Selalu ada legenda di balik kemunculan sebuah tempat. Ya, terutama di Indonesia. Kita mengenal legenda seperti kita mengenal kerutan di ujung mata ibu kita. Legenda sudah menjadi suguhan wajib semenjak kita duduk di bangku Sekolah Dasar, setidaknya bagi siswa sekolah negeri seperti saya pada tahun 1990-an.

Saya ingat, ketika pertama kali pindah ke Jakarta dan masuk sekolah tak jauh dari rumah, saya rajin ke perpustakaan. Bukan hanya karena belum memiliki teman dan sering diledek karena logat Medan saya—yang mana memang benar, melainkan saya memang senang membaca buku.

Perpustakaan itu dipenuhi buku-buku cerita tipis sumbangan pemerintah, yang kebanyakan adalah legenda atau lebih dikenal sebagai cerita rakyat. Menurut KBBI, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Begitulah, masa kecil saya pun diwarnai cerita rakyat dari Jakarta, cerita rakyat dari Jawa Barat, cerita rakyat dari Sumatera Utara, dan lain-lain.

Saya pun mengenal kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi di balik kemunculan Tangkuban Perahu, yang sebenarnya tak terlalu asyik dibaca anak SD karena bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada ibunya sendiri. Lalu, berayah anjing. Dipukul dengan batok kelapa pula kepalanya.

Bagaimanapun, betapa tak masuk akal atau ajaibnya cerita-cerita itu, orang Indonesia memiliki formula serupa untuk setiap daerah di Nusantara. Kehadiran legenda itu tak jelas asal usulnya, diceriterakan turun-menurun, menjadi tradisi lisan kebanggaan setiap daerah. Yang akhirnya saya pelajari kembali dalam mata kuliah Sastra Lisan di kampus.

Pada masa kini, kehadiran legenda itu diangkat kembali sebagai daya tarik wisata suatu tempat. Menurut saya sah-sah saja, malah sangat bagus. Saya jamin, anak-anak sekolah sekarang belum tentu menemukan cerita-cerita rakyat itu di perpustakaan mereka. Mungkin saja dibahas sekilas dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi apakah mereka mengingat cerita itu?

Legenda dan objek wisata pun menjadi pasangan serasi, seperti Dewi Perssik yang mengombinasikan rok mini dengan stoking jaring-jaring beberapa tahun silam saat ditanya oleh wartawan mengapa ia mengenakan busana seksi sementara suaminya (kala itu Saiful Jamil) sedang umrah. Legenda sebuah objek wisata mungkin dianggap sepele atau tak menarik, tetapi bagi orang lain bisa sangat menggugah dan menginspirasi.



Maka, saya hendak menyampaikan sebuah legenda yang saya dengar saat mengunjungi sebuah pantai di wilayah Lombok Tengah. Pantai Seger. Yang terletak tak jauh dari Pantai Kuta Lombok, masih berada di satu garis pantai, sekitar dua kilometer ke Timur. Saya menginap di wilayah Pantai Kuta yang berjarak lima belas menit dari Pantai Seger dengan sepeda motor. Jalan menuju pantai ini sempit dan lumayan mulus, dengan semak-semak menjulur ke aspal.

Jalan dikelilingi perbukitan di Pantai Seger
Jalan dikelilingi perbukitan di Pantai Seger
Pantai Seger dilihat dari atas bukit
Pantai Seger dilihat dari atas bukit
Pantai Seger di balik bukit menghijau
Hijau di musim hujan
Panorama pantai di sisi lain dari bukit
Panorama pantai di sisi lain dari bukit
Lepas pantai yang dipenuhi batu karang
Lepas pantai yang dipenuhi batu karang
Rasanya ingin sekali bergolek-golek di sini
Rasanya ingin sekali bergolek-golek di sini

Seperti pantai-pantai lainnya di wilayah Lombok Tengah, Pantai Seger dikelilingi bukit menghijau yang memukau. Pantai ini terbuka untuk umum, sepeda motor atau mobil cukup membayar biaya parkir di dekat pintu masuk yang dibatasi portal. Saya dan teman piknik saya pun menelusuri jalan berkerikil yang agak becek. Di sebelah kanan terlihat jembatan bambu dan jalur air yang berkelok-kelok seperti akar pohon. Pagi itu air rupanya sedang surut dan batu karang menyembul di mana-mana.

Kami memilih berbelok ke kiri, disambut dua bukit menjulang. Di bukit sebelah kanan terlihat para tamu Novotel Resort yang menyantap sarapan di sebuah pondok terbuka, dengan pemandangan yang sangat cantik. Tentu saja kami tidak mendaki ke sana. Kami menaiki bukit di sisi kanan, berpapasan dengan pria tua berambut pirang yang sedang joging di bukit.




***

Setiap tahun, sekitar bulan Februari, biasanya masyarakat setempat mengadakan ritual Bau Nyale di Pantai Seger. Bau Nyale, yang dalam bahasa Sasak berarti berburu cacing laut, merupakan ritual penghormatan terhadap Putri Mandalika. Lalu, apa kaitannya antara cacing laut dan seorang putri bernama Mandalika?

Menurut legenda, Mandalika adalah seorang putri dari kerajaan yang pernah berkuasa di Lombok. Selain berwajah cantik, putri ini dikenal baik budi. Banyak pangeran jatuh cinta padanya dan berebut meminangnya. Seperti cerita-cerita penaklukan putri cantik lainnya, para pangeran itu rela menumpahkan darah demi mendapatkan sang putri.

Putri Mandalika yang tak sampai hati melihat hal itu memilih terjun ke laut. Orang-orang pun berusaha mencari jasadnya, tetapi yang ditemukan hanyalah hewan laut sejenis cacing yang kemudian diberi nama Nyale. Mereka pun meyakini bahwa Nyale adalah jelmaan Putri Mandalika.

Sebuah monumen dibangun di Pantai Seger untuk menghormati kepergian Putri Mandalika. Dan sebuah ritual diadakan setiap tahun untuk menangkap Nyale.

***

Tanah yang saya pijak terasa licin karena gerimis. Tak perlu upaya keras untuk mencapai bukit, sepuluh menit kemudian Pantai Seger terhampar di antara perbukitan hijau. Tak perlu ditanyakan bagaimana perasaan saya saat itu.

Sayangnya, pagi itu kami tak benar-benar membawa tikar atau alas untuk piknik. Cuaca dari hari sebelumnya memang berawan, dengan rintik-rintik yang jatuh semaunya. Namun, santai sejenak di bukit itu, baik untuk memotret atau sekadar menikmati panorama, masihlah dapat dilakukan.

Saya dan teman piknik saya
Saya dan teman piknik saya
Menikmati suasana di bukit
Menikmati suasana di bukit
Bahagia walaupun kulit gosong karena dua minggu berkeliling pantai
Bahagia walaupun kulit gosong
Jembatan bambu menuju pinggir pantai
Jembatan bambu menuju pinggir pantai
Monumen Putri Mandalika di kala laut surut
Monumen Putri Mandalika

Setelah puas memandang Pantai Seger yang menyegarkan, kami turun. Tak ada satu orang pun di pantai. Tak ada yang berenang, tak ada yang berjemur, tak ada yang berselancar. Pantai yang terkenal sebagai tempat surfing idaman turis asing karena ombaknya yang besar ini seakan-akan sedang kami sewa untuk berdua saja. Saya pun melangkah pergi sambil menatap punggung Putri Mandalika yang dikejar oleh para pemujanya.

 

Photos: me & @tamagraph