Euforia, saya rasa, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kegembiraan masyarakat Ternate. Pulau yang termasuk dalam provinsi Maluku Utara ini begitu sumringah menyambut Gerhana Matahari Total. Sebuah fenomena langka yang diperkirakan akan terjadi lagi di Ternate ratusan tahun ke depan. Jangan tanya tentang kebutaan ataupun kiamat akan tiba kepada mereka. Bukan. Gerhana bukan soal itu lagi. Biarkan kejadian itu terkubur pada tahun 1983 saja.

Kini, masyarakat ramai-ramai mendatangi objek wisata di kota yang dapat dikelilingi dalam setengah jam ini. Benteng Kalamata dipenuhi pula oleh wisatawan asing yang mengintai lokasi pengamatan, situasi serupa terlihat di beberapa titik pengamatan lain di pesisir Ternate. Bukan hanya para peneliti asing dan pencinta astronomi yang mampir ke benteng bikinan Portugis yang dahulu bernama Santa Lucia ini, ibu dan anak serta remaja berfoto-foto sambil memandangi tiga gunung di seberang lautan. Hari-hari menjelang Gerhana Matahari Total bagaikan hari pekan yang harus dinikmati semua khalayak. Festival Legu Gam, sebuah perhelatan seni-budaya yang biasanya diadakan pada awal Maret untuk merayakan hari lahir Sultan Ternate ke-48, juga dilangsungkan serempak dengan fenomena Gerhana Matahari Total demi memamerkan budaya Ternate kepada orang banyak.

Maka, semua orang terlihat begitu bersemangat. Saat saya dan kawan-kawan mengunjungi Benteng Tolukko, banyak yang tanpa sungkan menyapa. Tahu bahwa kami tamu di Tanah mereka. Daniel, kawan bule seperjalanan saya sudah terbiasa diajak berswafoto bersama. Begitu pula saya dan Satya, yang dikira turis Jepang. Begitulah, jangan bilang mereka norak. Tidak, itu adalah bukti keramahan mereka, terhadap kami-kami yang mendadak memadati Ternate. Tentu saja, tak ada yang lebih membahagiakan ketimbang disambut baik oleh tuan rumah.

gerhana matahari total
Menjelang gerhana, sebuah pesawat melintas…
gerhana matahari total
Warga sekitar yang menanti gerhana
gerhana matahari total
Teman foto pagi itu, jurnalis dari Jakarta
Turis asing yang memotret gunung di seberang
Turis asing yang memotret ke arah lautan

Ketika Gerhana Matahari Sebagian menampakkan dirinya di langit Ternate pagi ini,  saya turut tenggelam dalam euforia. Benteng Tolukko yang tadinya sepi, hanya ada rombongan saya dan jurnalis dari Jakarta serta beberapa orang yang sudah lengkap dengan peralatannya, tahu-tahu dipenuhi masyarakat sekitar. Semuanya menengadah ke langit. Mereka datang dengan alat segala rupa demi menyaksikan gerhana. Dengan piring Styrofoam yang diberi filter di tengahnya, dengan kacamata ala kadar bikinan sendiri. Saya sempat kasihan, mereka sepertinya tak mendapat kacamata gerhana buatan pemerintah.

Untunglah itu tak mengurangi semangat mereka untuk menyaksikan gerhana. Walaupun di depan benteng, dua orang kakek dari Jepang terlihat sangat profesional merekam Gerhana Matahari Total dengan peralatan canggihnya, tak berarti orang selain mereka tak bisa menikmati fenomena langka ini. Semua orang mesti bergembira hari ini. Ini adalah perayaan alam milik bersama.

Ketika akhirnya sinar matahari terasa begitu tajam di kulit dan mata–saya sudah minggir ke sudut dan tetap terpanggang karena benteng tak beratap ini, mereka bersorak sorai. Beberapa mengajak kami bicara, dan bertanya ini-itu. Mereka selalu berjalan dengan waspada jika melewati tripod kami yang menjulang, tak ingin menganggu. Sungguh, saya terharu.

gerhana matahari total
Gerhana matahari dimulai
gerhana matahari total
Awan agak menutupi
gerhana matahari total
Cantiknya!

Ketika sorak semakin membahana menjelang Gerhana Matahari Total, sekitar pukul 09.53 WIT, saya lantas berdiri mengikuti keramaian. Rasa-rasanya saya begitu ingin memeluk siapa pun di sebelah saya, bahkan semua orang di sana, atas momen langka yang menakjubkan ini. Dua menit memang terasa begitu singkat, dan setelah matahari kembali memancarkan sinarnya dengan sempurna, saya masih terkagum-kagum. Ini bukan sekadar soal gerhana matahari dan segala mitos atau kepercayaan yang melingkupinya. Ini soal kami, para tamu, yang menyambut sebuah fenomena alam bersama sang tuan rumah yang sedang bergembira.



Ah, saya masih gemetar mengingat pesona Gerhana Matahari Total siang tadi.

gerhana matahari total
Dan ini muka kegirangan saya menanti gerhana. (credit: Mahandis Yoanata Thamrin)