The rain is a symbol of prosperity.”

Suara pembawa acara berkumandang di sela derasnya hujan yang mengguyur Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, beberapa pekan yang lalu. Saya pun berbisik pada Tama, yang hari itu berperan sebagai perwakilan @TravelingID, “Suaranya kayak pembawa acara tinju, ya?” Tama mengangguk sepakat. Suara bapak berkemeja batik biru itu sangat mirip dengan suara pembawa acara tinju yang sering saya tonton bersama ayah setiap hari Minggu di Indosiar bertahun-tahun silam.

***

Minggu pagi, 8 Maret 2015, kijang yang saya tumpangi bersama Tama, Mba Ratri dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Mas Sunyoto sang supir, meluncur cepat melewati lengangnya jalan Kota Semarang. Ini keempat kalinya saya pelesir ke Semarang, dan tetap saja norak setiap kali datang. Saya dan Tama tiba di Stasiun Semarang Tawang malam hari, lalu dengan menggebu-gebu saya mengajaknya berjalan kaki menuju kawasan Kota Lama.



Ternyata malam itu ada pasar seni dadakan di sepanjang jalan di samping Taman Srigunting, dekat Gereja Blenduk. Saya pun melihat-lihat barang-barang antik unik, seperti telepon, radio, gramofon, dan lampu sepeda aneka bentuk. Tak ketinggalan batu akik yang sedang tren.

Di depan taman, terparkir sebuah bus tingkat merah menyala, beberapa orang terlihat asyik duduk sambil bermain dengan telepon pintarnya. Bus itu bernama Semarjawi, yang merupakan bus pariwisata yang mengelilingi Kota Semarang, terutama kawasan Kota Lama, Jalan Pemuda, dan Jalan Imam Bonjol. Untuk informasi lengkapnya, silakan cek di sini. Sayangnya, bus itu sudah tutup. Kami pun lanjut berjalan, menuju Jalan Wot Gandul untuk menikmati Bakmi Jawa Pak Gareng.

***

Selamat Datang di Festival Durian Lolong 2015

Setelah dua jam perjalanan penuh kantuk, kami pun tiba di Kecamatan Karanganyar, disambut oleh Tugu Durian di perempatan jalan. Pertanda bahwa durian memang merupakan ikon kebanggaan wilayah tersebut. Beberapa polisi terlihat berjaga di sebuah jalan kecil, di samping spanduk bertuliskan Festival Durian Lolong 2015 dan gapura bertuliskan Desa Kabalong, singkatan dari Karanggondang, Limbangan, dan Lolong. Kami pun berbelok ke sana dengan riang.

Ini pertama kalinya saya menginjak Desa Lolong, dan terkejut karena di sepanjang jalan dipenuhi oleh pohon durian yang kokoh menjulang. Beberapa bahkan masih dihiasi oleh durian-durian muda di dahannya, bagaikan hiasan pada Pohon Natal. Saya pun teringat pohon durian yang sering saya lihat di Berastagi dan Pulau Samosir.

Kemeriahan Festival Durian Lolong 2015 sudah terlihat dari pintu masuk menuju desa, barisan pedagang sibuk memamerkan durian unggulannya. Saya semakin tergoda untuk menikmati durian yang terkenal di seantero Jawa ini.

Festival Durian Lolong 2015 merupakan ajang tahunan yang keenam di Desa Lolong. Festival ini diadakan untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi Desa Lolong, yaitu buah durian, dan panorama alam yang indah sebagai satu paket destinasi wisata, yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Acara ini juga bertujuan mempromosikan keunggulan produk pertanian dan perkebunan di desa-desa sekitar.

image
Peserta Festival Durian Lolong 2015 membawa arak-arakan durian Lolong
image
Tumpeng Durian juga dihiasi hasil bumi lainnya
image
Seorang ibu peserta festival membawa durian Lolong
image
Kuda Lumping kekinian
image
Parade musik angklung persembahan warga setempat

