing. Ia tak tahu, saya malah memotretnya dan mengirimkannya ke grup Whatsapp, Teddy menyuruh saya mengajakknya berkenalan. Yang lain bilang ia manis sekali masih menulis di buku harian.

Saya menduga, ia pria melankolis.

Juga tradisional. Pria penyendiri yang memilih masih menulis di buku catatan ketimbang laptop.

ohelterskelter.com reykjavík roasters
Si dia sibuk menulis catatan harian.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Menurut Susan @pergidulu, Hot Choco di sini enak banget.
ohelterskelter.com reykjavík roasters
Penghargaan yang diraih Reykjavík Roasters.

Sore itu penuh dugaan. Bertemu dan berbagi dimensi ruang dan waktu dengan orang-orang baru. Yang berusaha saya tafsirkan maksud kehadirannya. Tak ada yang betul-betul kami kenal hari itu. Si Pria Berbuku Harian pergi lebih dulu, undur diri dengan senyuman. Saya dan Tama masih meributkan cuaca dan waktu, dan berbagai urusan untuk perjalanan kami hari-hari berikutnya di Islandia. Telepon genggam masih berdenting, menampilkan pesan dari kawan di ujung dunia sana yang menikmati cahaya matahari.

Sebuah pesan terbaru masuk. Kiriman Tante Nana, “Jam enam sore ini Tante tunggu di Bangkok Resto di Kópavogur, kita makan-makan ulang tahun adik Tante.”

Hari kelabu ini tampaknya tetap–dan akan berakhir–menyenangkan.

ohelterskelter.com reykjavík roasters
Sampai jumpa lagi, Reykjavík.

Photos: @tamagraph & @yukianggia.