Berseluncur main ski, menikmati danau vulkanik, dan melayang di atas pegunungan salju. Semua bisa ditemukan di musim semi.

Saat saya, Yuki Anggia Putri, berkunjung ke Jepang pada musim semi di bulan Mei, keinginan untuk menikmati salju terasa mustahil. Hingga akhirnya saya menemukan informasi tentang Japan Alpine Tour atau yang lebih dikenal dengan Tateyama Kurobe Alpine Route. Di bulan April dan Mei, kita bisa menyaksikan salju bertumpuk hingga dua puluh meter di sepanjang perjalanan menuju Gunung Tateyama.

 

Menyusuri Dinding Es

Pada abad ke-17 hingga 19, Gunung Tateyama dianggap sebagai salah satu dari tiga gunung suci di Jepang, bersama Gunung Fuji dan Gunung Hakusan. Banyak peziarah menyambangi gunung vulkanik ini karena menganggap puncaknya sebagai simbol surga. Pada abad ke-19, barulah masyarakat umum mendaki gunung ini karena pesona keindahannya.

Rute Tateyama Kurobe Alpine selesai dibangun pada tahun 1971 dan menghubungkan dua kota, yaitu Toyama dan Omachi, dan membentang di sepanjang Northern Japan Alps. Rute ini diklaim sebagai situs wisata yang paling ekologis di dunia karena menggunakan kendaraan bertenaga listrik yang ramah lingkungan. Kendaraan pribadi dilarang melewati rute ini.

DSC_0134
Suasana jalan menuju Murodo
Shomyo Falls (350 m), air terjun tertinggi di Jepang
Shomyo Falls (350 m), air terjun tertinggi di Jepang

Pada musim dingin kawasan ini mengalami hujan salju yang ekstrem dan suhu yang sangat rendah. Hal itu disebabkan oleh gelombang udara dingin dari Siberia yang bertiup menuju Jepang dan menyerap kelembapan Laut Jepang. Kemudian, udara dingin tersebut berkumpul di pegunungan di sepanjang Laut Jepang dan menciptakan hujan salju yang deras. Tiap tahun tur pegunungan es ini hanya dibuka dari bulan April hingga November.



Saya bertolak ke Toyama dari Tokyo. Ada dua cara untuk ke sana, dengan JR Trains dan bus ekspres. JR Trains lebih mahal (one-way ticket 12.000 yen atau Rp1,3 juta) karena lebih cepat (3 jam 30 menit). Karena punya banyak waktu, saya memilih Bus Willer Express yang hanya bisa dibeli secara online. Saya membeli bus pass seharga 12.000 yen untuk empat kali perjalanan. Jika dihitung, saya membayar 6.000 yen (Rp677.000) untuk pulang-pergi Toyama. Lebih hemat hingga 4 kali lipat dibandingkan naik kereta. Di Tokyo, bus ini memiliki terminal dan kita bebas memilih berangkat dari mana.

Bus malam tipe Relax yang saya tumpangi berangkat tepat tengah malam. Busnya sungguh nyaman. Jendela tertutup gorden tebal, kursi memiliki sandaran kaki, dan kanopi untuk menutupi kepala penumpang. Selimut juga disediakan. Saya langsung terlelap begitu bus melaju. Bus tiba di Stasiun Toyama sekitar pukul 6 pagi. Suasana Toyama di hari Minggu itu sangat sepi. Hujan rintik-rintik membuat udara makin dingin.

Perjalanan menuju Tateyama kurang-lebih 40 menit dari stasiun, dengan tiket 1.170 yen (Rp132.000). Saya memilih bangku di samping jendela. Benar saja, panorama di sepanjang perjalanan sungguh memukau. Awalnya kita disuguhi area sawah dan perumahan khas Jepang, lalu hutan pinus yang menjulang dan perbukitan dengan pepohonan rimbun.




Tiba di Tateyama, saya naik cable car menuju Bijodaira. Jarak tempuh hanya 7 menit dan tiketnya 700 yen (Rp79.000). Di sini kita bisa menikmati panorama formasi bebatuan unik Zaimoku-ishi. Dari Bijodaira menuju Murodo, perjalanan dilanjutkan dengan highland bus. Perlu dicatat bahwa semua stasiun dalam rute ini memiliki jadwal yang sudah ditentukan. Jadi, kita harus pintar-pintar mengalokasikan waktu di tiap tempat yang disinggahi.

