Saya sedang mengendusi lengan baju ketika menyusuri sebuah gang tua dan melihat kawan jalan saya, Firsta, asyik berkelakar dengan empat anak laki-laki. Jumat siang itu terik betul, dan tubuh saya bau anak ayam. Kampung Al-Munawar, atau yang dikenal juga Kampung Arab, lengang. Warganya tentu sedang salat Jumat, begitu pula beberapa kawan jalan saya.

Sambil menghalangi sinar matahari dengan tangan, saya menghampiri keriuhan di ujung gang, yang dilatarbelakangi sungai kuning–yang mengingatkan saya pada Sungai Kuning yang menjadi pusat peradaban masyarakat Tiongkok Utara. Sungai Musi tentu menjadi pusat peradaban utama pula di Sumatera Selatan. Terbukti, falsafah hidup masyarakat sangat mengacu pada peradaban air–untuk mudahnya, lihat saja rumah panggung dan transportasi perahu di Palembang.

Ridho, Maliki, Nizom, Bagir. Keempat bocah itu langsung membuat saya terpesona dengan kelakuan konyolnya. “Ayuk* orang apa?” tanya Ridho yang masih berseragam sekolah sambil memasang umpan ke kail, untuk memamerkan keahlian memancingnya. Firsta malah membalas bahwa saya orang Jepang. Saya pun menyapa dengan ‘konichiwa’, yang dibalas dengan bahasa Inggris oleh Ridho, “I miss you“.

Mereka kemudian lupa pada yoyo dan benang pancing di tangan, malah mengikuti saya dan Firsta berjalan ke arah depan kampung. Anak-anak ini bercerita banyak, bagai tak pernah bertemu lawan bicara sama cerewet, mulai dari keseharian di sekolah–yang libur pada hari Jumat dan diisi dengan kegiatan Pramuka, tentang siswi cantik–Nabila, yang katanya pintar pelajaran Akidah, dan pelajaran yang mereka suka: Fikih dan Akidah.



Pintu di salah satu rumah di Al-Munawar
Pintu di salah satu rumah
Di samping Rumah Tinggi, rumah tertua di Al-Munawar
Di samping Rumah Tinggi, rumah tertua di Al-Munawar
Dinding sekolah
Dinding sekolah yang terkelupas
Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar
Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar
Laskar Sungai Musi
Laskar Sungai Musi (credit: @firstadyi)

Sebagai Kampung Arab, Al-Munawar yang terletak di wilayah 13 Ulu kini diusung sebagai destinasi wisata religi oleh Dinas Pariwisata setempat. Irene Camalyn Sinaga, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, berujar demikian. Al-Munawar dijadikan tujuan wisata religi untuk mendukung pariwisata Sungai Musi yang telah dikenal wisatawan mancanegara. Rencananya lima ratus wisatawan Malaysia juga akan berkunjung ke sini, tambah Bu Irene.

Bisa dibilang kampung ini cukup siap menyandang status itu. Masyarakat Al-Munawar sangat terbuka terhadap pengunjung, yang mungkin tak selalu datang dengan tenang, contohnya kami yang berbondong-bondong dan memotret ke segala arah. Mereka menyambut ramah, menjelaskan satu demi satu rumah tua yang berusia lebih dari 300 tahun. Tentang betapa kuatnya kayu-kayu unglen (ulin) yang menyangga rumah mereka.

Ridho dan kawan-kawan pun menemani saya menuju rumah kayu berterali persegi yang berada tepat di depan lapangan sekolah. Beberapa kawan lain sudah berkumpul, di rumah bersejarah ini, rumah Hasan Abdurrahman Al-Munawar, orang Arab yang pertama kali menempati wilayah ini, akan berlangsung Pertunjukan Gambus.

Asal usul Kampung Arab tak lepas dari peran Pemerintah Belanda yang ratusan tahun silam, sekitar tahun 1825, melakukan pendekatan terhadap etnis Arab–begitu pula etnis Tionghoa dan India–dengan menunjuk seorang pemimpin yang kemudian diberi pangkat Kapten. Kapten Arab terakhir di sini bernama Ahmad Al-Munawar yang wafat pada tahun 1970.

Saya memasuki rumah berlantai marmer gelap itu, rasanya begitu sejuk dan nyaman. Setelah meminta izin penghuni rumah, saya berjalan hingga bagian belakang. Rumah ini unik, di tengahnya terdapat lorong besar dengan kamar-kamar berpintu sangat tinggi berada di sisi kanan dan kiri. Jendela-jendela besar membuat udara bertukar dengan lancar. Saya begitu tergoda untuk tidur siang.