Ebiet G. Ade dan Jembatan Batu Desa Lolong

Mendekati area festival yang berada di pinggir sungai, di dekat Jembatan Batu Lengkung yang terkenal sebagai sumber inspirasi lagu Ebiet G. Ade yang berjudul “Lolong” (tahun lalu Ebiet G. Ade spesial diundang ke festival ini dan menandatangani prasasti di ujung jembatan), masyarakat sudah ramai berkumpul. Peserta festival dari berbagai kecamatan di Pekalongan, seperti Kandangserang, Paninggaran, Petungkriyono, Lebakbarang, Talun, Kajen, dan Bojong, sudah siap dengan kostum unik dan arak-arakan tumpeng durian beserta hasil pertanian lainnya, seperti rambutan, manggis, pisang, dan petai.

Arak-arakan durian dari berbagai desa itu diiringi tarian dan musik, seperti angklung, kuda lumping, dangdut, marching band, dan lain-lain. Para pengunjung pun berebutan mengikuti arak-arakan dan berfoto-foto dengan durian. Sebagai pecinta berat durian, tak sabar rasanya saya ingin mencicipi durian Lolong yang digotong-gotong itu. Durian Lolong memang terkenal sebagai varietas unggulan dan banyak jenisnya, antara lain durian kunir, susu, kepolo, petruk, dan ketan. Cita rasanya pun khas, ada yang legit, manis, getir, lembut, padat, dan lain-lain.

Panorama dari jembatan batu Desa Lolong sangatlah indah, di bawah mengalir deras sungai yang juga menjadi tujuan wisata arung jeram. Area Festival Durian Lolong pun terlihat dari sini. Setelah puas menikmati suasana, saya menuju area utama festival. Ternyata terlambat, area sudah dipenuhi pengunjung, untuk menyelip pun sangat sulit. Saya ngotot turun karena tak ingin ketinggalan seremoni pembukaan Festival Durian Lolong 2015.

image
Memotret jembatan batu Desa Lolong dari kejauhan
image
Jembatan batu yang dihiasi janur kuning

Duta Besar Lima Negara Turut Hadir

Ketika Bapak Solehudin, Bupati Pekalongan, menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih atas kehadiran para Duta Besar negara tetangga, yaitu Afganistan, Mongolia, Ekuador, Libia, dan Kazakhstan, dan pengharapan agar acara ini dapat membawa berkah dan kesejahteraan bagi masyarakat Pekalongan, hujan pun tumpah dengan derasnya. Para pengunjung dan peserta festival berhamburan mencari tempat berteduh. Namun, semangat panitia dan peserta tak gentar. Acara terus berlangsung.

Penduduk setempat menampilkan kesenian tradisional berupa drama yang menyimbolkan proses panen di desa yang dilanda kegagalan karena hama. Pengunjung pun kembali melingkari area festival, menyaksikan suguhan seni tersebut. Acara kemudian berjalan cepat, dilanjutkan peresmian Festival Durian Lolong 2015 oleh Bupati Pekalongan. Tumpeng Durian raksasa dibuka sebagai penanda peresmian acara. Setelah itu, para juri yang terdiri dari pejabat Pekalongan dan Jawa Tengah beserta para Dubes, mencicipi satu demi satu durian dari 30 peserta lomba durian terbaik.

Sayangnya, ketika penjurian berlangsung, hujan deras kembali mengguyur. Saya dan Tama terbirit-birit menuju tenda para undangan. Kami menumpang di dekat meja Pak Trenggono, Kepala Bidang Pemasaran Dinbudpar Jawa Tengah, yang telah mengundang kami ke sini. Tiba-tiba beliau membawakan sebutir durian untuk saya, yang diambil dari durian yang dilombakan, dan saya pun kegirangan.