Antrean highland bus di Stasiun Bijodaira
Antrean highland bus di Stasiun Bijodaira
Jalan menuju Tateyama yang serba putiiiiih
Jalan menuju Tateyama yang serba putih

Di bulan April-Mei, bus akan melewati Tateyama Snow Corridor atau Yuki no Otani. Inilah saah satu objek yang membuat saya ingin ke Tateyama. Snow Corridor sepanjang 500 meter ini tidak selalu dibuka untuk umum, tergantung kondisi cuaca. Tembok salju setinggi hingga 20 meter di kanan-kiri jalan terlihat sangat menakjubkan. Saya seperti sedang berada di dunia es!

Yuki no Otani di Murodo

Hangat di antara Es

Mereka yang ingin memuaskan hati bermain ski disarankan untuk menginap di Hotel Tateyama yang gedungnya terhubung dengan Stasiun Murodo. Ini adalah hotel yang berada di lokasi tertinggi di Jepang, dengan harga per malam mulai dari 19.000 yen (Rp2,1 juta).
Daya tarik utama daerah Murodo ini adalah jejeran puncak gunung yang sangat indah dengan ketinggian di atas 2.000 meter. Pegunungan yang merupakan bagian dari Chubu Sangaku National Park ini menyediakan area yang sangat luas dan aman bagi pecinta ski dan snowboarding.

Ada banyak jalur ski yang populer di sini, antara lain Yamazaki Col, Raicho Sawa, Jodosan, dan Masago Dake Route. Sebenarnya ada pondok-pondok dan area perkemahan di sekitar gunung, tapi menurut saya lebih nyaman menginap di hotel karena udara di luar sangat dingin.

hotel tateyama, hotel tertinggi di jepang
Hotel Tateyama
Pengunjung asyik main ski

Saat pertama kali melihat, mungkin sulit membedakan gunung atau jalurnya. Tapi, kalau ada orang yang sedang bermain ski, kita bisa langsung nimbrung, tanpa menghalangi atau mengganggu jalur ski orang lain. Kita pun tak perlu membayar tiket masuk karena wilayah ini memang bukan resor ski.

Di Murodo juga terdapat satwa khas Tateyama yang termasuk dalam Special National Treasure, yaitu Raicho (Ptarmigan). Burung khas gunung es ini bentuknya mirip ayam dan sering muncul di bulan Mei dan Juni. Sayangnya, saya tidak menemukannya. Saya hanya melihatnya bertengger di toko suvenir berupa boneka dan gantungan kunci.

Raicho and I posed together!
Raicho and I posed together!

Jika terus berjalan, kita akan menemukan Danau Mikurigaike. Di musim semi, danau kawah vulkanik ini membeku dan menyisakan sedikit air kebiruan yang cemerlang. Di sini juga terdapat Mikurigaike Onsen, pemandian air panas tertinggi di Jepang yang mendapatkan sumber airnya dari Jigokudani (Hell Valley) yang terletak di bawahnya. Jigokudani adalah sebuah kawah yang mengeluarkan belerang dan gas vulkanik lainnya.

danau mikurigaike yang membeku
Danau Mikurigaike yang membeku
DSC_0285
Di belakang saya adalah Jigokudani
jigokudani (hell valley) dilihat dari atas
Kawah Belerang Jigokudani
DSC_0274
Es saljuuuuu!!!
DSC_0822
In my favorite place on earth

Tadinya tersedia jalur pejalan kaki di sini, tetapi ditutup sejak tahun 2013 karena mengeluarkan gas beracun. Jadi, jangan heran bila airnya agak keruh dan beraroma belerang. Tiket masuk onsen ini 600 yen, pria dan wanita dipisah. Sambil berendam menghangatkan diri, kita bisa menikmati panorama dari balik jendela.

Udara dingin memang selalu membuat perut keroncongan. Saya pun keliling stasiun mencari makanan. Ada satu restoran yang menarik, di mana pengunjungnya harus makan sambil berdiri, tidak ada kursi. Restoran semcam ini banyak ditemukan di Jepang dan biasanya menawarkan harga yang lebih murah daripada restoran biasa. Karena pegal, saya beralih ke kedai bakpau kacang merah untuk bersantai dan mengamati orang yang sedang bersiap-siap dengan perlengkapan ski.