Untunglah, Pak Latief, sang pemandu, memanggil untuk makan siang di rumah panggung di sebelah. Ternyata Bu Irene dan beberapa pegawai dinas sudah menunggu, empat hidangan munggahan tersaji rapi. Ini kali kedua saya dijamu makanan yang biasanya dihidangkan pada malam pernikahan, pertama di Rumah Makan Lembaga, sehingga tak asing lagi dengan piring-piring yang melingkar di atas selembar taplak ini. Nasi minyak dengan kari kambing dan gulai ayam serta selado dan acar nanas dan sambal siap disantap.

Kopi ala Kampung Arab
Kopi ala orang Arab
Hidangan munggahan
Hidangan munggahan

Kopi hitam yang dituang dari teko kuningan ke gelas-gelas kecil semakin memperkuat nuansa Arab. Kopi cap Sendok Emas ini nikmat betul diminum sebelum makan atau sesudahnya, bayangkan saja, sepertinya saya minum lebih dari sepuluh gelas. Untunglah Kak Eka dan temannya bersedia dititipi membeli kopi ini. Acara makan siang semakin akrab dengan kehadiran para pemain gambus yang ikut makan dengan lahap.

Ketika para pemain gambus sudah berkumpul, saya dan kawan-kawan duduk rapi di lantai. Gambus adalah alat musik petik serupa mandolin yang berasal dari Timur Tengah, yang biasanya memiliki tiga hingga selusin senar. Pertunjukan gambus diiringi gendang, tabla, dan seruling. Siang itu enam pemain musik melantukan nada-nada yang menggoda badan untuk bergoyang. Dua penari berputar-putar di tengah, semakin lama entakan musik semakin semarak. Kami diajak menari ke tengah. Karena belum puas menari, Kak Cumilebay asyik bergoyang dari tempat duduknya.

Para pemain Gambus
Para pemain Gambus
Penabuh tabla
Penabuh tabla
Pemain seruling
Pemain seruling
Menari penuh semangat
Menari penuh semangat
Senyum manis Ami
Senyum manis Ami

Kami bertepuk tangan heboh saat pertunjukan usai, juga meminta satu lagu lagi. Tak tahu diri memang. Namun, keramahan dan kemeriahan Al-Munawar membuat kita lupa sedang berada di rumah orang yang baru kita kenal beberapa jam. Dua hal inilah rasa-rasanya yang akan membuat orang semakin tertarik mengenal budaya Arab di Palembang. Saya kemudian bertemu ayah Bagir, yang sumringah melihat anaknya bercakap-cakap dengan kami.

Ayuk tinggal di mana?” tanya Ridho begitu saya keluar dari rumah. Hotel, jawab saya sambil mengelus bahunya. Bagir kemudian menyambung dengan polosnya, “Ayuk besok main ke sini lagi?” Ah, saya hanya bisa menjawab dengan senyuman.

Kawan-kawan cilik
Kawan-kawan cilik

Oh iya, tanggal 8-9 Maret nanti Palembang akan mengadakan Festival Gerhana Matahari Total (GMT) yang bertempat di Jembatan Ampera. Selain menyaksikan gerhana matahari total, yang hanya terjadi 350 tahun sekali, pada tanggal 9 Maret, kamu juga bisa menikmati gelar sarapan pagi dan pertunjukan barongsai. Yuk, ke Palembang!

*Ayuk: sebutan untuk kakak dalam Bahasa Palembang.

Referensi:
antaranews.com
infokitonian.blogspot.co.id

Baca juga tulisan kawan seperjalanan tentang Kampung Al-Munawar.

1. Al Munawar: Sweet Hospitality from Maliki and Friends oleh Firsta

2. Kisah Kampung Al Munawar dan Gerhana Matahari Total (GMT) di Palembang oleh Lostpacker

3. Kampung Al-Munawar: Rekam Jejak Arab di Palembang oleh Satya Winnie

4. Al-Munawar, Kampung Arab di Tepian Sungai Musi oleh Wira Nurmansyah

5. Kampung Arab Al-Munawar Siap Menjadi Kampung Wisata di Palembang oleh Kadek Arini

6. Palembang: Lorong Waktu di Kampung Arab Al Munawar oleh Swastika Nohara

7. Solar Eclipse in Palembang Indonesia oleh David Jr