Sambil menunggu hujan, para undangan disuguhi oleh durian-durian peserta lomba. Say kebagian mencicipi, dan terkejut. Ternyata rasa durian Lolong sangat enak, sesuai favorit saya, manis-getir. Semua tamu pun berebut menikmati durian Lolong, termasuk para Dubes. Saya kira selama ini durian Medan dan Samosir adalah yang terbaik, ternyata durian Lolong pun tak kalah nikmat.

image
Duta Besar dari lima negara tetangga
image
Tumpeng Durian raksasa dibuka sebagai peresmian Festival Durian Lolong 2015
image
Para panitia berfoto di depan Tumpeng Durian
image
Pengunjung berebut selfie dengan Bupati Pekalongan

Dari Rakyat untuk Rakyat

Karena hujan tak kunjung reda, panitia mengumumkan pemenang lomba di tengah derai hujan. Juara 1 diraih oleh Rasdani dari Desa Lemah Abang-Kecamatan Doro, Juara 2 adalah Naksir dari Desa Kalirejo-Kecamatan Talun, dan juara 3 adalah Siswoyo dari Desa Lemah Abang-Kecamatan Doro. Sementara itu, Juara Favorit berhasil diraih oleh Naksir, yang juga mendapat juara kedua. Untuk Tumpeng Durian Terbaik dimenangkan oleh Kecamatan Karanganyar.

Setelah pengumuman usai, durian yang dilombakan boleh dinikmati pengunjung. Kehebohan pun tak terelakkan, ratusan orang berlarian menembus hujan demi durian Lolong. Tumpeng Durian raksasa yang dibuat oleh panitia juga ludes. Saya hanya bisa ngiler memandangi dari tenda karena hujan begitu deras, saya agak flu dan tak ingin kuyup.

Para undangan ikut heboh menyaksikan keseruan para pengunjung. Ada yang berujar, “Benar-benar dari rakyat untuk rakyat, mereka sampai hujan-hujanan demi durian mereka.” Sang pembawa acara yang sejak awal saya amati, karena bahasa Inggrisnya yang sangat harfiah, meraih mikrofon, “Durian Lolong Festival, from the people to the people!” Saya tersenyum mendengar suaranya yang sensasional.

Para pengunjung pun memadati area festival karena ada hiburan musik dangdut. Di sepanjang jalan saya mengamati orang-orang yang membawa berikat-ikat durian. Melihat semangat masyarakat setempat dan antusiasme pengunjung—terbukti kami terjebak macet lebih dari dua jam saat keluar desa karena ramainya pengunjung, saya yakin festival tahunan ini akan semakin dikenal hingga ke daerah luar. Semoga terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama menyoal publikasi. Saat saya googling tentang Festival Durian Lolong, ternyata sedikit sekali informasi yang tersedia.

image
Pengumuman pemenang lomba durian terbaik di tengah hujan
image
Hiburan dangdut pada akhir acara

Saat menuju tempat parkir, Mba Ratri dan Mas Sunyoto terlihat sibuk memborong durian. Saya pun tak mau kalah. Sambil memilih durian, Ibu pedagang yang baik hati terus membelah durian untuk saya cicipi. Ukuran dan warna kulit bukanlah patokan, ada durian kecil namun sangat nikmat, ada pula yang masih hijau namun sudah matang.

Harga durian di sini sangat mudah ditawar, mulai dari Rp10.000-50.000, tergantung ukuran. Semua saya cicipi, dari yang kecil hingga besar. Tak lupa, saya membungkus beberapa untuk dibawa ke Jakarta. Alhasil, di perjalanan pulang ke Semarang, kami mabuk durian karena aroma durian di mobil.

image
Durian Lolong yang dijajakan di sepanjang jalan
image
Kegirangan memilih durian Lolong
image
Dipilih-dipilih! *malah kayak yang jualan*
image
Durian Lolong yang montok

P.S.: Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang telah mengundang saya ke Semarang dan Pekalongan, terutama untuk Pak Trenggono selaku Kepala Bidang Pemasaran, Pak Imam Sapuji selaku Kepala Seksi Sarana Pemasaran, Mba Ratri, dan Mas Sunyoto serta Pak Gandi selaku staf Bidang Pariwisata dari Dinas Pariwisata Kota Pekalongan.

 

Photos: Me & @tamagraph