Setelah dua bakpau hangat nan lezat tandas, saya melangkahkan kaki kembali menuju area pegunungan. Saya terpukau oleh panorama pegunungan es bak lukisan itu. hamparan Kristal es yang diterpa sinar matahari pun tampak berkilauan. Karena terlalu bersemangat, saya buru-buru menginjakkan kaki ke salju yang lembut, hingga kaki saya jeblos ke dalam salju hingga sebetis. Untung saja saya memakai boots!

sepasang pengunjung tateyama
Kakek-nenek romantis <3

Melayang-layang di Atas Gunung

Dari Murodo, kita bisa menaiki trolley bus yang melewati terowongan menuju Daikanbo yang berjarak tempuh 10 menit. Di lantai atas statiun ini terdapat observation deck menghadap ke Gunung Kashimayarigatake (2.889 m), dan Danau Kurobe yang menakjubkan. Berhati-hatilah saat menaiki tangga karena agak basah dan licin akibat lelehan salju.

Dari Daikanbo, kita bisa melayang-layang dengan kereta gantung (ropeway) sejauh 1,7 kilometer yang beroperasi tanpa menara penyangga di bawahnya. Meskipun rutenya terjauh di Jepang, tujuh menit perjalanannya terasa terlalu singkat. Sampai di Kurobedaira, saya menaiki cable car menembus punggung Gunung Tateyama menuju Stasiun Kurobeko.

DSC_0188-edit
*ehem ehem*
panorama dari Daikanbo
Panorama dari observation deck di Daikanbo
kurobe dam
Kurobe Dam: bendungan tertinggi di Jepang

Dari stasiun bawah tanah yang temaram dan lembap ini, pengunjung harus berjalan untuk sampai di jembatan Kurobe Dam yang memiliki ketinggian 186 meter. Ketika melihat cahaya di ujung jalan, bendungan yang megah pun terlihat. Di sebelah kanan terlihat Danau Kurobe yang tenang. Jika berkunjung di bulan Juni hingga November, kita bisa mengikuti Lake Kurobe Cruise Ship. Di ujung bendungan ini terdapat Stasiun Kanden Tunnel Trolley Bus yang akan mengantar pengunjung menembus perut Gunung Akasawadake menuju Ogizawa.

 

Tips:
• Kalau hanya ingin bermain ski, beli tiket sampai Murodo saja (total 2.540 yen, Rp287.000). Untuk Full Traverse-1 Way rute Stasiun Tateyama-Ogizawa, tiketnya 8.060 yen (Rp910.000). Untuk Round Trip Stasiun Tateyama-Kurobe Dam, tiketnya 10.490 yen (Rp1,2 juta). Ini lebih hemat daripada membeli tiket satuan di tiap stasiun. Tiket terusan bisa dibeli di Stasiun Tateyama (terima kartu kredit) atau reservasi via website (www.alpen-route.com/en/).

• Datanglah dari pagi hari agar tidak perlu berdesak-desakan di stasiun, apalagi di Golden Week (tahun ini jatuh pada tanggal 29 April dan 3-6 Mei), akhir minggu, atau liburan musim panas. Tahun ini, tur buka pada 16 April-30 November. Snow Corridor di Murodo buka pada 16 April-22 Juni.

• Kenakan mantel tebal untuk menahan suhu dingin, jangan lupa jaket waterproof atau payung karena di wilayah ini sering turun gerimis. Kenakan boots karet atau sepatu gunung yang nyaman. Kacamata hitam juga perlu dibawa karena sinar matahari yang terpantul di salju akan menyilaukan mata.

• Bawalah termos air hangat dan obat-obatan pribadi kalau-kalau Anda tiba-tiba merasa tidak enak badan.

• Jika membawa anak kecil, selalu awasi mereka, jangan sampai berlarian seorang diri. Sebab, lokasi di beberapa stasiun sangat tinggi dan licin. Anda juga boleh memakai stroller. Sayangnya, belum tersedia ruang menyusui di tiap stasiun. Bawalah botol ASIP atau hubungi petugas jika Anda ingin menyusui bayi.

 

*As published in FEMINA Magazine No. 24 (June 2014) Issues.