Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.*

 

Barangkali Seno Gumira Ajidarma juga begitu terlena oleh senja, hingga menulis betapa ia ingin mengerat senja dan memperlihatkannya kepada kekasihnya. Itu pula yang saya rasakan setiap kali memandang lembayung di kejauhan. Rasa-rasanya saya ingin memeluk semua orang yang ada di dekat saya. Dan, ketika saya memandang luruhnya matahari di Labuan Bajo, betapa saya berharap akan kehadiran seseorang.

Sebagai pintu masuk Pulau Flores, Labuan Bajo, semula desa nelayan yang tenang, tak pernah sepi dari hiruk pikuk. Kapal dari berbagai arah mata angin menambatkan diri di sini, pula para pejalan. Labuan Bajo kini terkenal sebagai daerah pesisir yang menawarkan pesona alam yang elok. Bentangan perbukitan cokelat ditingkah awan kebiruan laksana lukisan maestro naturalis.

Tak hanya itu, dari Labuan Bajo pula para pecinta wisata bahari dan budaya dapat singgah untuk menikmati suasana sebelum berpindah ke tujuan lainnya. Namun, Labuan Bajo tak semata persinggahan. Daya tariknya dapat membuat kita betah berlama-lama. Lautan luas, langit berbintang, rasa-rasanya semesta terlihat begitu luhur dari Labuan Bajo.

Maka, wajar saja jika Labuan Bajo menjadi persinggahan utama di Flores. Para penyelam mengabdikan hari-harinya demi menyelami palung-palung terdalam di Laut Flores. Para pejalan dari seluruh dunia berebut untuk menyaksikan komodo, hewan purba yang hanya tinggal di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Komodo bagaikan membuktikan bahwa fabel tentang Dinosaurus sungguh nyata adanya.

Di sepanjang jalan utama Labuan Bajo kemudian berdiri berbagai toko, bar, dan pusat penyelaman ternama. Sekilas mengingatkan pada Gili Trawangan, tetapi lebih sederhana dan tak seramai itu. Labuan Bajo tetap bersahaja. Waktu terasa merambat begitu perlahan di sini. Saya seperti dapat membaca ratusan buku dalam satu hari di sini. Belum apa-apa, ya, saya sudah terpesona.



Saya dan kawan-kawan tiba petang hari, lalu buru-buru menuju Paradise Bar untuk menikmati matahari terbenam. Ritual yang tak boleh terlewatkan bagi pejalan, yang terkadang membuat dilema. Haruskah saya selalu menikmati luruhnya matahari dari balik lensa? Bolehkah saya duduk diam saja menyapa matahari, dan burung-burung yang pulang ke sarang?

labuan bajo
Senja dari balik bugenvil merah jambu
labuan bajo
Labuan Bajo yang hening
labuan bajo
Senja dan sepotong pisang goreng

Saya tentu sangat ingin menikmatinya secara intim, dengan kedua mata saja. Cobalah, sungguh, rasanya akan lebih memesona. Membuatmu bersyukur masih bernapas dan menyaksikan pergantian terang ke gelap. Akan tetapi, saya lalu tergoda, rasanya begitu ingin mengabadikan keindahan itu. Saya teringat pada kalimat Catherine Opie, seorang fotografer asal Ohio, Amerika Serikat, “The biggest cliché in photography is sunrise and sunset.” Ya, saya memang selalu terhipnotis oleh senja. Tapi, apa boleh buat. Saya begitu ingin membingkainya. Demi menunjukkan kepada semua orang, bahwa kalian juga bisa bahagia seperti saya. Kalian juga harus menikmati senja di Labuan Bajo.

Suasana di Paradise Bar menyenangkan. Dengan barisan kursi menghadap langsung ke ufuk Barat. Matahari terlihat gagah menantang, menyilaukan. Di bawah, beberapa perahu nelayan baru berlabuh. Pemuda-pemuda bermain bola voli di pinggir pantai. Anak-anak duduk menonton. Setelah menyesap kopi hitam, juga mencicipi pisang goreng—yang ternyata enak sekali, sepertinya saya terlalu terbawa suasana—saya pun beranjak.




Beberapa kawan pergi lebih dulu, untuk menyaksikan senja dari bawah. Saya pun mengekor, keluar dari bar lalu belok ke jalan setapak di samping. Yang ternyata tidak layak dilewati. Saya kebingungan, tak ada jalan lagi ke bawah. Saya berada di atas bukit, dengan ranting-ranting serta akar tajam menanti apabila saya terjatuh. Tak peduli, dengan mata buram karena tak memakai kacamata, saya turun perlahan. Tangan tergores, tetapi senja begitu menggoda. Saya melompat dan mendarat dengan selamat. Tepat di saat matahari merambat turun. Saya melihat seorang kawan duduk di tanggul, kami pun sama-sama menikmati senja.

labuan bajo
Hangat
labuan bajo
Matahari semakin menyala
labuan bajo
Lautan bagaikan cairan logam
labuan bajo
Supermoon
labuan bajo
Senja luruh seluruh

Ah, bagaimana caranya mengerat senja ini?

 

*) Kutipan dari cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku” karangan Seno Gumira Ajidarma yang terdapat dalam kumpulan cerpen Dunia Sukab (2001).

 

Labuan Bajo adalah kota kelima yang dituju dalam acara Social Media Trip & Gathering 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (www.indonesia.travel). Temukan foto-foto dan video perjalanan ini di Twitter dan Instagram melalui tagar #PesonaIndonesia dan #SaptaNusantara